Judul asli:
Final Warning
Telah Memiliki Hak Cipta
V. T. HOUTEFF
Agar setiap orang yang berhaus akan kebenaran
dapat memperolehnya, maka buku-buku kecil ini disebarkan dengan cuma-cuma. Hanya satu permohonan yang dimintanya, yaitu setiap jiwa wajib memeriksa segala perkara dan berpegang teguh pada mana yang baik. Hanya benang-benang
untaian keemasan Eden dan tali-tali pengikat Golgota yang berwarna darah -- ikatan-ikatan yang mengikat itu yang merupakan pita pengikat buku
gratis yang kecil ini.
TRAKTAT NO. 5
Dicetak di Jakarta
1INDEKS
Halaman
CATATAN DARI PEWAHYU –
Tambal Sulam Terhadap Kata-Kata Injil ........ 10 Membuka Jalan Supaya Berdosa Melawan
Apakah Yohanes Melihat Dengan Tepat ....... 18 Nyonya White Tidak Pernah Mengatakan
Ketidak-konsistenan Yang Mencolok ............ 40 Mengapa Ia Membiarkan Kesalahan-
Simbolis Ataukah Nyata — Yang Mana? ...... 48
TROMPET YANG PERTAMA –
TROMPET YANG KEDUA –
TROMPET YANG KETIGA –
TROMPET YANG KEEMPAT – 2 Bulan Dan Bintang-Bintang Yang
Menghindari Kekeliruan-Kekeliruan
Allah Dapat Saja Memalu, Tetapi
TROMPET YANG KELIMA –
“Anak Kunci dari Lubang Yang
“Lubang Yang Tak Terduga
Asap, Kegelapan, dan Belalang-Belalang ... 115 Senang Mati, Tetapi Tidak Mungkin ............ 142 TROMPET YANG KEENAM – Wahyu 9 : 13
PERISTIWA-PERISTIWA YANG AKAN JADI MENJELANG TROMPET YANG
TROMPET YANG KETUJUH –
3TUJUH TROMPET
CATATAN DARI PEWAHYU
Pasal 8, ayat 6 – 13. “Maka tujuh ma-laikat yang memegang tujuh trompet itu mempersiapkan diri untuk meniup. Ma-laikat pertama membunyikan trompet-nya, lalu terjadilah hujan air beku dan api yang bercampur dengan darah, maka sekaliannya itu dicampakkan ke bumi : maka terbakarlah sepertiga bagian dari pohon-pohon kayu, dan terbakarlah se-mua rumput hijau.”
“Maka malaikat yang kedua membu-nyikan trompetnya, lalu jadilah seolah-olah sebuah gunung besar terbakar de-ngan api dicampakkan ke dalam laut : maka sepertiga bagian laut itu menjadi darah; dan sepertiga bagian dari segala mahluk yang bernyawa di laut itu mati-lah; dan binasalah sepertiga dari segala kapal.”
4“Maka malaikat yang ketiga membu-nyikan trompetnya, lalu jatuhlah dari langit sebuah bintang besar, yang ber-nyala-nyala bagaikan sebuah pelita, dan bintang itu menimpa sepertiga dari sega-la sungai, dan menimpa segala mata air; dan nama bintang itu disebut Afsantin (Warmwood) : maka sepertiga dari segala air menjadi afsantin (warmwood); dan banyak orang mati karena air itu, oleh sebab air itu sudah menjadi pahit.”
“Maka malaikat yang keempat mem-bunyikan trompetnya, lalu sepertiga dari matahari dipalu, dan sepertiga dari bulan, dan sepertiga dari segala bintang-bintang, demikianlah genap sepertiganya itu, dan supaya tiada terang sepertiga dari siang hari, dan malampun demikian.”
“Maka aku tampak, dan ku dengar seorang malaikat terbang di tengah-te-ngah langit, sambil mengatakan dengan suara besar, Celaka, celaka, celaka bagi semua penduduk bumi oleh sebab bunyi trompet-trompet dari ketiga malaikat yang lainnya itu, yang masih akan meniup!”
5Pasal 9, ayat 1 – 4. “Maka malaikat yang kelima membunyikan trompetnya, dan aku tampak sebuah bintang jatuh dari langit ke bumi : dan kepadanya telah diberikan anak kunci dari lubang yang tak terduga dalamnya itu. Maka ia pun membuka pintu lubang yang tak terduga dalamnya itu; dan naiklah keluar asap dari dalam lubang itu, seperti asap dari sebuah tanur yang besar; sehingga mata-hari dan udara menjadi gelap oleh sebab asap lubang itu. Lalu keluarlah dari asap itu belalang-belalang ke atas bumi : dan kepada mereka telah dikaruniakan kuasa, seperti kuasa kalajengking-kalajengking di bumi. Maka telah diperintahkan kepa-da mereka bahwa mereka tidak boleh me-rusakkan rumput di bumi, juga sesuatu tumbuhan hijau, ataupun sesuatu pohon kayu; melainkan hanya orang-orang yang tiada memiliki meterai Allah pada dahi mereka.”
Ayat 13 – 19. “Maka malaikat yang keenam itu membunyikan trompetnya, lalu aku dengar suatu suara dari keem-pat tanduk dari medzbah keemasan yang 6 berada di hadapan hadirat Allah, menga-takan kepada malaikat yang keenam itu : Lepaskanlah empat malaikat yang terikat di sungai Efrat yang besar itu. Maka le-paslah keempat malaikat itu, yang sudah bersiap-siap untuk sejam, dan sehari, dan sebulan, dan setahun, untuk membunuh sepertiga bagian dari manusia. Adapun banyaknya tentara yang berkuda itu dua ratus juta : dan aku dengar jumlah me-reka itu. Dan demikianlah aku melihat kuda-kuda itu dalam khayal, dan mereka yang menungganginya, yang memakai baju besi dari api, dan dari benda yang berwarna biru, dan belerang : dan kepala kuda-kuda itu bagaikan kepala-kepala singa; dan dari mulut kuda-kuda itu keluar api dan asap dan belerang. Oleh ketiga inilah sepertiga bagian manusia dibunuh, oleh api, dan oleh asap, dan oleh belerang, yang keluar dari mulut kuda-kuda itu. Karena kuasa segala kuda itu ada di dalam mulutnya, dan di dalam ekornya : karena ekor-ekornya itu adalah seperti ular-ular, yang berkepala, maka dengannya itulah mereka menyakiti.”
7Semenjak Yohanes mencatat simbolisasi yang menentukan ini, sejarah gereja pada seluruh lembarannya telah berulang kali mencatat bahwa setiap usaha yang te-
4 lah dibuat untuk memecahkan rahasianya telah gagal, bahkan lebih mempersulitnya dengan paham yang aneh dan membingungkan. Sebab itu, adalah perlu, untuk menjernihkan paham yang aneh ini, pertama sekali mencari
Sebab Dari Kekacauan Itu.
Dari kenyataan bahwa sembilan belas abad lamanya penyelidikan terhadap masalah ini untuk mengungkapkannya ternyata hanya makin mempersulit untuk menembusinya, adalah suatu bukti kuat bahwa Allah sendiri yang mengawasi Injil itu dan mengungkapkannya hanya pada waktu yang ditentukan-Nya. Kebenaran dari pernyataan ini adalah disimpulkan dalam kata-kata malaikat itu yang berbunyi : “Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang tercatat di dalam Injil kebenaran : 8 maka tak seorangpun yang membantu-ku dalam segala perkara ini, terkecuali Mikhael Penghulumu.” Daniel 10 : 21.
Dan “apabila Ia, Roh Kebenaran itu datang”, demikian kata Kristus, dalam pernyataan-Nya yang lebih luas dari hal kebenaran yang sama ini, “Ia akan memim-pin kamu kepada seluruh kebenaran.”
Karena telah dikemukakan sebelum masanya dan tanpa didorong oleh Roh Kebenaran, maka sebab itulah usaha-usaha manusia telah gagal untuk menemukan dan menjelaskan kebenaran dari hal “trompettrompet itu.” Dan tak ada satupun Injil pernah diungkapkan tanpa bantuan Ilham, maka sebab itu semua sajian yang berasal dari pikiran-pikiran yang tidak diilhami ialah hasil interpretasi sendiri, terhadap yang sedemikian inilah Alkitab mengamarkan : “..... tak ada satupun nubuatan dari Injil yang datang dari akal orang sendiri.” 2
Dengan demikian sebelum seseorang dapat menaiki tangga Kebenaran, ia per- 9 tama sekali harus membebaskan dirinya dari teori-teori yang keliru yang telah mengikatnya dalam kegelapan. Dan untuk melepaskan dirinya dari kekeliruan-kekeliruan yang sedemikian ini supaya ia mencapai anak tangga yang tertinggi dari tangga kebenaran itu, maka ia harus menyelidiki dengan seksama dan “memeriksa segala perkara” dengan
Pikiran Yang Tidak Terikat.
“Janganlah membaca firman dengan menggunakan terang dari pendapat-pen- dapat yang terdahulu; melainkan, dengan suatu pikiran yang bebas dari keragu- raguan, selidikilah dengan seksama dan dengan penuh doa. Jikalau, sementara anda membaca, keyakinan timbul, lalu ter- lihat oleh anda bahwa pendapat-penda- patmu yang dipegang ternyata tidak se- suai dengan Firman itu, maka janganlah mencoba-coba membuat Firman itu supaya cocok dengan pendapat-pendapatmu. Ber- usahalah menyesuaikan semua pendapat- 10 mu dengan firman itu. Janganlah membiar- kan apa yang telah anda percaya atau la- kukan sebelumnya untuk menguasai pe- ngertianmu.” Messages to Young People, p. 260.
Kebutuhan yang utama ini secara mendesak menantang orang-orang yang cenderung untuk menerima, sebagai kebenaran-kebenaran Alkitab yang tak dapat dibantah, teori-teori yang berasal dari hasil
Tambal Sulam Terhadap Kata-
Kata Injil.
Setiap penjelasan terhadap sesuatu nubuatan yang menambahkan atau mengurangi dari sesuatu bagian Injil yang berkaitan untuk membuat interpretasi itu sesuai, hanya akan menjadi keliru. Apabila Roh Allah menginterpretasikan Alkitab, Ia dengan cara apapun juga tidak perlu merubah sesuatu bagian dari Alkitab untuk membuat penjelasan itu cocok dengan apa yang sedang diungkapkan. Selanjutnya bilamana interpretasi yang benar dari 11 sesuatu nubuatan dibuat, ia itu selalu mengandung sesuatu pelajaran mengenai kebenaran sekarang “yang disesuaikan bagi kebutuhan-kebutuhan umat Allah” (The Great Controversy, p. 609) pada masa Injil itu diungkapkan. Karena mengetahui akan hal ini, maka Setan senantiasa
Membuka Jalan Supaya Berdosa
Melawan Rohulkudus.
Tidak seorang pun sesat karena mempercayai sesuatu interpretasi nubuatan yang salah sebelum kebenarannya di ungkapkan, asalkan interpretasi yang salah itu tidak menariknya keluar dari sesuatu kebenaran yang lain. Tetapi bagaimanapun, orang-orang yang sedemikian ini, berada dalam bahaya besar, sebab sebagaimana diungkapkan oleh sejarah, mereka yang terlibat sedemikian ini dalam kekeliruan, sedikit sekali yang mau rela merendahkan dirinya untuk meninggalkan kekeliruankekeliruannya lalu menyambut kebenaran apabila ia itu diberitahukan. Akibatnya 12 mereka senantiasa berada dalam bahaya berdosa melawan Roh Kudus. Dan karena benar-benar sadar akan hal ini, Setan lalu menginterpretasikan nubuatan-nubuatan itu secara keliru mendahului pengungkapannya yang berasal dari Tuhan sendiri. Ia sepenuhnya sadar bahwa karena banyak orang, tidak rela diperbaiki dan menggantikan kekeliruan mereka dengan kebenaran yang diungkapkan, maka mereka kelak dibawa kepada kebinasaan yang kekal. Oleh sebab itu, segala-galanya yang penting, adalah perlu sekali agar siswa kebenaran mengukuhkan dirinya dengan penuh kejujuran dan kerendahan hati sementara terang kebenaran itu kini kembali menyorot pada
Teori-Teori Populer.
Untuk memulainya, kami mohon perhatian pembaca diarahkan kepada buku dari Pendeta Uriah Smith, yang aslinya berjudul Thoughts on Daniel and the Re-velation, dan kemudian menjadi Daniel 13 and the Revelation, dimana telah dijelaskan antara lain, masalah mengenai “tujuh trompet itu”. Di sini orang akan mengetahui bahwa Pendeta Smith bukanlah penulis yang asli dari penyajian tujuh trompet itu. Sumber tulisan-tulisan itu adalah berasal dari Tuan-Tuan Keith, Clark, Barnes dan lain-lain. Pendeta Smith mengatakan : “Sejauh ini Keith telah menyajikan kepada kita ilustrasi-ilustrasi mengenai peniupan dari lima trompet yang pertama.” Daniel and The Revelation, p. 506.
Kemudian selanjutnya di dalam pasal yang sama, dan dalam penjelasan mengenai Wahyu 9 : 17 kita baca : “Karena orang- orang Turki itu menembakkan senjata- senjata api mereka sambil menunggang kuda, maka ia itu tampak oleh orang yang melihat dari jauh, bahwa api, asap, dan belerang itu keluar dari mulut-mulut kuda, seperti yang dilukiskan oleh gambar yang berikut.” -- S.D.A, p. 510. “Menurut perkiraan Barnes inilah kasusnya”, demikian kata pendeta Smith, “dan sebuah penegasan dari Gibbon menguatkan pen- dapat ini.” -- S.D.A, p. 510, footnote.
14Dengan demikian jelaslah, bahwa interpretasi dari tujuh trompet, seperti yang terdapat di dalam Thoughts on Daniel and The Revelation bukanlah berasal dari Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Tetapi pengakuan mereka dan pengukuhan mereka akan buku itu membuatnya terlihat bagaikan doktrin dari Masehi Advent Hari Ketujuh. Dengan lain perkataan, teori-teori dari orang-orang yang tidak diilhami itu karena memperoleh cap pengakuan dari Masehi Advent Hari Ketujuh, telah diperlihatkan kepada para anggota Masehi Advent Hari Ketujuh, sebagai ajaran-ajaran Alkitab yang murni dari Masehi Advent Hari Ketujuh. Ini akan menunjukkan bahwa sebagian besar orang-orang Masehi Advent Hari Ketujuh, langsung bersama- 8 sama dengan orang-orang lainnya, tidak lagi menanyakan : “Apakah itu benar, — sesuai dengan firman Allah? Melainkan, Oleh siapakah itu diajarkan?” -- Testimo-nies to Ministers, p. 106. Maka jika teori itu datang melalui saluran yang resmi, sebagaimana biasanya mereka akan langsung menyambutnya tanpa ragu-ragu!
15Suatu contoh yang nyata ialah ketidakraguan mereka menyambut manipulasimanipulasi yang sedemikian ini sambil membenarkan “kepala-kepala singa-singa itu” (dalam lambang Wahyu 9 : 17) sebagai kepala-kepala dari kuda-kuda Arab, dan ekor-ekor yang menyerupai ular (Wahyu 9 : 19), sebagai ekor-ekor kuda biasa (sebagaimana terbukti dari gambar yang disertakan) dengan maksud untuk mengkaitkan trompet-trompet itu dengan peperangan dari orang-orang Turki!
Tetapi bahkan lebih berbahaya lagi, yaitu mereka tanpa ragu-ragu menyetujui bahwa “api”, “asap”, dan “belerang” itu bukannya keluar dari mulut-mulut yang menyerupai singa, seperti yang disaksikan oleh Yohanes, melainkan sebaliknya keluar dari senjata yang berada di dalam tangan orang Turki.
Penyambutan mereka akan hasil tambal sulam terhadap Tulisan Suci itu, yaitu suatu perbuatan yang dikutuk oleh Injil (Wahyu 22 : 18, 19), menunjukkan bahwa mereka telah menjadi korban dari suatu 16 khayal yang salah, yang membuat mereka mengira dirinya benar padahal mereka semua keliru. (Testimonies, vol. 3, pp. 252, 253).

Dan lagi, penyetujuan mereka terhadap praktek yang sedemikian itu, mengacaukan iman pada Alkitab, sebab jika sekiranya Pewahyu keliru dalam hal yang satu, maka iapun dapat saja salah dalam hal yang lainnya. Dan jikalau kita tidak dapat lagi bergantung pada buku Wahyu sesuai yang terbaca, maka bagaimanakah dapat 9 kita menaruh harap pada sesuatu yang ada di dalam Alkitab? Dan jikalau sekiranya nabi-nabi yang diilhamipun tidak dapat menyatakan kebenaran yang pasti mengenai apa yang telah mereka lihat, maka bagaimanakah mungkin para pelajar tulisantulisan mereka itu yang tidak diilhami dapat menyatakannya? Sebab itu, barang-
10 siapa yang belajar “untuk menjawab setiap orang yang menanyakan.... suatu alasan pengharapan yang ada di dalam’’ (1 Petrus 3 : 15) mereka, mereka tidak akan sukar untuk menjawab pertanyaan :
18Apakah Yohanes Melihat Dengan
Tepat?
Benar, peramal dari Patmos itu adalah seorang manusia biasa yang bersifat salah seperti kita, namun yang mendiktekan tulisan-tulisannya itu — yaitu Aku yang hebat dan yang tak mungkin salah, Pengawas dan Pembaca Alkitab Yang Teruji — berada di sana menyaksikannya agar Yohanes mencatat dengan setia apa yang telah disaksikannya, karena kebenaran yang tepat dari simbol itu berarti nasib hidup kita. Sesungguhnya, adalah tidak mungkin, bahwa Tuhan hendak membahayakan keselamatan kita oleh memperlihatkan simbol itu sedemikian jauh terpisah dari penglihatan Yohanes sehingga ia tidak dapat melihat dengan tepat dan mencatatnya, lalu juga ingin menyelamatkan kita olehnya.
Kalau saja Yohanes telah gagal melihat dengan tepat simbol itu dalam khayal, seperti yang dijelaskan dengan sedemikian indahnya oleh orang-orang yang disangka terpelajar dan berpengalaman ini, maka 19 tidakkah itu juga berarti, bahwa Allah tidak mengacuhkan apakah Ia mengungkapkan kebenaran dengan cara yang menyesatkan atau tidak, yang mana adalah penting bagi keselamatan kita? Jika tidak, dan jika Yohanes memang keliru, maka mengapakah Allah tidak mengoreksi dia? Apakah tidak mungkin bagi-Nya di sini untuk mengoreksi nabi-Nya?
Pewahyu mengatakan: “Malaikat yang kedua itu menuangkan cawannya ke laut; maka laut itupun berubah menjadi seperti darah orang mati : maka matilah setiap mahluk yang hidup di dalam laut
11
Kalau saja Yohanes tidak dapat melihat dengan tepat di mana “api”, “asap”, dan “belerang” itu keluar seperti yang disangka orang, maka bagaimanakah dapat ia melihat seperti yang dikatakannya dalam kata-kata yang diucapkan di atas, bahwa “setiap” makhluk mati di dasar laut? Keadaan manakah yang lebih sukar untuk dilihat dengan tepat?
20Penerimaan dan penyajian hasil-hasil interpretasi seperti ini adalah bukti yang nyata bahwa kini terdapat kegelapan yang pekat sekali menyelubungi seluruh sidang, yang menyelubungi baik para anggota maupun para pengawal yang mengakui diri mereka sebagai “tua-tua yang berpengalaman” yang disebut di dalam Testi-monies, vol. 5, p. 293, dan yang dibentangkan di dalam Traktat No. 4, “Berita-Berita Terakhir Bagi Ibu.” Orang-orang ini, walaupun “di dalam Firman disebut sa- ngat tidak mampu”, seperti terlihat pada penjelasan-penjelasan terdahulu, mereka melarang agar apa saja yang baru yang mereka belum melihat terangnya, supaya tidak disajikan ke hadapan umat. Dan walaupun nyata, bahwa pembatasan-pembatasan yang sama sekali tidak sah dan menggelapkan itu telah diciptakan untuk tetap mempertahankan seluruh umat dalam kekeliruan-kekeliruan mereka, para anggota bagaimanapun juga menyambutnya tanpa ragu-ragu, lalu meninggikan orang-orang yang menciptakannya itu sebagai bijaksana dan sahabat-sahabat 21 yang sejati. Dan semua orang yang tidak mau terikat oleh pembatasan-pembatasan yang sedemikian itu lalu “dibuang keluar” (Yesaya 66 : 5), sebaliknya orang banyak yang tidak mempercayai Roh Nubuat tetap dipertahankan, dan orang banyak lainnya yang sama-sama tidak percaya disambut sebagai anggota oleh pengesahan umum. Demikianlah kembali dipraktekkan dosa orang-orang Yahudi yang mencolok itu, yang telah diucapkan oleh Juruselamat dengan kata-kata-Nya yang menusuk : “Oleh sebab itu jika terang yang ada di 12 dalammu itu menjadi gelap, maka alang-kah besarnya kegelapan itu!” Matius 6 : 23.
Roh Nubuat mengatakan, bahwa “mu- suh itu sedang bersiap-siap bagi kampa- nyenya yang terakhir melawan sidang. Ia sedemikian rupa menyembunyikan dirinya dari pandangan sehingga banyak orang hampir-hampir tidak dapat percaya bah- wa ia ada, bahkan mereka hampir-hampir tidak dapat menyadari akan aktivitas dan kuasanya yang mengagumkan itu. Kebanyakan mereka telah melupakan 22 catatan masa lalunya, sehingga apabila ia membuat suatu gerakan maju yang lain lagi, maka mereka tidak mengenalinya se- bagai musuh mereka, yaitu ular tua itu, melainkan mereka akan menganggapnya sebagai teman, yaitu seseorang yang se- dang melakukan perbuatan yang baik.” Testimonies vol. 5, p. 294.
Oh, alangkah besarnya kegelapan yang telah menyelubungi umat! Maukah anda sekalian, saudara-saudariku, duduk tenang dengan bebas, lalu mengamati bagaimana musuh itu menjerumuskan mereka dalam keadaan buta ke dalam neraka? Tuhan berfirman : “Akulah Yesus yang telah mengutus malaikat-Ku untuk me-nyampaikan kepadamu segala perkara ini di dalam sidang-sidang. Akulah akar dan benih dari Daud, dan Bintang Fajar yang gilang-gemilang itu.” Wahyu 22 : 16. Kemudian Ia menambahkan lagi pernyataan yang menakutkan : “Karena Aku mem-buktikan kepada setiap orang yang men-dengarkan kata-kata nubuatan dari kitab ini, jika seseorang kelak menambahkan sesuatu kepada segala perkara ini, maka 23 Allah akan menambahkan kepadanya be-la-bela yang ada tersurat dalam kitab ini : dan jika seseorang kelak mengurangkan dari kata-kata kitab nubuatan ini, maka Allah akan mengeluarkan bagiannya dari Buku Kehidupan, dan dari Kota Suci itu, dan dari segala perkara yang ada tersurat di dalam kitab ini.” Wahyu 22 : 18, 19.
13
Sekarang, jika Yohanes telah gagal dalam tugasnya, dan Injil itupun benar telah ditulis dengan tidak sempurna sehingga uraian-uraian itu yang diperiksa di sini akan mendorong seseorang untuk menyimpulkan sedemikian itu, maka bagaimanakah Kristus akan berani mendesak kita, dengan ancaman hukuman yang sedemikian menakutkan, supaya jangan merusak Firman Allah yang suci? Karena jika Yohanes telah keliru dalam apa yang ditulisnya, maka binasalah kita. Dan jika kita merubah sedikit saja tulisan-tulisannya, juga binasalah kita! Jadi bagaimana? Apakah Injil itu direncanakan bagi kebinasaan kita sebagai gantinya keselamatan kita? Dijauhkan kiranya pikiran ini! Katakata Yesus yang tak berubah itu yang baru 24 disebut di atas, memastikan bahwa kitab- Nya adalah sempurna, dan bahwa Kitab itu tidak perlu dirubah oleh siapapun juga.
Walaupun demikian, secara bertentangan, justru orang-orang yang biasanya terlibat dalam praktek merubah-rubah Injil itulah, yang paling keras bicaranya menganjurkan orang supaya berhati-hati untuk tidak terjerat oleh ajaran yang palsu. Dan, untuk menunjang pembicaraan mereka, maka mereka dengan sangat hati-hati menjauhkan dirinya dari apa saja yang baru yang bukan datang dari pihak mereka. Dengan demikian mereka tidak pernah dapat sembuh dari kebutaan mereka yang parah itu sampai mereka mulai berusaha mencarikan “salep mata” (ilham), seperti juga akan emas, karena hanya terang baru yang dapat membuka mata mereka, menelanjangi kesalahan-kesalahan mereka, dan membujuk mereka kepada kebenaran. Walaupun demikian, Setan, tahu benar bahwa penglihatan mereka akan segera pulih kembali jika mereka datang dengan hati terbuka kepada terang, maka ia mengisi mereka dengan keragu- 25 raguan untuk menjauhkan mereka dari usaha penyelidikan pribadi yang bebas terhadap kebenaran-kebenaran yang sudah dibukakan.
Demikianlah halnya anggota-anggota sidang yang “suam” tidak mengatur langkahnya mengikuti terang, dan sebagai akibatnya telah tertinggal di belakang dalam setiap kemajuan terang. Sebaliknya orang-orang yang merasa tidak puas terhadap tingkat penerangan milik mereka, yaitu mereka yang “benar-benar panas” atau “dingin”, terus berbaris maju bersama-sama dengan kebenaran sekarang dari generasi ke generasi.
Oleh sebab itu, jangan pernah kebenaran yang serius ini dilupakan, bahwa belum pernah pada sesuatu masa sidang Allah telah dihantarkan sesat oleh karena menyelidiki kebenaran-kebenaran baru yang mengetuk pada pintu-pintunya, yang meminta ijin masuk. Sebaliknya ia banyak sekali telah dibiarkan dalam kegelapan karena sebab kelambanan, keacuhan, dan prasangka dalam penyelidikannya untuk 26 mencari tahu apakah benar yang disebut ”ajaran-ajaran aneh” itu dari Allah datangnya. Maka dengan sedih harus diakui, bahwa keadaan yang sama sekarang ada dengan sidang kita.
Roh Kebenaran menegaskan : “Kita harus jauh lebih waspada terhadap yang dari dalam daripada yang dari luar. Peng- halang-penghalang terhadap kekuatan dan keberhasilan adalah jauh lebih besar datang dari sidang sendiri daripada yang datang dari dunia.” Christ Our Righteous-
Sekarang, seperti halnya di masa lalu, para pemimpin sidang dan para pendeta sedang berteriak-teriak menentang setiap penambahan terang, dan sedang menghalang-halangi umat dari terang itu. Pada waktu yang sama, mereka juga sedang memberi makan kawanan domba dengan kepalsuan-kepalsuan yang diselimuti kebenaran sehingga domba-domba mati secara rohani.
“Makanan yang sedang disediakan 15 bagi kawanan domba itu akan menimbul- kan penyakit rohani, kemerosotan, dan kematian. Apabila orang-orang yang mengaku percaya kebenaran sekarang menyadari, apabila mereka menyambut Firman Allah itu sebagaimana yang ter- baca, apabila mereka tidak mencoba me- maksakan kemauannya atas Injil, maka mereka akan membawa keluar dari per- bendaharaan hati perkara-perkara yang baru maupun lama, untuk menguatkan diri mereka sendiri berikut orang lain bagi siapa mereka bekerja.” Review and Herald, vol. 78, No. 25, Tuesday, June 18, 1901. (Lihat juga Early Writings, p. 62).
Walaupun demikian, karena perbuatan yang benar sedemikian ini bukan yang dikehendakinya, maka Setan bekerja dengan tak henti-hentinya untuk menghalanginya. Dan begitu hebat penipuan-penipuannya, sehingga “kambing-kambing” yang berada di antara “domba-domba” itu secara tak sadar dan bahkan bertentangan dengan kepentingan-kepentingan hidup kekal mereka sendiri, mereka telah menyerahkan dirinya untuk dijadikan alat untuk me- 16 nyelesaikan rencana-rencananya yang mematikan itu.
Judul asli dari bukunya Pendeta Smith itu, Thoughts on Daniel and The Revela- tion (Pemikiran-Pemikiran Terhadap Bu- ku Daniel dan Buku Wahyu) mengakuinya sebagai tidak sengaja dan dengan ikhlas telah menulis buku itu. Perkataan, “Pemikiran-Pemikiran”, menunjukkan suatu pendapat, suatu teori, bukan suatu kebenaran yang mutlak, memperlihatkan bahwa ia hanya mempromosikan buku itu kepada para pembacanya untuk apa saja isinya yang berkenan kepada mereka. Tentunya, ini dilakukannya khusus dengan pengertian bahwa pada saat “gulungan suratan terbuka” (Testimonies, vol, 6. p. 17), apabila tulisan-tulisan Daniel dan Yohanes Pewahyu itu kelak diterangi, maka pembaca akan merubah “pemikiran-pemikiran“-nya kepada kebenaran, jika sekiranya ia keliru, sebagai pengikut Kristus yang sederhana pernah lakukan.
Tetapi, di luar dugaan dari maksud penulis yang sederhana ini, organisasi gereja 29 telah menghilangkan dari buku-buku terbitan berikutnya kata-kata “pemikiranpemikiran” itu, yaitu perkataan yang pertama dari judul aslinya. Dan sekarang beberapa dari para pemimpin mencoba membuat kita percaya bahwa kepada Ny. White telah ditunjukkan bahwa seorang malaikat sedang mengendalikan tangan Pendeta Smith sewaktu ia sementara menyusun kembali teori-teori dari orangorang yang tidak diilhami itu! Kemudian adalah jelas sekali bahwa walaupun sebagian besar buku itu adalah tidak seimbang dengan Injil yang terakhir, namun para penguasa buku itu lebih suka memiliki kesalahan-kesalahan itu dengan biaya berapapun juga — bahkan dengan mengorbankan kebenaran sekalipun. Memang demikianlah mereka menjunjung tinggi hasil-hasil pemikiran manusia, dan mereka menguatkannya sebagai memiliki pemeteraian Ilham, sambil mereka mengurangi ketepatan dari buku Wahyu itu, sehingga menunjukkan bahwa Setan adalah satu-satunya yang telah mengendalikan mereka ke dalam pemikiran yang 30 sedemikian ini.
Lagi pula, sementara di satu pihak para komentator ini mengaku lebih banyak mengetahui khayal Yohanes itu daripada Yohanes sendiri, maka di lain pihak para penguasa yang menguasai tulisan-tulisan Uriah Smith inipun bertindak seolah-olah mereka mengetahui lebih banyak dari hal pengalamannya dengan Ilham daripada yang dialami Uriah Smith sendiri, karena ia tidak pernah mengaku dirinya diilhami, sebaliknya mereka menegaskan bahwa ia diilhami. Maka sekarang karena rasul Yohanes, Pendeta Smith, dan Ny. White telah meninggal dan tidak lagi mampu untuk membela diri, maka orang banyak yang hidup sekarang, yang tidur di bawah selimut dosa-dosanya, mereka tidak akan mampu untuk mengetahui jerat-jerat Iblis itu. Alangkah indahnya pelajaran ini supaya kita berpegang pada nasehat Tuhan, supaya berharap kepada Firman- Nya sampai kepada “sebuah titik atau sebuah noktah” (Matius 5 : 18), dan jika perlu jangan mempercayai setiap orang berdosa. (Yesaya 2 : 22).
31Jika mereka yang memiliki terang besar itu, dan yang mengaku “memelihara hukum-hukum Allah, dan berpegang pada iman Yesus”, berani memperlakukan Alkitab dan Roh Nubuat sedemikian ini, maka anehkah, jika terdapat sedemikian banyak keragu-raguan terhadap Injil yang diilhami dan terdapat hampir tak terhitung banyaknya hasil-hasil interpretasi terhadap Injil itu?
Perbuatan kita sebagai orang-orang Masehi Advent Hari Ketujuh adalah tepat sekali menggenapi nubuatan yang menentang orang-orang Laodikea, dengan demikian secara tak terelakkan kita dicap sebagai umat itu. Oleh sebab itu marilah kita mengakui dosa-dosa kita, lalu dengan senang hati menyambut nasehat dari Bapa yang berbunyi : “Karena katamu, aku kaya, dan telah bertambah kekayaanku, sehingga tidak memerlukan apa-apa lagi; padahal tidak engkau ketahui bahwa engkau adalah malang, dan sengsara, dan miskin, dan buta, dan bertelanjang : Aku menasehatkan kepadamu supaya mem-beli kepada-Ku emas yang sudah teruji 32 di dalam api, supaya engkau kaya; dan pakaian putih, supaya engkau dapat ber-pakaian, dan supaya tidak nampak malu ketelanjanganmu itu; dan supaya meng-obati matamu dengan salep mata, supaya engkau dapat melihat.” Wahyu 3 : 17, 18. Dengan matanya yang diobati sedemikian ini, maka orang yang menyelidiki kebenaran akan kelak menemukan bahwa
Nyonya White Tidak Pernah
Mengatakan Buku Itu Diilhami.
Setiap keragu-raguan yang masih ada mengenai apakah Nyonya White tidak mengatakan dan tidak mungkin mengatakan bahwa buku Thoughts on Daniel and The Revelation itu diilhami, akan selengkapnya lenyap jika surat Pendeta Arthur L. 18 White berikut ini diikuti:
“Di antara pengerja-pengerja kita yang lebih tua terdapat sejumlah orang yang telah mengira bahwa Ny. White telah menulis kata-kata yang menguatkan, bahwa ia telah melihat dalam khayal seorang ma- 33 laikat berdiri di sisi Pendeta Uriah Smith, membantunya sementara ia menulis buku yang dimaksudkan di atas. Tetapi, suatu penyelidikan yang seksama terhadap simpanan-simpanan naskah tulisannya yang dilakukan telah gagal untuk mengungkapkan pernyataan yang sedemikian itu di antara tulisan-tulisannya, maka kami percaya bahwa tidak ada satupun pernyataan sedemikian itu yang dicetak.... Pendeta A. C. Bordeau, beberapa tahun lalu mengeluarkan pernyataan berikut ini :
“’Beberapa tahun lalu sewaktu Pendeta Uriah Smith almarhum sementara menulis “Thoughts on Daniel and The Revelation”, Pendeta James White dan Ellen G. White masih ada di rumah saya di Enosburg,Vt., mereka telah menerima dari pos sebuah gulungan lembaran-lembaran cetak percobaan mengenai “Thoughts on Revelation” yang dikirim oleh Sdr. Smith kepada mereka. Saudara White membaca beberapa bagian dari tulisan-tulisan ini kepada rombongan itu, lalu menyatakan sangat gembira dan puas karena semuanya itu telah ditulis dengan begitu padat dan 34 jelas. Kemudian Sister White menegaskan tentang apa yang telah ditunjukkan kepadanya, sebagai berikut :
“Tuhan sedang mengilhami saudara Smith — membimbing pikirannya oleh Roh-Nya, dan seorang malaikat sedang mengendalikan tangannya menuliskan ‘Thoughts on Daniel and The Revelation’ ini.”
“Saya waktu itu hadir sewaktu katakata ini diucapkan.”
“(Tertanda) A. C. Bordeau.”
19
“Dalam memperkirakan secara seksama kata-kata yang dikeluarkan oleh Ny. White seperti yang dikemukakan oleh Pendeta Bordeau”, berkenan dengan itu Pendeta Arthur White menyatakan : “orang harus ingat bahwa sejumlah tahun sudah berlalu di antara peristiwa yang bersangkutan itu dan ceritanya. Kita tidak mungkin akan terus percaya bahwa Ny. White bermaksud untuk mengemukakan 35 pendapatnya bahwa Pendeta Smith telah diilhami sedemikian rupa sehingga tulisan-tulisannya sama sekali tidak keliru.”
* * *
“Pendeta W. C. White menyaksikan, bahwa ia adalah hadir pada waktu Pendeta Smith diminta untuk melakukan tiga puluh delapan pembetulan di dalam edisi yang terdahulu dari buku Thoughts on Daniel and The Revelation itu, tetapi walaupun ini diketahuinya semangatnya tidak hilang untuk menjualkan buku yang indah ini.”
* * *
“Kadangkala, bilamana diminta untuk memikirkan sesuatu pemecahan nubuatan, .... maka saudara-saudara kita menolak memberikan suatu kesempatan untuk 36 mendengarkan dan mereka secara keliru membenarkan tindakan mereka dengan mengatakan bahwa Ny. White telah mencap buku ini dengan pengesahan Ilahi. Pendirian seperti ini adalah bertentangan dengan akal sehat dan tulisan-tulisan Kesaksian.”
Dalam membubuhkan tanggung jawab bagi ucapan-ucapan yang disebut di atas, maka surat itu diakhiri dengan kata-kata berikut : “Pernyataan dibuat oleh W. C. White dan A. L. White, Kantor Elmshaven, St. Helena, California, 22 February 1934.”
Dari hal apa yang tidak konsisten dikatakan oleh dokumen ini mengenai penjualan buku itu, saudara-saudara kita 20 sekali lagi tampaknya tidak begitu awas karena mereka berusaha membuat kita percaya seperti mereka terhadap apa yang mereka pegang dan ajarkan kepada umum. Perhatikanlah apa yang dikatakannya : “..... tetapi pengetahuan akan hal ini (kesalahan-kesalahan ini) sama sekali tidak menghilangkan semangatnya (semangat dari W. C. White) demi penjualan buku 37 yang indah ini!” Pengakuan yang lebih jelas dari kebutaan seseorang, secara mental, benar-benar sukar bagi orang untuk mempersiapkannya dengan sengaja.
Walaupun demikian, bukan saja Pendeta Smith adalah tidak diilhami, tetapi juga ajaran-ajarannya adalah langsung bertentangan dengan apa yang ditunjukkan kepada Ny. White dalam khayal, ini dapat disaksikan dari penegasan berikut ini dari suatu terbitan Masehi Advent Hari Ketujuh yang mula-mula :
“Aku tampak”, demikian kata Ny. White, “bahwa semua orang yang tidak mau menerima tanda dari Binatang, dan dari Patungnya, pada dahi-dahi mereka atau pada tangan-tangannya, tidak dapat berjual-beli (Wahyu 13 : 15 - 17). Aku tampak bahwa angka bilangan (666) dari patung binatang itu (binatang bertanduk dua dari ayat 11) adalah dipersiapkan; dan bahwa itulah binatang (binatang bertan- duk sepuluh dari ayat 1) yang mengganti- kan Sabat, dan patung binatang itu (bina- 38 tang bertanduk dua) telah mengikuti dia, dan telah memelihara Sabat kepunyaan Paus, dan bukan Sabat kepunyaan Allah.” -- A Word To The Little Flock, p. 19.
Berlawanan dengan gambaran karunia dari sorga ini, maka Thoughts on Daniel Revelation mengaplikasikan and The angka bilangan “666” itu kepada Paus. Dari sini dapat kita lihat bahwa Pendeta Smith 21 tidak memperoleh Ilham yang sama yang telah mengendalikan Sister White. Walaupun sebagai pengikut Nyonya White ia (Pendeta Smith) adalah dipengaruhi olehnya, namun bukunya menunjukkan bahwa ia juga dipengaruhi oleh tulisantulisan dari penulis-penulis yang tidak diilhami. Karena berisikan ajaran-ajaran dari tulisan-tulisannya dan juga dari tulisan-tulisan mereka yang tidak diilhami itu, maka buku itu, dengan sendirinya adalah suatu campuran kebenaran dan kepalsuan.
Tetapi yang sangat tidak dapat dimaafkan dari segala-galanya ialah bahwa para pemimpin telah mengesampingkan sama sekali khayal yang diilhami mengenai 39 angka bilangan 666 itu (Wahyu 13 : 18), dan sebagai gantinya mereka dengan hampir suara bulat telah menyambut kebiasaan-kebiasaan dan teori-teori manusia ini. Hasilnya yang menyedihkan ialah bahwa mereka telah menjadi buta terhadap terang, mendurhaka melawan Roh Kristus, dan akibatnya menjadi hamba-hamba yang tidak patut, yang tidak pantas dan tidak mampu sebagai pemimpin-pemimpin dari umat-Nya. Tetapipun, bersamaan dengan itu, mereka terus maju sambil dengan perasaan puas meyakini dirinya bahwa mereka adalah “tua-tua yang berpengalaman”, yaitu satu-satunya yang mampu melakukan penyelidikan dan memutuskan apakah pekabaran-pekabaran yang mendatangi umat itu berasal dari Allah atau tidak! Suatu kesombongan kekuasaan yang tidak seorangpun berhak untuk melakukan bagi dirinya sendiri, inilah benih kelaliman dari sifat mementingkan diri dan
Ketidak–konsistenan Yang
Mencolok.
40
“Sekarang saya banyak memikirkan dari hal Nyonya White dan tulisan-tulisannya”, demikian kata seseorang pendeta MAHK membuka bicara di dalam salah satu pertemuan kita di California, dalam usaha mengalihkan keyakinan salah seorang saudara dari tulisan-tulisan Sister White. Ia selanjutnya mengatakan, 22 “Sekalian itu saya baca bagi diri saya sendiri, tetapi dari apa yang telah ku tunjukkan kepada anda, tidak seorang pun baik dari orang-orang General Conference, maupun Nyonya White sendiri, ataupun siapa saja yang lainnya memikirkan dia dengan serius, mereka hanya mengambil apa yang sesuai dengan keperluannya lalu membiarkan saja yang lainnya”.
Sementara pejabat-pejabat MAHK memecat orang-orang yang menerima buku Tongkat Gembala dari keanggotaan gereja mereka, karena anggapan bahwa ia itu berlawanan dengan tulisan-tulisan Sister White, maka mereka mengabaikan saja pernyataan sembunyi-sembunyi seperti salah satu yang tersebut di atas, lalu membiarkan orangnya, sambil menerima gaji- 41 nya, terus melanjutkan pekerjaannya yang tidak suci itu. Kalau saja mereka itu jujur dalam tindakannya memecat para penganut buku-buku Tongkat Gembala, maka mereka tidak akan pernah mempertahankan dan menunjang para pendeta yang secara terang-terangan telah mengajar dan menulis menentang tulisan-tulisan Sister White. Mereka tentunya sudah akan memecat mereka itu pertama sekali.
Lagi pula, jika pendeta yang disebutkan di atas itu benar tulisannya mengenai orang-orang General Conference, maka bagi mereka untuk memecat seseorang karena menyelidiki buku-buku Tongkat Gembala, atas alasan palsu bahwa ia itu bertentangan dengan tulisan-tulisan dari Sister White, lalu bersamaan dengan itu tetap mempertahankan dirinya (dalam ketidak-percayaan terhadap tulisan-tulisannya) dalam jabatan, sedikit-dikitnya menunjukkan ketidak-konsistenan yang sangat mencolok. Atau kalaupun ia sedang menuduh mereka itu (orang-orang General Conference itu) secara palsu, maka bagi mereka untuk mempertahankannya dalam 42 kedudukannya itupun adalah merupakan suatu ketidak-konsistenan yang lebih aneh lagi.
Tindakan-tindakan dari rombongan yang terbesar itu sepenuhnya membuktikan pengakuan yang tegas yang dikemukakan di sini, dan secara tak mungkin dielakkan telah menuduh para pemimpin sebagai tidak sepenuhnya mengakui tuli- 23 san-tulisan Sister White sebagai diilhami, melainkan sebaliknya hanya menggunakannya bagi kesenangan, dan sebagai pelindung apabila perlu, dengan mana untuk membodohi para anggota lalu dengan begitu menutup terang dari mereka.
Dengan memakaikan kepada dirinya sendiri kekuasaan istimewa ciptaan sendiri, maka mereka membuang keluar sebagai orang jahat yaitu orang-orang yang tidak mau menerima keputusan-keputusan mereka, sementara mereka tetap mempertahankan nama baik orang banyak itu, yang walaupun tidak percaya dan meragukan Roh Nubuat, mereka percaya secara buta dan tunduk kepada keinginan-keingi- 43 nan mereka. Dalam melakukan pemecatan terhadap mereka itu karena tidak sepaham dengan diri mereka, dan dalam hal mempertahankan orang banyak itu karena menjunjung tinggi mereka, walaupun orangorang itu tidak mempercayai Roh Nubuat atau melanggar hukum-hukum Allah, mereka ini pada kenyataannya telah menempatkan dirinya di atas Allah! Bukankah sebaiknya terang yang menerangi keadaan ini membangkitkan sidang supaya melihat dan mematuhi nasehat yang berikut ini? --
“Tetapi berhati-hatilah supaya jang- an menolak apa yang disebut kebenaran itu. Bahaya besar berada dengan umat kita ialah karena menaruh harap pada manusia, dan menjadikan daging sebagai pegangan mereka. Orang-orang yang tidak biasa menyelidiki Alkitab sendiri bagi dirinya, atau menimbang-nimbang kenya- taan, mereka menaruh harap pada para pemimpin, lalu menerima saja semua ke- putusan yang dibuat mereka; maka dengan demikian banyak orang akan menolak pe- kabaran-pekabaran penting yang dikirim Allah kepada umat-Nya, jika sekiranya 44 para pemimpin ini tidak mau menerima- nya.” Testimonies to Ministers, p. 106.
Roh Nubuat selanjutnya mengatakan : “Engkau tidak berhak untuk memimpin, 24 jika tidak engkau memimpin sesuai perin- tah Allah. Adakah engkau berada di ba- wah pengawasan Allah? Adakah engkau melihat tanggung jawabmu kepada-Nya... Sebagaimana pernah kita percaya General Conference, bahwa mereka inilah yang ha- rus berdiri pada tempat yang suci untuk menjadi suara Allah bagi seluruh umat, — semua itu sudah berlalu. Apa yang kita kehendaki sekarang adalah reorganisasi” 34th (General Conference Bulletin, session, vol. 4, Extra No. 1, April 3, 1901, p. 25, Cols. 1, 2) bukan pemborosan waktu dengan mengemukakan pertanyaan :
Mengapa Ia Membiarkan
Kesalahan-Kesalahan?
Bagi seseorang untuk menanyakan, Mengapa Allah membiarkan kesalahan- 45 kesalahan merayap masuk di antara umat- Nya, lalu menjadi sedemikian luas tersebar? Pada waktu yang sama juga akan menanyakan, Mengapa Ia membiarkan kesalahan-kesalahan masuk di antara umat- Nya yang dahulu sampai sedemikian jauh, sehingga mereka pada akhirnya menjadi buta sama sekali terhadap inti keseluruhan upacara bayangan — yaitu Tanda Arah Yang Tidak Keliru yang besar itu, yaitu Anak Allah yang telah lama ditunggu-tunggu itu -- sehingga bukan saja mereka gagal mengenali-Nya, tetapi juga pada waktu Ia datang Ia telah ditolak dan disalibkan di antara pencuri-pencuri!
Alasan mengapa orang Yahudi telah dibawa masuk ke dalam jalan yang tragis dan gelap ini ialah karena mereka telah menolak dan membunuh para nabi, yang telah diutus Allah untuk memperbaiki segala kekeliruan mereka, “sampai tidak ada lagi obat apapun.” (2 Tawarikh 36 : 16). Pengalaman sidang pada waktu ini pada setiap titik adalah sejalan dengan pengalaman orang-orang Yahudi itu. Dalam kenyataannya, “Kata malaikat itu, ‘Kamu 46 telah berbuat jauh lebih buruk daripada mereka itu’.” Testimonies, vol. 1, p. 129. Bahkan semenjak dari permulaan sekali, Israel masa kini telah mengatakan mengenai tulisan-tulisan kesaksian itu : ”..... kami mau percaya hanya terhadap bagian yang kami yakin berasal dari Allah, dan kami tidak mau mematuhi yang lainnya.” Testimonies, vol. 1, p. 234.
Roh Nubuat selanjutnya mengungkapkan : “Kalau sekiranya Tuhan memberikan sebuah khayal langsung di depan kelas orang-orang ini dalam sejarah kita seka- rang, yang menunjukkan kesalahan-kesa- lahan mereka, mempersalahkan pembena- ran diri mereka sendiri itu dan menuduh dosa-dosa mereka, maka mereka akan bangkit melawan, sama seperti halnya orang-orang Nazareth pada waktu Kristus menunjukkan kepada mereka keadaan mereka yang sebenarnya.” Testimonies,
Oleh sebab itu, sekaranglah waktunya untuk bangkit mendengarkan seruan yang berbunyi :
47“Bangunlah, bangunlah; kenakanlah kuatmu, hai Sion; kenakanlah pakaian-pakaian perhiasanmu, hai Yerusalem, kota suci.” “Bangkitlah, bersinarlah; kare-na terangmu ada datang, dan kemuliaan Tuhan sudah terbit atas kamu.” (Yesaya 52 : 1; 60 : 1). Jangan lagi tinggal dalam kebutaan dan keragu-raguan, melainkan datanglah marilah kita dengan jujur memperbincangkan bersama-sama — pertama apakah trompet-trompet itu adalah
Simbolis Ataukah Nyata — Yang
Mana?
Hanya setelah pertanyaan ini dijawab dengan benar barulah kita memiliki kunci — interpretasi yang benar — untuk membuka rumah perbendaharaan kebenaran simbolis yang besar ini. Dalam menyajikan masalah ini, logisnya marilah kita mulai pada permulaan pembicaraan Yohanes mengenai khayal dari trompet-trompetnya itu.
Wahyu 8 : 7 berbunyi : “Dan malaikat 48 yang pertama meniupkan trompetnya, lalu terjadilah hujan batu es dan api ber-campur dengan darah, maka sekaliannya itu dicampakkan ke bumi : maka terbakar-lah sepertiga dari segala pohon kayu, dan semua rumput hijau terbakarlah.”
Kita mengetahui yang sebenarnya, bahwa “api”, “hujan batu es”, dan “darah” jika bercampur, maka hasilnya adalah hujan batu es mencair karena api dan api membakar habis darah itu. Tetapi hasil ini ternyata tidak tampak setelah ketiga unsur itu bercampur, yaitu “hujan batu es” dan “api” dan “darah” pada saat trompet yang pertama berbunyi. Oleh karena itu, mutlak sekaliannya itu harus diinterpretasikan secara simbolis. Dan kesimpulan ini dikuatkan oleh kenyataan bahwa api itu membakar semua “rumput hijau”, dan hanya “sepertiga bagian” dari “pohonpohon kayu” yang terbakar. Keadaan yang tidak alamiah ini memberikan kesimpulan bahwa rumput-rumput kering yang lebih mudah terbakar adalah justru tidak terganggu, sebab jika tidak demikian tentu tidak akan disebutkan jenis rumput yang 49 dimakan oleh api itu. Tetapi karena adalah bertentangan dengan alam karena rumput kering tidak terbakar dalam pembakaran rumput-rumput hijau itu, maka itulah sebabnya “rumput hijau” dan “pohon-pohon kayu” itu melambangkan sesuatu yang hidup dan yang mudah terluka, sebaliknya yang kering itu tidak.
Dan akhirnya, sebagai bukti dalam “takaran yang tepat, dipadatkan ....., dan di guncang-guncang sampai tumpah” (Lukas 6 : 38), bahwa trompet-trompet itu adalah simbolis, kami mengundang perhatian anda kepada peristiwa-peristiwa utama yang akan jadi dalam kaitannya dengan beberapa trompet yang lainnya.
Pada peniupan trompet yang kedua, maka sebuah “gunung” besar, yang bagaikan sedang terbakar dengan api, “telah dicampakkan ke dalam laut.” Kalau bukan
27 “gunung” itu merupakan lambang, maka sesudah ia itu dicampakkan ke dalam “laut”, ombak-ombak tentunya sudah akan memadamkan api itu, atau api itu sudah akan merobah air itu menjadi asap tebal. 50 Tetapi walaupun demikian ternyata sebaliknya, sebagian dari laut itu telah menjadi “darah” — suatu keadaan yang sama sekali tidak masuk akal, dan juga tidak pernah ada dalam sejarah.
Jadi, jelaslah, bahwa “gunung” itu, “api”, “kapal-kapal”, “mahluk-mahluk”, dan “kehidupan” yang mereka miliki, masing-masingnya adalah lambang. Demikian pula halnya dengan laut, karena hanya “mahluk-mahluk” itulah yang ada didalam “laut” dan yang “bernyawa” yang “mati”, menunjukkan bahwa masih ada yang lainnya yang tidak bernyawa, tetapi masih terus hidup. Jika sekiranya mahlukmahluk itu bukan merupakan simbol, maka terlalu berlebihan untuk dikatakan bahwa sekalian itu yang “bernyawa” “mati”. Sebab jika mereka itu tidak bernyawa, maka bagaimanakah mungkin mereka itu mati? Apalagi sebuah lautan secara alami, adalah tidak pernah diam, tetapi senantiasa berombak. Dengan begitu, jika “laut” ini adalah lautan yang sebenarnya, maka tidaklah mungkin dapat menentukan batas “darah” itu dalam batas-batas dari 51 “sepertiga bagian dari laut itu”.
Kalau saja “bintang” itu, yang pada peniupan trompet yang ketiga, “telah jatuh menimpa sepertiga bagian dari sungaisungai, dan menimpa mata-mata air”, bukan berupa simbol, melainkan yang sebenarnya, maka ia itu sudah akan menggetarkan bumi dari peredarannya serta menghancurkannya.
Pada peniupan trompet dari malaikat yang keempat itu, “sepertiga bagian” dari “matahari”, “bulan”, dan “bintangbintang” telah “dipalu”. Sungguhpun demikian, karena tidak mungkin, untuk memalu benda-benda langit itu, maka
28 sekaliannya itu yang tercatat di sini sebagai “dipalu” adalah jelas simbolis. Ini telah dijelaskan dua kali dalam terang pengetahuan, bahwa kalaupun sekaliannya itu benar-benar terjadi, dan satu bagian dari sekaliannya itu benar-benar dipalu, maka dua bagian daripadanya yang masih tinggal yang tidak dipalu itu masih akan memancarkan cahaya yang lebih dari cukup untuk mencegah kegelapan.
52Keluar dari “asap” itu, yang pada peniupan trompet yang kelima, telah naik dari “lubang yang tak terduga dalamnya” itu, telah datang “belalang-belalang” yang mentakjubkan, yang belum pernah ada seperti itu. Oleh karena itu, maka belalangbelalang itu, “asap”, dan “lubang”, harus melambangkan juga sesuatu yang lain. Dan lagi pula karena kata pengganti “he” (dia laki-laki) telah digunakan kepada “bintang” itu, maka tentunya bintang itu melambangkan seseorang laki-laki (a male person).
Karena kuda, seperti yang terdapat dalam trompet yang keenam, memiliki ekor dari ular-ular, sebuah kepala singa, dan suatu mulut yang menyemburkan api, asap dan belerang -- alangkah ganjilnya dan sama sekali tidak mungkin! Oleh sebab itu kombinasi-kombinasi yang aneh dan tidak alamiah ini mengungkapkan bahwa kebenaran dari tujuh trompet itu akan kelak dibuka melalui kunci interpretasi simbolis, dan bahwa kemudian Alkitab sendiri yang harus menjelaskan
53Keadaan Trompet–Trompet Itu.
Bahwa adanya suatu kesamaan yang pararel terdapat di antara sekian banyak efek dari tujuh trompet dan sekian banyak efek dari tujuh bela yang terakhir, akan jelas terlihat pada kesamaan-kesamaan berikut ini :
29 1. Kedua unsur dari trompet yang per-
tama (“hujan batu es dan api yang
bercampur dengan darah”) dan semua
yang terkandung di dalam cawan dari
bela yang pertama itu dicampakkan ke
2. “Gunung” pada peniupan trompet
yang kedua dan semua isi dari “cawan”
pada penuangan bela yang kedua me-
nemui titik persamaannya pada sama-
sama jatuh ke dalam “laut” (Wahyu 8
3. “Di atas segala sungai dan segala mata
air” (Wahyu 8 : 10; 16 : 4) “bintang” dari
trompet yang ketiga dan isi cawan dari
bela yang ketiga itu jatuh. 54 4. Sama seperti pada peniupan trompet
yang keempat, demikian pula halnya
pada penuangan “cawan” dari bela
yang keempat, matahari telah dipalu.
sama terjadi pada peniupan trompet
yang kelima, dan pada penuangan bela
yang kelima.
6. Seperti halnya dengan trompet yang
keenam, demikian pula halnya dengan
bela yang keenam, “sungai Efrat”
adalah titik perhatian (Wahyu 9 : 14; 16
: 12).
7. Sambil membawakan kesamaan pa-
rarel yang ketujuh, trompet yang ke-
tujuh dan bela yang ketujuh itu mem-
perlihatkan komponen-komponen
yang sama, yaitu : kaabah di dalam
sorga, bunyi suara-suara dan guntur
dan kilat yang berasal dari sana, gempa
bumi dan hujan batu es (Wahyu 11 :
kedua kali.
55Kejadian-kejadian yang sama ini memperlihatkan tanpa keragu-raguan sedikitpun bahwa keadaan dan maksud dari tujuh trompet adalah sama jenisnya seperti keadaan dan maksud dari tujuh bela yang terakhir yaitu : bersifat merusak; dan itu mengenai orang-orang jahat sesudah masa kasihan berakhir.
Tetapi janganlah diartikan, bahwa masing-masing kebinasaan-kebinasaan yang diungkapkan dalam masalah mengenai tujuh trompet itu harus merupakan satu dan sama dalam masa dan peristiwa dengan kebinasaan-kebinasaan yang sama dari tujuh bela yang terakhir itu, karena suatu penyimpulan yang sedemikian dibuat menjadi tidak mungkin oleh kenyataan bahwa suara yang berbicara kepada malaikat itu pada peniupan trompet yang keenam, mengatakan, “Lepaskanlah em-pat malaikat itu yang terikat di sungai Efrat yang besar”, datang “dari empat tan-duk dari medzbah keemasan.” (Wahyu 9 : 13, 14). Karena medzbah ada di dalam ruangan suci dari tempat kesucian pada peniupan trompet yang keenam, membuk- 56 tikan bahwa trompet itu berbunyi sebelum ruangan yang Maha Suci dibuka untuk dipakai. Karena kalau saja ruangan itu sedang dipakai, maka “suara” itu sudah harus datang dari dalamnya, dimana tahta berada. Sebab itulah, maka peniupan trompet ini harus sudah dilaksanakan sebelum pintu dari ruangan yang Maha Suci dibuka dan sebelum tahta itu diduduki.
Oleh karena itu, sebagaimana halnya tujuh bela itu mengungkapkan pehukuman-pehukuman yang akan menimpa orang-orang jahat yang hidup setelah mereka menolak pekabaran dalam periode sejarah dunia ini yang terakhir, demikian itu pula yang diungkapkan oleh tujuh trompet, sebagaimana yang akan terlihat, yaitu urutan kebinasaan-kebinasaan dari generasi-generasi orang-orang jahat sepan- 31 jang zaman, yang masa kasihannya berakhir menyusul penolakan mereka terhadap setiap pekabaran Allah yang dikirim kepada mereka. Dengan demikian trompet-trompet itu akan mencapai puncaknya yang terakhir dengan mereka yang menolak pekabaran-Nya pada waktu ini.
57Kebenaran yang mendasar bahwa setiap masa periode kebinasaan menyusul hanya sesudah masa periode pemeteraiannya yang bersangkutan, adalah dikuatkan oleh kenyataan, bahwa belalang-belalang simbolis, yang keluar pada saat peniupan trompet yang kelima itu, hanya melukai orang-orang yang “tidak memiliki meterai Allah di dahi mereka”. Sekaliannya ini menunjukkan bahwa bukan saja setiap trompet itu menyusul masa periode pemeteraiannya, melainkan juga bahwa keadaan trompet-trompet itu mengungkapkan hukuman bagi mereka yang lalai menerima meterai dalam masing-masing periode mereka yang bersangkutan.
Wahyu 8 : 1, 6 : “Dan setelah ia mem-buka meterai yang ketujuh, terjadilah diam di dalam sorga kira-kira setengah jam lamanya.... Maka tujuh malaikat yang memegang tujuh trompet itu bersiap-siap dirinya hendak meniup.”
Pernyataan-pernyataan, “yang harus akan jadi dengan segeranya” (Wahyu 1 : 1), dan “Aku akan menunjukkan kepada-58 mu perkara-perkara yang harus akan jadi kemudian” (Wahyu 4 : 1), menunjukkan bahwa Wahyu itu telah dikaruniakan dengan suatu tujuan tertentu untuk menunjukkan “perkara-perkara” yang dihadapi, bukan di belakang, melainkan di depan sesudah zamannya Yohanes, disertai petunjuk yang dibuat hanya sesekali kepada masa lampau, dengan tujuan untuk meletakkan landasan yang perlu sebagai dasar pembangunan masa depan.
Sebagai contoh : Khayal dari Daniel mengenai empat binatang buas itu telah diberikan untuk menunjukkan secara 32 khusus bahwa “tanduk kecil” (Daniel 7 : 8) dari binatang yang keempat akan menganiaya umat kesucian dari Yang Maha Tinggi (Daniel 7 : 25), dan bukan khususnya untuk meramalkan berkembangnya Babilon, Medo-Persia, Gerika, dan Kekaizaran Romawi. Karena raja-raja ini sudah diberitahukan secara terbuka dalam khayal mengenai patung besar dari pasal dua, yang juga terutama, dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa kerajaan-kerajaan dunia ini akan menjadi kacau dan pada 59 akhirnya dihancurkan oleh kerajaan Kristus, yang akan memerintah seluruh dunia. Sungguhpun demikian, untuk membantu kita, secara lebih cepat untuk melihat kebenaran mengenai peristiwa-peristiwa yang terakhir ini, maka nubuatan memulainya dari belakang dengan Babilon, kemudian dalam perjalanannya ke depan telah dirangkul jatuh bangunnya kerajaankerajaan besar dalam sejarah, dan berakhir dengan berdirinya kerajaan Kristus dan bersamaan dengan itu berakhirnya sejarah dunia ini (Daniel 2 : 44).
Kembali : Daniel pasal kesebelas, walaupun tidak diberikan terutama untuk menunjukkan apa yang terjadi selama masa periode panjang yang diliputnya, yang dimulai dengan kerajaan Medo- Persia dan berakhir dalam “akhir zaman”, namun bagaimanapun juga ia itu membawa perhatian kita kepada garis sejarah nubuatan yang panjang dengan tujuan untuk menunjuk kepada “kerajaan dari utara itu” “di akhir zaman”, yaitu dia yang “akan datang menemui ajalnya, dan tak seorangpun akan membantunya.”
60Dengan demikian, walaupun semua nubuatan yang sedemikian itu perlu membawa kepada perhatian kita perkaraperkara yang jadi berabad-abad yang lalu, namun sekaliannya itu dirancang, seperti halnya Wahyu, untuk “menunjukkan” 33 kepada umat Allah “perkara-perkara yang harus akan jadi dengan segeranya”. Oleh sebab itu terlihat bahwa nubuatan-nubuatan yang sudah digenapi digunakan oleh Injil hanya sebagai landasan kerja bagi bagian nubuatan yang masih belum digenapi.
Tetapi yang terutama ialah, bahwa trompet-trompet dan meterai-meterai itu menggambarkan suatu peristiwa yang akan jadi kemudian sesudah zaman Yohanes, dan yang terjadi di dalam sorga, walaupun sekaliannya itu juga menggambarkan peristiwa-peristiwa yang sama. Mengenai peristiwa-peristiwa yang berkaitan ini sebagiannya merupakan penyumbang bagi peristiwa nubuatan yang utama dan sebagiannya lagi merupakan susulan terhadap peristiwa nubuatan yang utama. Yang pertama dengan sendirinya menurut sejarah 61 jadi lebih dahulu dan yang kemudian dengan sendirinya menyusul.
Kebenaran rangkap ini secara tegas diuraikan dalam kaitannya dengan fasenya yang terkemudian, dalam kenyataan bahwa apabila pintu terbuka di dalam tempat kesucian yang di atas dan Sidang Pehukuman dimulai, -- peristiwa yang akan jadi “kemudian” sesudah zaman Yohanes, — maka semua perkembangan sejarah yang berkaitan dengan trompet-trompet dan meterai-meterai itu akan diungkapkan satu demi satu sementara masing-masing masa periodenya secara berurutan diperlihatkan kembali di hadapan sidang pehukuman itu. Dengan perkataan lain, apabila pintu di buka di dalam tempat kesucian, maka masa-masa periode yang dilambangkan oleh trompet-trompet dan meterai-meterai itu diperlihatkan kembali di hadapan Dia Yang duduk di atas tahta, dan Yang memegang di dalam tangan kanan-Nya buku itu di dalam mana diungkapkan peristiwa-peristiwa dari trompet-trompet dan meterai-meterai itu.
62Memulai kembali dengan trompettrompet itu secara tepatnya, kita mengambil sebutan yang berbunyi bahwa “tujuh malaikat yang memegang tujuh trompet itu mempersiapkan diri hendak meniup”. Walaupun malaikat-malaikat itu tidak meniup sampai kepada pembukaan meterai yang terakhir, namun ia itu tidak membenarkan kesimpulan bahwa peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam trompet-trompet itu harus jadi sesudah peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam meterai-meterai itu. Tetapi sebaliknya ia itu hanya menunjukkan bahwa karena meterai-meterai itu membicarakan masalah yang satu dan trompet-trompet itu membicarakan yang lainnya, maka kedua peristiwa itu tidak mungkin dicatat pada waktu yang bersamaan, melainkan pertama-tama yang satu, kemudian yang lainnya, dalam urutannya yang masuk akal.
Demikianlah Yohanes pertama sekali telah mencatat fakta-fakta dari meteraimeterai itu, kemudian fakta-fakta dari trompet-trompet itu. Meterai-meterai itu pertama sekali muncul karena sekaliannya 63 itu mengungkapkan di dalam sidang pehukuman itu beberapa periode pemeteraian orang-orang suci, yang perlu mendahului sekian banyak periode-periode trompet tandingannya mengenai kebinasaan terhadap orang-orang yang tidak memperoleh meterai itu. Jadi, dengan sendirinya, meterai yang pertama harus mendahului trompet yang pertama, meterai yang kedua harus mendahului trompet yang kedua, dan seterusnya, bagaikan jarum dan benangnya, dan bukan bahwa keseluruhan tujuh meterai itu harus mendahului semua tujuh trompet itu.
Demikianlah terlihat bagaimana peristiwa-peristiwa dari meterai-meterai itu mendahului peristiwa-peristiwa dari trompet-trompetnya yang bersangkutan, dan bagaimana, sebagai akibatnya, “belalangbelalang” itu tahu siapa yang memperoleh meterai dan siapa yang tidak bermeterai, dan kemudian mengetahui siapa yang harus disiksa dan siapa yang tidak boleh disiksa.
Sebab itu, karena, dari urut-urutannya 64 yang masuk akal, setiap periode pemeteraian yang mendahului setiap periode pembinasaan, maka adalah perlu bahwa meterai-meterai dan trompet-trompet itu diajukan secara berurutan sesuai dengan urutannya. Dengan begitu terlihat bahwa mereka yang pada masing-masing periode telah menolak kebenaran seperti yang telah diajarkan kepada mereka, maka mereka tidak dimeteraikan, dan akibatnya mereka dibinasakan oleh hukuman-hukuman Allah atas mereka. Dengan demikian, sebagaimana masalah yang satu mengungkapkan urutan periode-periode pemeteraian, masalah lain yang berikutnya mengungkapkan periode-periode pembinasaan : bersamasama menunjukkan bahwa sekaliannya itu secara keseluruhan meliputi jangka waktu yang sama.
(Untuk penyajian “meterai-meterai itu”, bacalah Pemecahan Tujuh Meterai).
Sama seperti halnya abjad itu sendiri telah membuat kata-kata, sebutan-sebutan, dan kalimat-kalimat menjadi suatu pola 65 berpikir yang telah ditentukan sebelumnya, yang ditunjang dan berkaitan secara logis, demikian pula Alkitab, apabila dibuat sepenuhnya mendefenisikan dirinya sendiri, akan membangun berbagai materinya yang kaya secara menakjubkan (contoh-contoh, simbol-simbol, perumpamaan-perumpamaan, kiasan-kiasan, angka-angka, dan sebagainya) menjadi suatu wahyu yang menonjol, yang ditakdirkan sebelumnya, terdiri dari kebenaran penyelamatan jiwa, yang tersusun dengan sempurna. Jadi, seperti halnya setiap huruf, kata, dan sebutan dari sesuatu kalimat memiliki bagiannya tertentu untuk berperan dalam memberikan ekspresi yang bertalian secara logis dengan pemikiran yang dimaksud, demikian pula setiap kata firman memiliki bagiannya tertentu dalam mengungkapkan kebenaran-kebenaran Alkitab. Bilamana masing-masingnya digabungkan secara teliti dalam hubungannya yang tepat dalam gambaran kebenaran yang diungkapkan, yang satu menghantarkan dan menerangi kepada yang lainnya, maka keseluruhan yang menonjol dalam 36 semua kebesaran puncak akhir yang tinggi dan indah.
Roh Nubuat mengatakan, “angka bi- langan tujuh” dalam arti yang sepatutnya menandakan dasar angka dalam Alkitab, “menunjukkan kelengkapan.” The Acts of the Apostles, p. 585.
Oleh karena itu, kebenaran mengenai tujuh trompet itu pada akhirnya meliputi seluruh kebinasaan yang menyusul masing-masing pemeteraian semenjak dari kejadian dunia. Lagi pula, keadaannya yang sesungguhnya bahwa sekaliannya itu muncul terbuka di hadapan sidang pengadilan sorga pada waktu sidang pehukuman itu duduk dan buku-buku dibuka, dan bahwa sekaliannya itu dimulai dengan mereka yang pertama sekali hidup di bumi ini. Jadi, jelaslah hal itu, bahwa, walaupun diungkapkan dalam sidang pehukuman, namun semuanya itu dalam kaitannya meliputi seluruh sejarah umat manusia, sama seperti yang diliputi oleh meteraimeterai itu.
37Gambaran-gambaran pendahuluan ini membuka jalan bagi suatu penyelidikan yang berkaitan terhadap trompet-trompet itu, maka sekarang kita akan membicarakannya satu demi satu sesuai uruturutannya, dimulai dengan
TROMPET YANG PERTAMA.
Wahyu 8 : 7
Wahyu 8 : 7 : “Maka malaikat yang pertama meniupkan trompetnya, lalu ter-jadilah hujan batu es dan api bercampur darah, maka sekaliannya itu dicampak-kan ke bumi : maka terbakarlah sepertiga bagian dari pohon-pohon kayu, dan ter-bakarlah semua rumput hijau.”
Karena trompet-trompet itu secara simbolis mencatat kebinasaan orang-orang jahat setelah penolakan mereka terhadap pekabaran-pekabaran Allah yang disampaikan kepada mereka, dan karena angka bilangan “tujuh”, menunjukkan kelengkapan, meliputi keseluruhan periode masa kasihan dan seterusnya sampai kepada ke- 37 68 datangan Kristus yang kedua kali, maka peniupan trompet yang pertama harus dicari jauh ke belakang dalam sejarah sebagai pembinasaan yang pertama terhadap sejumlah besar orang-orang jahat, sebagai akibat dari penolakan mereka terhadap pekabaran Allah yang disampaikan kepada mereka. Dan karena air bah merupakan pembinasaan sedemikian ini yang pertama, maka jelaslah trompet yang pertama, sebagaimana ia itu muncul terbuka di depan pehukuman itu, mengungkapkan khotbah-khotbah dari Nuh, tujuannya dalam membangun bahtera, dan alasan Allah membanjiri dunia tua yang lalu dengan air bah.
Kini dengan mengemukakan alasan sebagai pembicara bagi simbol itu, agar ia itu dapat berbicara bagi dirinya sendiri, maka diceritakannya kepada kita bahwa “hujan batu es dan api yang bercampur dengan darah itu” dan “tercampak ke atas bumi”, menunjukkan sesuatu yang tentunya berasal dari luar bumi itu sendiri. Sebab jika tidak demikian tidak mungkin ia itu disebut “sekaliannya itu dicampakkan 69 ke atas bumi.” Lagi pula ketiga unsur itu (hujan batu es, api, dan darah itu)”, melambangkan sesuatu yang terdiri dari tiga bagian, dan karena tidak dibatasi oleh sesuatu bagian atau bagian-bagian tertentu dari “bumi”, maka oleh karenanya ia itu “tercampak” ke seluruh bumi.
Kini sambil terus memahami simbol itu sebagaimana yang telah digariskan sendiri pada dasarnya sedemikian itu, maka siswa penyelidik akan dapat melihat sementara ia terus maju bahwa masalahnya itu bukan saja menjadi makin jelas, kebenaran yang satu berkaitan dengan kebenaran yang lainnya, sehingga semuanya lebih menguatkan keseluruhannya, melainkan juga bahwa ia itu mengandung suatu pelajaran kebenaran sekarang yang menggemparkan. Karena hal inilah, maka ia akan dapat mengetahui bahwa saat yang ditentukan surga bagi terungkapnya trompet-trompet itu telah tiba, dengan membawakan kebenaran pada waktunya yang dikemukakan di sini.
Kemudian sementara ia terus maju 70 dalam terang dari kenyataan ini, untuk mencari tahu arti dari “api” itu (api diambil duluan karena inilah yang paling dikenal dari ketiga unsur yang dimaksud itu), maka ia akan dibimbing oleh kenyataan rangkap tiga bahwa kehadiran Allah di dalam “semak belukar” telah dinyatakan kepada Musa oleh suatu nyala api (Ke- luaran 3 : 2; 19 : 18); bahwa Tuhan mempersamakan firman-Nya dengan suatu api (Yeremia 23 : 29); dan bahwa pada hari Pantekosta Rohulkudus telah terlihat bagaikan “lidah-lidah yang seperti api.” (Kisah Rasul-Rasul 2 : 3).
Dalam terang dari ketiga kejadian ini, maka tercampaknya api ke atas bumi itu terlihat merupakan simbol dari turunnya Rohulkudus bersama-sama dengan firman kebenaran, dalam mana terdapat Bapa dan Anak, yaitu karena Bapa ada di dalam Anak (Yohanes 14 : 9). Dengan demikian melalui Roh, yang pengaruhnya di manamana tidak dapat dibatasi, Tuhan kita “telah pergi dan berkhotbah” kepada seluruh penduduk bumi sebelum datang air bah itu. Melalui Dia, juga, Tuhan kita telah
71Selanjutnya, sebagaimana Firman menyatakan bahwa “nyawa dari daging itu terdapat di dalam darah” (Imamat 17 : 11), sebab itu “darah” terlihat melambangkan kehidupan dari mahluk hidup.
Dan pertanyaan sederhana yang dikemukakan Allah kepada Ayub : “Sudahkah engkau melihat penyimpanan hujan batu es, yang telah Ku simpan bagi masa ke-susahan itu?” (Ayub 38 : 22, 23), mengungkapkan bahwa “hujan batu es” itu melambangkan kebinasaan. Dan hujan batu es itu merupakan air yang membeku menun-
39 jukkan suatu kebinasaan oleh air —air bah, yang tidak mungkin dapat dilambangkan oleh air dalam bentuknya yang cair, karena air yang cair adalah melambangkan “kehidupan” atau “bangsa-bangsa.” (Lihat Yohanes 4 : 14 dan Wahyu 17 : 15). Oleh sebab itu, maka hujan batu es, adalah satusatunya unsur yang dapat secara tepat melambangkan suatu kebinasaan oleh air.
Demikianlah oleh ketiga unsur ini 72 (hujan batu es, api, dan darah) secara simbolis telah dilukiskan pekabaran yang dikhotbahkan oleh Nuh : yaitu, kebinasaan oleh air (hujan batu es); pembangunan bahtera untuk menyelamatkan mahluk hidup (darah); dan kuasa dari Roh Kebenaran (api), dengan mana pekabaran itu telah dibawa dan diberitakan. Untuk mengucapkan kenyataan-kenyataan itu dalam lain perkataan, Roh Kebenaran (api) dalam pekabaran Nuh itu telah menyediakan bahtera untuk menyelamatkan nyawa (darah) dari semua orang yang telah mendengar suara-Nya lalu memasuki bahtera itu. Walaupun demikian, kepada semua orang, yang tidak mematuhi suara- Nya dan tidak mau memasuki bahtera, pekabaran itu membawa kebinasaan oleh air bah (hujan batu es).
Setelah Nuh mengetahui bahwa tugasnya yang dikaruniakan Allah kepadanya telah selesai karena orang jahat yang banyak itu telah “meremehkan, menentang, mentertawakan dan menolak” pekabarannya, maka ia dan keluarganya lalu masuk ke dalam bahtera. Kemudian datang 73 air bah, dan kemudian semua orang yang tidak mencari perlindungan pada bahtera itu dihanyutkan oleh derasnya air-air itu.
Demikianlah keadaannya maka semua korban dari air bah itu dilambangkan oleh sepertiga bagian dari “pohon-pohon kayu” dan oleh “rumput-rumput hijau” (ayat 7) yang telah terbakar habis (binasa oleh kuasa Roh terhadap Siapa mereka telah
40 berdosa), dan yang memisahkan kedua kelas orang banyak itu.
Tetapi mengapakah disebut “terbakar” dan bukan “tenggelam?” Janganlah lupa bahwa kita di sini sedang mempelajari kebenaran dengan bantuan simbol-simbol. Perbuatan kebinasaan yang ditunjukkan oleh perkataan “tenggelam” adalah keadaan yang sebenarnya dan bukan simbolis, maka jika itu yang dipakai akan mengacaukan kunci interpretasinya : sebab jika setiap sebutan adalah bukan simbolis, bagaimanakah kelak kita membedakan sebutan-sebutan yang simbolis daripada sebutan-sebutan yang tidak simbolis? Dan bagaimanakah dapat kita mengetahui apa 74 yang dapat digunakan untuk menggariskan kebenaran? Perkataan “tenggelam” secara simbolis tidak akan berarti binasa, melainkan sebaliknya berarti terbenam dalam kehidupan — berada di antara massa orang banyak (Wahyu 17 : 15).
Dan “api” melambangkan Roh Kebenaran, jelaslah bahwa mereka yang berdosa melawannya oleh menolak pekabaran dari Nuh, secara simbolis mereka “dibakar”, dan karena itulah orang-orang jahat memikul pembalasan-Nya (“api”) karena mereka berdosa melawan Dia.
Gambarannya sebagai berikut : andaikata seseorang terlibat membunuh dan ia dipersalahkan oleh hukum yang menuntut kepadanya hukuman mati, lalu nyawanya akan diambil oleh sesuatu alat yang mematikan. Tetapi apakah kejahatan itu ataukah pelaksanaan hukuman itu yang menjadi sebab kematiannya?— Kejahatannya, tentu saja; karena jika yang tertuduh itu didapati tidak bersalah, maka hukum tidak mungkin dapat mengenakan hukuman mati itu. Demikian pula halnya 75 dengan orang-orang di zaman air bah : Mereka bukan binasa karena air bah yang datang, karena siapa saja yang mau, mereka sudah dapat masuk ke dalam bahtera. Sesungguhnya, kalau saja mereka semuanya sudah bertobat, dengan sendirinya mereka sudah dapat membuat Allah membatalkan air bah itu. Tetapi mereka ternyata telah terlibat dosa yang tak dapat diampuni lagi melawan Roh Kudus, yaitu menolak pekabaran dari Nuh, mereka menolak masuk ke dalam bahtera — suatu dosa yang telah membawa ke atas mereka hukuman dari hukum Ilahi (air bah itu).
Bahwa “rumput-rumput hijau” dan “pohon-pohon kayu” adalah melambangkan dua kelas orang-orang hidup, dapat segera terlihat dari mimpinya Nebukadnezar dalam mana ia telah menyaksikan dirinya dipersamakan dengan sebatang “pohon kayu”, dan rakyat kerajaannya dipersamakan dengan “rerumputan yang lemah di padang.” (Daniel 4 : 10, 14, 15,
membicarakan orang-orang yang menduduki jabatan-jabatan yang bertanggung 76 jawab, mengatakan bahwa “setiap pohon kayu yang tidak mengeluarkan buah yang baik akan ditebang, dan dibuang ke dalam api.” (Matius 3 : 10). Jadi jelaslah, bahwa orang-orang biasa yang dibinasakan oleh air bah itu, telah dilambangkan dengan “rumput hijau”, dan para pemimpin mereka dilambangkan oleh sepertiga bagian dari “pohon-pohon kayu”. Catatan itu berbunyi, ”Maka setiap mahluk hidup di atas muka bumi, baik manusia maupun ternak, baik binatang-binatang melata, maupun unggas di udara telah binasa; dan sekaliannya itu telah dibinasakan dari bumi : dan hanya Nuh yang tinggal hidup bersama-sama dengan mereka yang ada di dalam bahtera itu.” Kejadian 7 : 23.
Karena hanya sepertiga bagian yang hangus terbakar ini memberi kesimpulan bahwa dua pertiga bagiannya luput, oleh karena itu kita harus percaya bahwa dua 42 kali sebanyak mereka yang binasa itulah yang luput, bukan? Dan karena hanya ada delapan orang yang selamat, maka hendakkah kita menyimpulkan bahwa hanya 77 empat jiwa (pohon-pohon kayu) yang binasa?
Penyimpulan-penyimpulan sedemikian ini dicapai hanya karena mengesampingkan tata cara prosedur interpretasi. Ingatlah selalu bahwa kita sedang mempelajari peristiwa-peristiwa nubuatan oleh perantaraan simbol-simbol. Jangan sekali pikiran dialihkan dari satu demi satu sebutan simbolis kepada satu demi satu sebutan yang sebenarnya terhadap mereka yang binasa dan mereka yang selamat.
Dengan menemukan penjelasan yang rinci dalam “sepertiga bagian dari bin-tang-bintang di langit” (Wahyu 12 : 4) -yaitu malaikat-malaikat jahat yang telah disesatkan oleh Setan bersama dengan dirinya, — “sepertiga bagian dari pohonpohon kayu itu” terlihat menunjuk kepada para pemimpin dunia yang jahat yang hidup pada sebelum air bah yang lalu. Kedua bagian dari bintang-bintang itu, atau malaikat-malaikat, yang masih tinggal di dalam sorga adalah malaikat-malaikat yang benar. Sama halnya, bahwa dua bagi- 78 an dari “pohon-pohon itu” yang tidak hangus terbakar adalah melambangkan orang-orang benar yang luput dari bencana air bah itu. Andaikata Ilham menyebutkan bahwa dua pertiga bagiannya hangus terbakar dan sepertiga bagiannya yang tinggal, dan bukan sebaliknya, maka sebutan itu secara simbolis sudah akan salah sebab suatu lambang “sepertiga” dalam trompet-trompet selalu berarti yang jahat tanpa terikat kepada angka bilangannya.
Mengapa semua orang yang berada di dalam bahtera itu dilambangkan dengan pohon-pohon kayu? Mengapa tidak dilambangkan dengan rumput? Sebab diperbandingkan dengan pohon-pohon kayu, rumput tidak memiliki sifat-sifat yang cocok, seperti misalnya mengenai tinggi badan, kekokohan, stabilitas, dan kehidupan yang panjang. Jadi sesuai dengan itu baik secara 43 akal sehat maupun secara Firman rumput tidak mungkin dapat melambangkan orang-orang yang ada di dalam bahtera itu sebagai leluhur-leluhur dari semua bangsa yang hidup sesudah air bah itu.
79Jadi, sebagaimana di dalam hanya satu ayat Alkitab yang singkat seluruh sejarah air bah itu telah diceritakan, maka akan terlihat dalam simbol dari trompet yang pertama, bukan saja suatu penyederhanaan dan ketepatan yang menakjubkan dalam menceritakan masa lalu melainkan juga suatu penghematan waktu dan penghematan bahan tulis yang besar, bahan tulis adalah merupakan barang dagangan yang pada zaman itu sangat tinggi harganya. Maka hikmat pengetahuan yang sama yang sangat tinggi inipun terus berlanjut, diikuti dengan
TROMPET YANG KEDUA.
Wahyu 8 : 8, 9 : “Maka malaikat yang kedua meniupkan trompetnya, lalu jadi-lah seolah-olah sebuah gunung besar menyala dengan api dicampakkan ke laut : maka laut itu sepertiganya menjadi darah; dan sepertiga dari segala mahluk yang bernyawa di dalam laut itu matilah; 80 dan sepertiga dari segala kapal binasa-lah.”
Sebagaimana kegenapan dari trompet yang pertama membawa kita sampai dengan air bah itu, maka periode dari trompet yang kedua harus dicari pada kebinasaan yang pertama sekali sesudah air bah itu yang didahului oleh sebuah pekabaran. Dan untuk menentukan saat permulaannya, kita hanya perlu memberi alasan bahwa gunung dalam arti Alkitab adalah melambangkan sebuah sidang atau sebuah kerajaan (Zakharia 8 : 3; Yesaya 2 : 3), lalu “gunung besar” itu yang ditutupi api, seperti halnya semak belukar yang dahulu dari mana Allah telah berbicara kepada Musa (Keluaran 3 : 2, 4), hanya dapat berarti bahwa pada waktu itu 44 kehadiran Allah berada di tengah-tengah dan sekeliling umat-Nya. Dan pada waktu itu sebagaimana kita ketahui, mereka itu adalah pergerakan orang-orang Israel, yaitu sidang yang pertama sesudah air bah dengan sebuah pekabarannya — upacara bayangan. Dalam memimpin bala tentara Tuhan yang kuat perkasa ini, tiang api telah 81 berjalan di depan; menjadi perisai baginya, diikuti dengan tiang awan dari belakang.
Sesudah gunung itu diliputi api, maka ia itu “dicampakkan ke dalam laut.” Lautan, sebagai gudang penyimpanan dari semua air melambangkan asal mula tempat tinggal dari “semua orang, dan orang banyak, dan bangsa-bangsa, dan bahasa-bahasa” (Wahyu 17 : 15). Oleh sebab itu, karena ia itu menunjuk kepada dunia secara keseluruhan, yaitu tempat dimana segala bangsa (air-air) tinggal, maka ia itu menentukan dengan pasti tempat di mana sidang (gunung) itu terlihat. Ini dikemukakan oleh kata-kata nabi itu sebagai berikut : “Nyanyikanlah bagi Tuhan se-buah nyanyian baru, dan kepujian-Nya semenjak dari ujung bumi, hai kamu yang turun ke laut (dari mana dunia ini berasal — yaitu Palestina), berikut semua yang ada di dalamnya.” (Yesaya 42 : 10).
Ingatlah bahwa hanya sepertiga dari “laut (dunia) yang telah menjadi darah”, dan juga bahwa pergerakan orang-orang Israel itu hanya mencapai sebagian dari 82 dunia (dalam sebutan simbolis, disebut “sepertiga” dari “lautan”) – yaitu orangorang Kapir dengan siapa pergerakan itu telah sampai berhubungan dengan mereka, terutama di tanah perjanjian. Jadi, jelaslah, bahwa “gunung” itu melambangkan sidang Wasiat Lama.
Setelah “gunung” itu (sidang) dicampakkan ke dalam “lautan”, maka “sepertiga 45 dari lautan itu menjadi darah”, “sepertiga dari semua mahluk yang ada di dalam lautan itu, dan yang bernyawa, mati”. Sekali lagi “darah” tentunya melambangkan kehidupan dari mahluk hidup. Karena demikian halnya, maka ia itu tentunya berarti sepertiga dari “lautan”(dunia) yang menjadi “darah” (hidup), ialah bagian yang ke dalamnya telah dicampakkan gunung itu, ke mana umat Allah telah dibawa. Dengan demikian, maka bagian itu, yaitu Palestina, telah menjadi suatu tempat berlindung bagi semua orang yang sepenuhnya menggabungkan diri dengan pergerakan itu, tetapi sebaliknya menjadi tempat yang berantakan bagi orang-orang yang tidak mau, sama seperti 83 halnya bahtera Nuh telah menjadi sebuah tempat berlindung bagi orang-orang yang memasukinya, tetapi sebaliknya menjadi suatu agen pembinasa bagi mereka yang tetap tinggal di luar.
Mengenai sepertiga dari mahluk-mahluk yang mati itu, Alkitab mungkin salah karena terlalu berlebihan mengatakan bahwa mereka itu “bernyawa” jika sekiranya demikian itu akan berarti mahluk hidup, sebab bagaimana mungkin mereka dapat mati jika mereka tidak memiliki nyawa hidup? Tetapi sekaliannya itu hanya melambangkan orang-orang yang hidup, yaitu mereka yang sesungguhnya berhak atas hidup yang kekal, dan mereka pernah merangkulnya, tetapi kemudian karena pendurhakaannya, maka mereka telah melepaskannya. Dengan demikian, maka hanya suatu “sepertiga” yang simbolis dari semua yang telah memiliki hidup kekal, tetapi telah melepaskannya karena dosa (“mati”), yang dibinasakan.
Ayat 9, bagian terakhir : ”Dan seper-tiga dari segala kapal binasalah.”
84Karena “lautan” melambangkan dunia tua, maka “kapal-kapal” itu harus melambangkan objek-objek yang dianggap pantas untuk melindungi dan membawa orang-orang tetapi walaupun diharapkan dapat mengangkut mereka dengan aman mengarungi lautan itu (dunia), mereka ternyata gagal mencapai pantai seberang. Mereka, tentunya, hanya menggambarkan agama-agama kekapiran berikut tempattempat ibadah mereka, yang memberikan kepada para penganutnya pengangkutan untuk membawa mereka ke suatu dunia yang akan datang. Tetapi kapal-kapal mereka itu tidak layak berlayar di laut, sehingga mereka menemui bencana selagi dalam pelayarannya. Mereka berikut tempat-tempat ibadahnya telah dibinasakan oleh orang-orang Israel untuk memenuhi perintah Tuhan yang berbunyi : “Hendak-lah kamu membinasakan sama sekali se-mua tempat (tempat-tempat ibadah – “kapal-kapal”) dimana bangsa-bangsa yang akan kamu miliki itu menyembah dewa-dewanya, di atas gunung-gunung yang tinggi, dan di atas bukit-bukit, dan di 85 bawah setiap pohon kayu yang hijau; dan hendaklah kamu meruntuhkan semua medzbah mereka, dan menghancurkan semua tiang pilar mereka, dan membakar habis dengan api hutan-hutan mereka; dan hendaklah kamu meruntuhkan se-mua patung ukiran dewa-dewa mereka itu, dan menghapuskan nama-namanya dari tempat itu.” Ulangan 12 : 2, 3.
Dalam suatu contoh yang lain, di bawah pasangan keadaan yang berbeda, apabila sidang secara simbolis melewati jalan darat gantinya melalui air maka kereta-kereta sebagai pengganti kapal-kapal digunakan untuk melambangkan sidang. (Lihatlah Traktat No. 2 : Paradoks Besar Sepanjang Zaman).
Dengan adanya kecocokan yang tepat dari masing-masing dua periode sejarah pertama dari dunia kuno yang lalu itu, maka dua trompet yang pertama itu memberi jaminan bahwa periode-periode selanjutnya dilambangkan juga secara tepat oleh trompet-trompet berikutnya. Oleh sebab itu kebenaran mengenai periode 47 yang ketiga dilambangkan oleh
TROMPET YANG KETIGA.
Wahyu 8 : 10 berbunyi : “Dan malaikat yang ketiga meniupkan trompetnya, maka jatuhlah dari langit sebuah bintang besar yang bernyala-nyala bagaikan se-buah pelita, maka bintang itu menimpa sepertiga dari segala sungai, dan menim-pa semua mata air.”
Karena jatuh dari langit, maka “bintang itu” jelas menunjukkan bahwa ia itu hanya dapat melambangkan sesuatu jenis benda dari langit yang turun ke bumi. Adanya ia itu beryala-nyala bagaikan sebuah “pelita” merupakan petunjuk mengenai hakekatnya sebuah benda yang berkuasa memberikan terang, dan benda pembawa terang yang sedemikian itu yang datang dari langit hanyalah Firman : “Firman-Mu,” Pemazmur menguatkannya, “adalah pelita bagi kakiku, dan terang bagi jalan-48 ku.” Mazmur 119 : 105. Dan karena bintang itu jatuh menimpa hanya “sepertiga” dari segala sungai (bangsa-bangsa – Wahyu 17 : 15), terungkap dengan sendirinya secara simbolis mengenai Alkitab Wasiat Lama, karena itulah Alkitab Wasiat Lama yang pada zaman itu belum berhasil mencapai semua bangsa (sungai-sungai) di bumi, melainkan hanya sebagian dari mereka (yang secara simbolis, bukan sesungguhnya, disebut sepertiga bagian).
Walaupun pada “segala sungai” bintang itu menimpa hanya sepertiganya, namun ia itu menerangi semua “mata air”. Kenyataan ini menunjukkan bahwa Alkitab Wasiat Lama itu telah jatuh ke dalam tangan dua kelas orang-orang — “sungaisungai” dan “mata-mata air”. Yang pertama melambangkan bangsa-bangsa yang telah datang berhubungan erat dengan Alkitab. (Mereka ini adalah sedemikian bagaikan “segala air sungai, yang kuat dan banyak, yaitu raja Asyur.” Yesaya 8 : 7). Yang kedua melambangkan umat pilihan-Nya (dua belas suku bangsa Israel), dengan siapa Firman-Nya merupakan segala air hidup, 88 yang membuat mereka menjadi mata-mata air yang hidup. Demikianlah Tuhan sendiri telah menyatakan : ”barangsiapa yang percaya kepada-Ku,... maka dari dalam dirinya akan mengalir sungai-sungai air hidup” (Yohanes 7 : 38); dan, “mata air Yakub akan berada di atas ladang jagung dan anggur.” (Ulangan 33 : 28).
Wahyu 8 : 11 berbunyi : “Maka nama bintang itu akan disebut Afsantin (Bahasa Inggris : Wormwood) : maka sepertiga da-ri segala airpun menjadi afsantin; dan ba-nyak orang mati karena air-air itu, karena air-air itu sudah menjadi pahit.”
Sebagai tumbuh-tumbuhan pahit dan berbau harum, afsantin itu berguna sebagai obat pencuci perut dan juga sebagai obat kuat — yaitu kualitas dan kegunaan yang pengertiannya menemukan arti simbolis dari sebutan “Afsantin” itu. Sesuatu yang mencuci adalah sesuatu benda yang memiliki kegunaan mencuci dan membersihkan, maka sebab itu, nama “Afsantin” itu harus pertama sekali menunjukkan suatu alat pencuci. Dan karena Fiman Allah 89 memiliki kuasa untuk membersihkan semua penyebab dan akibat dari kelemahan rohani dan mengembalikan fungsi-fungsi dan irama yang sehat bagi jiwa yang sakit dosa, maka jelaslah hanya alat yang sedemikian ini, yang dalam kaitan ini, cocok dilambangkan oleh nama “Afsantin” itu.
Demikianlah, maka obat pencuci yang pahit dan kegunaan dari obat kuat itu menunjukkan bahwa Firman Allah, walaupun ia itu sesungguhnya sesuatu yang pahit bagi perasaan seseorang yang jahat, namun bagi mereka yang jujur yang mencintai-Nya bagi kebaikan, Firman itu akan mengerjakan bagi mereka (kesucian hati dan jiwa), kesukaan yang sangat indah; sebaliknya bagi orang-orang yang tidak jujur, yang perasaan kejahatannya merupakan dewanya, dan yang tidak mencintai kebenaran, maka Firman itu akan
49 kelak bagaikan empedu pada perasaan lidah mereka. Dan demikian pula halnya karena mereka itu lebih mencintai jalanjalan dunia melebihi jalan keselamatan, yang semuanya ini dilarang oleh Firman.
90Sifat bau yang harum dari tumbuhan itu mengungkapkan bahwa barangsiapa yang memakan Firman Allah, walaupun ia itu senantiasa pahit pada perasaan mereka yang jahat, mereka kelak akan menemukan dalam-Nya keharuman pengaruh sorga yang lebih kuat, yang akan membuat mereka bernafaskan “suatu kenikmatan hidup bagi kehidupan”.
Masing-masing dari kebenaran-kebenaran pada waktunya yang diungkapkan secara terus meningkat, yaitu tiga trompet yang pertama itu menunjukkan bahwa empat trompet yang sisanya, yang pada gilirannya makin mendekati masa periode yang manfaatnya diberikan oleh seluruh pelajaran dari keseluruhan lambang itu secara kumulatif, harus mengungkapkan dengan lebih meningkat lagi pelajaranpelajaran pada waktunya. Maka tepat inilah yang para penyelidik masalah ini akan temukan sekarang sementara ia memasuki penyelidikan mengenai
91TROMPET YANG KEEMPAT.
Wahyu 8 : 12 berbunyi : “Maka malaikat yang keempat meniupkan trompetnya, maka dipalulah sepertiga dari matahari, dan sepertiga dari bulan, dan sepertiga dari segala bintang; sehingga gelaplah sepertiga bagian dari sekaliannya itu, sehingga tidak ada terang sepertiga dari siang hari, dan malampun demikian hal-nya.”
Karena telah mempengaruhi segala bintang, bulan, dan matahari, yaitu yang melambangkan seluruh tata surya, pada mana bergantung hayat hidup karena kehadirannya, maka perbuatan yang dikemukakan di dalam ayat-ayat ini menunjukkan bahwa benda-benda langit itu melambangkan sesuatu yang tanpa kehadirannya semua kehidupan di bumi
50 akan berhenti. Oleh sebab itu, tak dapat dibantah, bahwa sekaliannya itu yang dikemukakan di atas harus menggambarkan sidang Allah — yaitu terang dan kehidupan dari dunia. Dengan demikian, 92 jelaslah pelajaran rangkap ini bahwa hanya karena sebab sidang maka dunia yang ada sekarang berdiri, dan bahwa tanpa terang dan tenaganya yang menghidupkan, maka kehidupan di bumi sudah akan lenyap sama cepatnya seperti halnya jika matahari dan bulan menarik kembali pengaruhnya dari bumi.
Tetapi, karena melihat, bahwa interpretasinya di sini dilandasi bukan hanya pada logika melainkan juga pada Alkitab itu sendiri, sebab itu kepada Alkitablah kita mencarikan kata akhirnya dalam kaitan ini. Dan ini akan kita jumpai dalam mimpinya Yusuf dan interpretasinya yang berbunyi : “Dan, bahwasanya, matahari dan bulan dan sebelas bintang”, demikian kata Yusuf, “menundukkan diri mereka kepadaku.... tetapi ayahnya memarahi-nya, lalu mengatakan, ‘Apa macam mim-pi yang telah engkau mimpikan itu?’ Masakan kami semua, aku, ibumu, dan semua saudaramu harus datang menyem-bah sujud kepadamu sampai ke bumi?’”
93Di zaman Yakub, keluarganya merupakan (1) tempat penampungan Firman Allah yang tidak tertulis, (2) kaabah yang suci, dan (3) jemaat orang-orang suci. Keseluruhannya, itulah sidang Allah yang hidup. Karena itulah Yakub telah menginterpretasikan matahari, bulan dan bintang-bintang sebagai lambang dari rumah tangganya — terang dunia pada waktu itu.
Dan dari kenyataan bahwa ayah, ibu, dan dua belas putera merupakan anggota
51 sidang pada waktu itu, kesimpulan nyata yang terbukti bahwa matahari, bulan dan bintang-bintang itu melambangkan sidang Allah dalam tiga bagian, dan bagian pertamanya berikut ini dilambangkan oleh
Matahari Yang Terkena Palu.
Sebagai kekuatan fisik besar yang menerangi dan menghidupkan dari keseluruhan tata surya, jelas matahari merupakan Firman Allah di dalam sidang, — yaitu kekuasaan rohani besar pemberi terang dan penunjang hidup di dunia. 94 Dengan sendirinya, maka terkena palunya itu menunjukkan bahwa terang dari sidang selama masa itu adalah suram. Maka ini akan membawa kita berikutnya kepada lambang
Bulan Dan Bintang-Bintang Yang
Terkena Palu.
Karena memantulkan sinar matahari dimana matahari sendiri tidak dapat memancarkannya, demikianlah bulan melambangkan sidang yang memberitakan pekabaran (terang) dari Firman (matahari) kepada dunia yang gelap ini. Saling ketergantungan yang simbolis ini di antara bulan dan matahari menunjukkan, bahwa tanpa sidang, maka Firman itu sendiri tidak mungkin dapat bercahaya di bumi. Dan karena terang dari Firman, matahari, yang dilambangkan di sini ialah upacara bayangan, yang tidak mungkin dapat di adakan tanpa sesuatu struktur khusus, sebab itu “bulan” adalah lambang dari tabernakel dan kaabah, oleh mana terang 95 dari pekabaran itu — pelayanan korban — dipantulkan. Karena ini adalah benar, maka “bintang-bintang” itu jelas melambangkan keanggotaan sidang. Maka sebab itu terpalunya mereka itu bersama-sama
52 dengan matahari dan bulan secara simbolis mengungkapkan suatu hukuman yang menimpa Israel kuno.
Tetapi hanya sepertiga bagian mereka itu yang dipalu. Oleh sebab itu maka bangsa Israel dibagi dalam tiga bagian, yang mana satu bagiannya telah terkena palu. Maka karena sejarah bangsa itu meliputi tiga periode yang terkenal (pertama, semenjak keluar dari Mesir sampai kepada penguasaan atas tanah perjanjian, kedua, semenjak dari menduduki tanah perjanjian sampai kepada perhambaan mereka di Babil; dan ketiga, semenjak kelepasan mereka dari Babil sampai kepada kedatangan Kristus), maka selama salah satu dari periode-periode inilah mereka telah “dipalu”.
Dari hasil interpretasi terhadap simbolsimbol tata surya ini (“matahari”, “bulan”, 96 dan “bintang-bintang”), tak dapat disangkal, bahwa trompet yang keempat terlihat mengungkapkan hukuman yang telah datang menimpa bangsa Yahudi di zaman raja-raja. Karena di zaman itulah kaabah, upacara pelayanannya, dan orang-orangnya telah “dipalu”; artinya, bangsa itu (bintang-bintang) telah dibawa dengan tertawan ke Babilon, kaabah (bulan) telah dihancurkan, dan upacara pelayanan (matahari) telah dihapuskan selama suatu jangka periode. Demikianlah telah mengakibatkan kegelapan rohani di bumi, seperti yang digambarkan oleh “kegelapan” dari “sepertiga bagian” dari “hari” dan dari “malam” itu.
Kehancuran besar ini telah ditimbulkan oleh para pemimpin Yahudi karena “mereka mengolok-olok juru-juru kabar Allah, dan mereka meremehkan Firman-Nya, dan mereka menyia-nyiakan para nabi-Nya, sampai akhirnya murka Tuhan bangkit melawan umat-Nya, sehingga tidak ada lagi obatnya. Sebab itulah Ia telah mendatangkan atas mereka raja 97 orang Kasdim, yang memalu orang-orang muda mereka dengan pedang di dalam rumah tempat kesucian mereka, sehingga tidak ia menaruh sayang atas orang muda ataupun wanita, orang tua, ataupun orang yang sudah terbungkuk-bungkuk karena tuanya : diserahkan-Nya semua mereka itu ke dalam tangannya ..... Dan mereka membakar habis rumah Allah dan di rubuhkannya pagar tembok Yerusalem, dan segala mahligai yang di dalamnya-pun dibakar habis dengan api, dan me-reka menghancurkan semua bejananya yang bagus-bagus. Maka mereka yang lu-put dari pedang dibawanya ke Babilon; di sana mereka dijadikan hamba-hamba baginya dan bagi anak-anaknya sampai kepada pemerintahan kerajaan Persia : untuk menggenapi firman Tuhan.” 2
mereka membunuh anak-anak Zedekia di hadapan matanya, dan mereka men-cungkil kedua biji mata Zedekia, lalu me-ngikatnya dengan rantai tembaga, dan membawanya ke Babilon.” 2 Raja-Raja 25 : 7.
98Dengan demikian, karena upacaraupacara pelayanan agama, bangunan kaabah, dan bangsa itu telah dipalu, maka terang yang pernah bercahaya melalui perantaraan mereka itu telah digelapkan selama lebih dari tujuh puluh tahun, sampai kemudian kaabah itu dibangun kembali dan upacara-upacara pelayanan itu ditegakkan kembali. Oleh sebab itu, jelaslah, bahwa “hari” itu (bagian bumi itu di mana cahaya matahari menyinari secara langsung) dimaksudkan kepada “tanah perjanjian”, dan “malam” (bagian bumi itu dimana cahaya matahari dipantulkan oleh bulan dan bintang-bintang) dimaksudkan kepada tanah-tanah Kapir.
Jadi, jelaslah, simbol itu mengungkapkan bahwa pada waktu bangsa itu ditawan 54 dan segala bejana yang suci disingkirkan dan kemudian dibiarkan dalam keadaan tidak dipakai, maka kegelapan rohani telah turun di mana-mana. Kebenaran ini dikuatkan oleh kebenaran fisik yang sejajar (dari mana simbol-simbol itu berasal) bahwa dalam sehari dan semalam bumi melakukan suatu pemutaran lengkap pada 99 porosnya, setiap incinya menjadi gelap secara bergantian dalam setiap jangka waktu yang meliputi dua puluh empat jam. Karena itulah simbol itu menunjukkan bahwa sistem peribadatan Israel kuno yang lalu adalah satu-satunya terang rohani dalam seluruh dunia kuno yang lalu, dan Israel itu sendirilah satu-satunya sidang yang diakui oleh Pencipta Alkitab.
Betapa indahnya sebuah kebenaran yang tepat waktunya pada hari ini bagi suatu dunia Kristen yang terkungkung pada satu aliran saja! Biarlah ini menasihatkan kepada semua yang memilih berjalan dalam terang, untuk
Menghindari Kekeliruan-
Kekeliruan Dari Orang-Orang
Lain.
Oh betapa celakanya mereka yang dengan sengaja menutup hatinya lalu dengan begitu memalingkan telinganya daripada mendengarkan himbauan-himbauan Roh Allah! Bayangkanlah betapa 100 besarnya kesusahan dan penderitaan yang seharusnya sudah dapat dielakkan kalau saja manusia tidak sedemikian itu mengeraskan hatinya dalam kesombongan dan tinggi diri! Adalah sangat hina bagi para pemimpin Israel dahulu untuk mengakui kekeliruan-kekeliruan mereka lalu menerima teguran-teguran dari hambahamba Allah yang sederhana, yaitu para nabi. Tetapi kelalaian mereka terhadap kebenaran tidak lama mempertahankan kesombongan mereka di mata umat yang banyak itu, seperti yang mereka harapkan. Pembunuhan mereka terhadap para nabi itupun tidak dapat membetulkan kesalahan-kesalahan mereka ataupun menutupi dosa-dosa mereka. Itu pun tidak dapat membuat Allah diam, melainkan sebaliknya pada waktunya mengungkapkan ke- 55 lalaian mereka sepenuhnya dan menelanjangi malu mereka itu ke hadapan seluruh dunia.
Kalau saja umat Allah di waktu ini kembali mengulangi kekeliruan-kekeliruan orang-orang Yahudi itu, maka hukuman yang telah digariskan dengan kata- 101 kata, “Kelak akan ada tangisan dan keretak gigi”, (Matius 24 : 51) kelak tidak akan menemukan tandingannya dalam setiap masa. Selanjutnya, setelah menyadari sepenuhnya, bahwa kecewa karena sudah hampir melangkahkan kaki memasuki Eden tetapi tak sampai sehingga sebagai gantinya menemukan diri jatuh ke dalam neraka, akan terus-menerus menusuk seseorang dengan penyesalan yang sangat menyedihkan! Oleh sebab itu marilah kita membuka selebar-lebarnya hati kita sementara kita membacakan himbauan kasih sayang Tuhan yang berbunyi :
“Hai Yerusalem, Yerusalem, kamu yang membunuh nabi-nabi, dan yang melempari mereka dengan batu, yaitu mereka yang diutus kepadamu, betapa seringnya Aku rindu untuk menghimpun anak-anakmu bersama-sama, bagaikan seekor induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi tiada kamu mau! Tengoklah, rumahmu akan dibiarkan sunyi senyap.” Matius 23 : 37, 38. “Suara Tuhan berseru-seru kepada negeri itu, maka orang yang bijaksana 102 akan memandang nama-Mu : dengarlah olehmu akan tongkat, dan akan Dia yang telah menetapkannya.” Mikha 6 : 9. Dan karena lalai mendengarkan suara-Nya, maka ingatlah bahwa
Allah Dapat Saja Memalu, Tetapi
Manusia Tidak Mungkin.
Sebagaimana tidak mungkin bagi seseorang yang lepas dari Allah untuk merusak planet-planet di langit, maka demikian pula simbol itu mengungkapkan, bahwa tidak mungkin, bagi seseorang untuk melukai sidang apabila sidang sepenuhnya menyerahkan diri kepada 56 Allah dan kemudian berada di bawah lindungan-Nya. Demikianlah, secara simbolis, Ia memberi jaminan kepada umat- Nya bahwa Ia tidak akan membiarkan sesuatu yang jahat datang menimpa mereka terkecuali apa yang mereka sendiri inginkan, dan demi kebaikan mereka, Ia mungkin mengijinkannya. Pemazmur mengatakan, “Tengoklah, Ia yang memeliha-103 rakan Israel itu tidak akan tidur ataupun mengantuk.” Mazmur 121 : 4. “.... karena barangsiapa yang menyentuh kamu, ia itu menyentuh biji mata-Nya.” Zakharia 2 : 8.
Melalui banyak hamba Allah janjijanji ini telah menjadi kenyataan. Contoh yang sangat menonjol ialah pada waktu pergerakan eksodus itu mencapai Laut Merah, dan kemudian sungai Yordan, maka kedua badan air-air itu “telah naik membentuk timbunan” untuk memungkinkan orang banyak itu berjalan melaluinya, dan untuk membinasakan musuhmusuh mereka; juga pada waktu tiga orang Ibrani itu dilepaskan dari dapur api yang bernyala-nyala; Daniel, dilepaskan dari kurungan singa; Mordekhai dan bangsanya dilepaskan dari hukuman mati yang dihasutkan oleh Haman; dan Eliyah, yang dilepaskan dari tangan Ahab dan Izebel.
Sesungguh-sungguhnya, “jika kamu memiliki iman sebesar sebiji sesawi sa-ja”, sebagaimana yang dikatakan Juruselamat, “engkau akan mengatakan kepada 104 gunung ini, pindahlah dari situ ke sebe-lah sana; maka ia itu akan pindah; dan tidak satupun yang tidak mungkin ba-gimu” (Matius 17 : 20) walaupun orangorang jahat mendatangkan
Celaka-Celaka.
Wahyu 8 : 13 berbunyi : “Maka aku tampak dan aku dengar seorang malai-kat beterbangan di tengah langit menga-takan dengan suara besar : Celaka, celaka, 57 celaka, bagi semua penduduk bumi se-bab bunyi-bunyi dari trompet lainnya dari tiga malaikat, yang akan meniupkan trompet-trompet mereka.”
Tiga trompet yang terakhir dari ketujuh trompet itu adalah trompet-trompet celaka, tidak sama dengan empat trompet yang pertama, maka jelaslah sesuatu perubahan besar akan jadi, di antara empat trompet yang pertama dan tiga trompet yang terakhir.
105Sampai di sini setelah kita dihantarkan kepada kebinasaan kaabah yang pertama dan seterusnya sampai kepada pembangunan kaabah yang kedua, nubuatan firman Allah kini membawa kita terus kepada kedatangan Kristus yang pertama dan sampai kepada penyaliban-Nya, yaitu peristiwa-peristiwa besar berikutnya yang digabungkan dengan trompet-trompet itu. Dan peristiwa-peristiwa ini, yang mengakhiri sejarah Wasiat Lama dan menghantarkan masuk sejarah Wasiat Baru, mengungkapkan bahwa tiga trompet yang terakhir itu merangkul sejarah dari periode Wasiat Baru. Celaka-celaka itu, dengan sendirinya pertama sekali menunjuk kepada penganiayaan Setan terhadap mereka yang setia dalam usahanya untuk menghalangi mereka untuk memeluk agama Kristen, dan kedua sampai kepada penganiayaannya terhadap orang-orang Kapir dalam usahanya untuk mengkristenkan mereka. Celaka yang pertama datang dengan
106TROMPET YANG KELIMA.
Wahyu 9 : 1 – 4 berbunyi : “Maka malaikat yang kelima membunyikan trompetnya, maka aku tampak sebuah bintang jatuh dari langit ke bumi : maka kepadanya telah diberikan anak kunci dari lubang yang tak terduga dalamnya. Lalu iapun membuka pintu lubang yang tak terduga dalamnya itu; maka keluar-lah suatu asap dari dalam lubang itu yang bagaikan asap dari suatu dapur api yang besar; maka matahari dan udara telah menjadi gelap karena sebab asap dari lubang itu. Kemudian telah keluar dari asap itu belalang-belalang ke atas bumi : maka kepada mereka itu telah dikarunia-58 kan kuasa, seperti halnya kalajengking-kalajengking yang di bumi memiliki kuasanya. Dan telah diperintahkan ke-pada mereka supaya mereka tiada diper-kenankan merusak rumput di bumi, atau-pun sesuatu tumbuhan hijau, ataupun sesuatu pohon kayu; melainkan hanya mereka yang tidak memiliki meterai 107 Allah pada dahi mereka.”
Dengan mengambil secara berurutan bagian-bagian itu (“bintang”, “anak kunci”, “lubang”, “asap”, kegelapan, dan belalang-belalang itu) dari simbol trompet yang kelima ini, maka kita pertama sekali datang kepada
Bintang Itu.
Sebagaimana yang dilakukan oleh bintang dari trompet yang ketiga, demikian pula bintang dari trompet yang kelima ini telah turun dari langit ke bumi. Dan sebagaimana “bintang” dari trompet yang ketiga itu telah dikenal melambangkan kedatangan Alkitab, maka bintang yang terakhir ini karena ia itu sama dengan yang pertama maka bintang inipun harus melambangkan sesuatu yang sama dengan Alkitab itu.
Alkitab dan Kristus merupakan persamaan-persamaan yang saling melengkapi, masing-masing adalah firman Allah 108 (Yohanes 1 : 1 - 14), kemudian kenyataan bahwa turunnya “bintang” yang pertama itu melambangkan kedatangan Alkitab, tentu kesimpulannya bahwa turunnya bintang yang kedua melambangkan kedatangan Kristus yang pertama. Lagi pula, bintang itu telah disebut dengan kata pengganti “Him” (jenis orang lakilaki), dengan demikian terbatas kepada seseorang laki-laki. Dan akhirnya Kristus sendiri memberikan kesaksian-Nya bahwa Ia adalah “Bintang Fajar yang gilang-ge-milang itu.” Wahyu 22 : 16. Hendaklah diingat, bahwa kepada-Nyalah, telah dikaruniakan
“Anak Kunci Dari Lubang Yang
Tak Terduga Dalamnya Itu”.
“Maka aku tampak seorang malaikat turun dari langit, sambil memegang anak kunci dari lubang yang tak terduga da-59 lamnya itu dan sebuah rantai besar di dalam tangannya. Lalu ia memegang naga itu, yaitu ular tua, Iblis, dan Setan, 109 lalu merantainya seribu tahun lamanya.”
Karena Kristuslah yang telah memastikan tertawannya Setan, oleh karenanya datanglah periode seribu tahun milenium itu, maka hanya dialah yang secara tepat dapat dilambangkan oleh “malaikat itu ..... yang memegang anak kunci dari lubang yang tak terduga dalamnya itu”, dan juga oleh “bintang” itu kepada siapa anak kunci itu telah dikaruniakan. Karena “pemberian” sesuatu benda kepada seseorang tertentu harus didahului oleh “pemilikan” benda itu olehnya, maka katakata kerja “dikaruniakan” (Wahyu 9 : 1)
tentunya, menunjuk kepada dua saat yang berbeda. Oleh karena itu, jelaslah, bahwa Kristus memperoleh “anak kunci” itu pada peniupan trompet yang kelima — pada sesuatu waktu sebelum seribu tahun milenium itu. Kemudian pada permulaan seribu tahun milenium Ia sudah memilikinya.
Karena misi kedatangan Kristus adalah 110 untuk membawakan kelepasan dari penjara dosa dan kematian (lubang yang tak terduga dalamnya itu), dan itu dilakukan melalui pemberitaan Injil, maka anak kunci harus melambangkan Injil, yaitu satusatunya kuasa yang mampu melepaskan orang-orang yang terpenjara di dalam
“Lubang Yang Tak Terduga
Dalamnya Itu”.
Karena “lubang yang tak terduga dalamnya itu” dari Wahyu 20 : 3 melambangkan bumi sebagai sebuah rumah penjara sepanjang masa seribu tahun milenium itu, maka “lubang yang tak terduga dalamnya” dari Wahyu 9 : 1 yang juga sama, harus juga melambangkan bumi sebagai rumah penjara pada sesuatu masa yang lain.
60
Interpretasi Alkitab yang mutlak mengenai “bintang” itu, “anak kunci”, dan “lubang yang tak terduga dalamnya itu”, mengungkapkan bahwa bumi, pada kedatangan Kristus yang pertama, telah menjadi sebuah rumah penjara (sebuah 111 lubang) bagi umat Allah, dan bahwa Kristus datang untuk membukanya untuk menyelamatkan mereka itu.
Sungguh nyata bahwa umat Allah diberi kuasa untuk tetap mempertahankan terbuka lubang yang tak terduga dalamnya itu, maka sekiranya mereka itu dikalahkan, lubang itu akan tertutup, sehingga akan menjadi sebuah rumah penjara dari mana tak seorangpun dapat lolos keluar jika tidak ia itu dibukakan kembali. Maka demikianlah dalam sejarah terakhir orangorang Yahudi seperti yang tercatat di dalam sejarah Alkitab. Setan telah menyerang mereka, membawa mereka itu, dengan tertawan, sehingga demikianlah ia telah menutup lubang itu. Dan karena mengetahui bahwa apabila kelak Juruselamat datang, Ia akan membuka lubang itu, maka sebab itulah naga itu bersiap-siap untuk menelan “anak itu segera setelah ia lahir.” (Wahyu 12 : 4). Tetapi karena gagal mengawasi bayi Kristus, maka ia telah menghasut Herodes untuk membunuh “semua anak kecil yang ada di Betlehem, dan di semua pesisir pantainya, mulai 112 dari yang berumur dua tahun ke bawah” (Matius 2 : 16), dengan harapan untuk melenyapkan Juruselamat. Tetapi dalam perlindungan Takdir Yang Berkuasa, Kristus telah dipelihara dari tangan Herodes yang berdarah itu. Kemudian dengan anak kunci Injil, Ia telah membuka “lubang” itu dan membebaskan umat-Nya. Inilah, yang dinyatakan-Nya sendiri :
“Roh Tuhan”, kata-Nya, “ada atas-Ku, karena Ia telah mengurapi Aku untuk memberitakan Injil kepada orang-orang miskin; Ia telah mengutus Aku untuk menyembuhkan orang-orang yang susah 61 hatinya, untuk mengkhotbahkan kelepa-san kepada orang-orang yang tertawan, dan mengembalikan penglihatan orang-orang buta, memerdekakan orang-orang yang tertindas, untuk mengkhotbahkan tahun penyambutan Tuhan.” Lukas 4 : 18, 19. Maka sebagai akibat dibuka-Nya lubang itu, maka keluarlah
113Asap, Kegelapan, Dan Belalang-
Belalang.
Wahyu 9 : 2 : “Lalu ia membuka pintu lubang yang tak terduga dalamnya itu; maka keluarlah suatu asap dari dalam lubang itu yang bagaikan asap dari suatu tanur yang besar; maka matahari dan udara telah menjadi gelap karena sebab asap dari lubang itu.”
Untuk arti dari “asap” itu kita tidak perlu melihat terlalu jauh melainkan cukup kepada upacara bayangan, yaitu yang merupakan “suatu nubuatan Injil yang padat.” The Acts of the Apostles, p. 14. Di sana kita melihat asap-asap yang naik dari persembahan korban bayangan, yang sebagaimana kita ketahui, telah melambangkan pengorbanan Kristus yang besar untuk mengganti manusia. Dengan demikian, maka asap yang keluar dari “lubang” itu melambangkan penyaliban Kristus, dan “matahari digelapkan” dan “udara” melambangkan “kegelapan yang meliputi seluruh negeri itu” semenjak dari “jam enam ...... sampai jam sembilan” 114 (Markus 15 : 33) -- sewaktu Ia mati di atas kayu salib itu. Maka kegelapan yang menutupi negeri itu selama masa periode tiga jam ini menunjukkan bahwa pada saat jam enam tepat “lubang” itu dibuka.
Rangkaian kenyataan-kenyataan ini secara jelas menunjukkan, bahwa dengan Injil sebagai kunci (kabar-kabar keselamatan yang baik oleh perantaraan darah-Nya yang tercurah) Kristus telah membuka jalan kelepasan dari rumah penjara bagi 62 umat-Nya, yang tertawan -- yaitu “lubang yang tak terduga dalamnya” dari dosa dan kematian.
Demikianlah kita lihat, untuk memberi kesimpulan singkat, bahwa “bintang” itu melambangkan Kristus; “kunci” melambangkan Injil, “lubang” melambangkan bumi, “asap” melambangkan pengorbanan-Nya, dan “penggelapan matahari dan udara” melambangkan “kegelapan” yang menutupi dunia selama penyaliban-Nya. Lambang-lambang yang sempurna.
Wahyu 9 : 3, 4 : “Kemudian keluarlah 115 dari asap itu belalang-belalang ke atas bumi; maka kepada mereka itu dikaru-niakan kuasa seperti kuasa kalajengking yang di bumi. Maka telah diperintahkan kepada mereka itu bahwa mereka tidak boleh merusakkan rumput yang di bumi, ataupun barang tumbuh-tumbuhan hi-jau, ataupun sesuatu pohon-pohon kayu; melainkan hanya orang-orang yang tiada bermeterai Allah di dahi mereka.”
Dengan adanya asap itu melambangkan penyaliban Kristus, dan belalang-belalang keluar dari asap itu, maka satu-satunya kesimpulan yang dapat diambil ialah bahwa belalang-belalang itu melambangkan orang-orang Kristen yang telah muncul sebagai akibat dari darah korban yang tertumpah di Golgotha. Dan kenyataan bahwa mereka akan melukai “hanya orang-orang yang tiada bermeterai Allah pada dahinya”, membuktikan bahwa penyimpulan ini memang tidak mungkin salah. Karena hanya Kristen yang sejati, yaitu seseorang yang memiliki pengalaman pribadi dengan Allah, yaitu memiliki pengetahuan firman-Nya yang sempurna, 116 dan yang dipenuhi dengan Roh-Nya, yang dapat membedakan orang benar dan orang berdosa. Hanya dialah yang dapat mengenali siapa yang memiliki meterai dan siapa yang tidak memilikinya, apabila mereka yang tidak memiliki meterai itu kelak menyelubungi dirinya dengan jubah kebenaran yang palsu.
63
Pendapat yang mengatakan bahwa belalang-belalang itu melambangkan pasukan-pasukan “Saracen” adalah tidak berlandaskan Injil dan juga tidak masuk akal, sebab, tidak seperti halnya belalangbelalang itu, pasukan-pasukan Saracen membunuh banyak orang yang menentang perjalanan mereka. Mereka terutama mengganggu orang-orang Kristen -- yaitu orang-orang yang memiliki “meterai Allah di dahi mereka.” Dan yang sedemikian inilah tepatnya pekerjaan Setan, agar ia dapat membunuh semua orang yang memiliki meterai Allah. Walaupun, kepada mereka, yang dilambangkan oleh “belalang-belalang”, perintah menahan diri “telah diberikan supaya tidak mereka membunuh” (Wahyu 9 : 5) siapapun, tugas 117 mereka sebaliknya ialah melukai “hanya orang-orang itu yang tidak memiliki meterai Allah di dahi mereka.” Ayat 4. Karena alasan ini, dan juga sebuah alasan yang sebelumnya, maka “belalang-belalang” itu tidak mungkin melambangkan para pengikut Muhammad ataupun sesuatu agen Setan yang lain.
Kalau saja orang-orang Kristen itu tidak diberitahu “bahwa mereka tidak boleh membunuh”, maka dengan sendirinya mereka tidak akan tahu bahwa mereka sedang memasuki periode masa kasihan, sehingga dengan demikian itu mereka akan mengikuti teladan bangsa Yahudi pada waktu, sebagai sebuah pemerintahan Theokrasi diwajibkan untuk melaksanakan perintah-perintah Allah, mereka telah diperintahkan untuk membunuh dan mengusir keluar dari tanah negeri itu (seperti yang diungkapkan oleh tiga trompet yang pertama) orang-orang yang telah meninggalkan Dia maupun orangorang yang tidak mengakui Dia sebagai satu-satunya Allah yang benar. Tetapi, perintahnya kepada “belalang-belalang” 118 itu “bahwa mereka tidak boleh membunuh”, mengukuhkan suatu perubahan yang berarti dalam hubungan umat-Nya dengan musuh-musuh-Nya. Prinsip utama tentang tidak membalas yang diajarkan dalam perubahan ini diucapkan Kristus dalam khotbah-Nya di atas gunung sebagai 64 berikut :
“Kamu telah dengar bahwa telah di-katakan, mata ganti mata, dan gigi ganti gigi : tetapi Aku mengatakan kepadamu, bahwa janganlah kamu melawan keja-hatan : melainkan barangsiapa menam-par pipi kananmu, berilah kepadanya pipi yang sebelah lagi.”Matius 5 : 38, 39.
Mengkhotbahkan Kristus dan Dia yang tersalib merupakan sebuah cawan yang pahit untuk diminum bagi mereka yang membenci Dia dan umat-Nya, karena mereka itu mencintai dosa dan meremehkan teguran. Akibatnya orang-orang Kristen telah menjadi suatu gangguan dan kejengkelan besar bagi penentangpenentang mereka. Sesungguhnya, sama seperti halnya Alkitab Wasiat Lama dan 119 Baru, “dua saksi” itu, yaitu “dua pohon zaitun” itu, -- “dua nabi” itu (Wahyu 11 : 3, 10), -- telah menjadi suatu penyiksaan besar bagi orang-orang jahat selama “empat puluh dua bulan” itu (Wahyu 11 : 2), maka demikian itu pula belalang-belalang itu telah menjadi penyiksaan yang sedemikian besarnya karena mengkhotbahkan Injil sehingga baik orang-orang Yahudi maupun orang-orang Romawi telah menganiaya dan membunuh mereka sebanyakbanyaknya selama waktu yang diijinkan, sehingga demikianlah menggenapi “celaka yang pertama”.
Bayangkanlah sejenak berapa banyak orang yang telah bertobat pada hari Pantekosta saja -- “kurang lebih tiga ribu jiwa!” Dan menyusul hari itu “Tuhan telah menambahkan setiap hari kepada sidang sekian banyak yang akan diselamatkan!” (Kisah Rasul-Rasul 2 : 41, 47). Peningkatan angka-angka besar yang secara tiba-tiba ini di antara orang-orang Kristen, setelah penyaliban itu, memperlihatkan mereka itu datang menyerbu bagaikan “belalangbelalang”.
120Kemudian, juga, bahwa belalangbelalang tidak mungkin ditakuti-takuti ataupun dibuat untuk mempertahankan dirinya dengan sesuatu ancaman apapun. Juga tidak terdapat di dalam hati orang sesuatu perasaan susah ataupun sayang terhadap mereka, walaupun mereka terus dibunuh dengan sedemikian kejamnya. Tetapi pun mereka tidak dapat dibasmikan sama sekali oleh tangan manusia. Karena alasan-alasan inilah, belalang-belalang itu telah merupakan lambang yang tepat bagi keberanian yang tak dapat dikalahkan dan kelemah-lembutan dari orang-orang Kristen yang mula-mula dalam menghadapi penindasan-penindasan kejam atas diri mereka oleh musuh-musuh mereka yang tidak berperasaan itu, dan dari hal tidak mungkinnya musuh-musuh mereka itu mengupayakan pemusnahan orangorang Kristen.
Wahyu 9 : 7, bagian pertama : “Maka rupa belalang-belalang itu bagaikan kuda yang siap untuk berperang.”
Kuda-kuda telah siap untuk perang 121 karena dilatih dengan baik, suatu kenyataan yang dalam kaitan ini secara jelas menunjukkan bahwa orang-orang Kristen yang mula-mula itu maju terus dengan pekabarannya secara cepat dan tangkas bagaikan kuda-kuda di dalam barisan perang.
Wahyu 9 : 7, bagian kedua : “Dan di atas kepalanya ada seperti mahkota yang bagaikan emas.”
Sedemikian jelasnya sehingga tidak memerlukan interpretasi lagi, bahwa belalang-belalang itu memiliki “mahkotamahkota keemasan” menunjukkan mereka itu dilengkapi dengan kekuasaan yang murni dan sempurna : kekuasaan Kristus. Dan sedemikian inilah secara tersendiri para anggota dari sidang Kristen yang mula-mula telah dibekali. Kristus telah memberikannya kepada mereka dalam keterlibatan-Nya sebagai berikut :
“Aku akan memberikan kepadamu kunci-kunci kerajaan surga : maka apa-pun yang kamu ikat di bumi, akan terikat 66 juga di surga, dan apapun yang kamu le-paskan di bumi, akan dilepaskan juga di surga.” Matius 16 : 19.
Wahyu 9 : 7, bagian ketiga : “Dan wa-jah-wajah mereka adalah seperti wajah orang-orang laki-laki (men).”
Perhatikanlah bahwa belalang-belalang itu memiliki wajah orang-orang laki-laki, melambangkan kecerdasan, namun tandailah dengan teliti bahwa mereka itu adalah kaum pria. Kalau sekiranya mereka itu kaum wanita, maka lambang itu sudah akan salah, karena rupa wajah wanita tidak pantas untuk menunjukkan seorang prajurit.
Wahyu 9 : 8, bagian pertama : “Dan mereka itu berambut seperti rambut ka-um wanita.”
Rambut seorang wanita merupakan kemuliaannya (1 Korintus 11 : 15), dan karena “wanita” melambangkan sidang (Yeremia 6 : 2), maka rambut wanita itu menunjukkan bahwa “belalang-belalang” itu berhubungan erat dengan sidang, dan 67 bahwa sidang adalah kemuliaan mereka. “Sehingga kami sendiri”, demikian kata Paulus, “merasa mulia dalam kamu di dalam sidang-sidang Allah karena kesa-baranmu dan iman dalam semua aniaya dan kesusahan yang kamu alami.” 2 Te- salonika 1 : 4.
Wahyu 9 : 8, bagian kedua : “Dan gi-gi-gigi mereka adalah seperti gigi-gigi singa.”
Walaupun singa adalah binatang yang sangat menakutkan daripada binatangbinatang lainnya, namun andaikata ia tidak memiliki gigi, maka ia tidak akan lebih ditakuti daripada anjing. Adanya belalang-belalang itu memiliki gigi-gigi singa menunjukkan, bahwa orang-orang Kristen yang mula-mula itu memiliki potensi kekuatan yang jauh lebih besar untuk mempertahankan dirinya dan untuk membunuh setiap binatang (orang) yang bukan dari jenisnya (seorang Kristen) daripada yang dimiliki oleh orang-orang Israel kuno melawan orang-orang Kapir pada zaman mereka itu. Karena alasan 124 inilah maka perlu diperintahkan kepada “belalang-belalang” itu supaya jangan membunuh.
Suatu pertunjukan mengenai kekuasaan yang dimiliki mereka terlihat pada nasib pengalaman Ananias dan Saphira yang segera dalam sekejap mata telah jatuh mati di kaki Petrus, segera setelah Rasul itu mengungkapkan dosa penipuan mereka (Kisah Rasul-Rasul 5 : 1 - 11). Jadi jelaslah, bahwa jika Petrus, tanpa menggunakan kekuatannya sendiri, telah memiliki cukup kuasa untuk membinasakan orangorang munafik yang datang ke hadapannya, maka tentu sekali ia telah memiliki kuasa yang sama untuk membinasakan orang-orang Kapir yang berusaha menghalangi kemajuan pekerjaan Injil.
Wahyu 9 : 9, bagian pertama : “Dan pelindung dada mereka itu bagaikan pe-lindung dada dari besi.”
Pelindung dada dalam pengertian Alkitab ialah “iman dan kasih” (1 Tesa- lonika 5 : 8) -- yaitu satu-satunya pertaha- 125 nan diri orang-orang Kristen. Dan pelindung dada-pelindung dada dari belalangbelalang itu adalah “bagaikan pelindung dada yang dari besi”, yaitu logam yang terkenal keras. Oleh sebab itu, iman dari para prajurit salib yang gagah berani itu adalah sedemikian rupa tak terkalahkan, dan kasih mereka bagi Kristus dan bagi umat-Nya begitu murni dan tak tertandingi, sehingga “setiap hari di dalam kaabah dan di dalam setiap rumah tak henti-hentinya mereka mengajar dan mengkhotbahkan Yesus Kristus” (Kisah Rasul-Rasul 5 : 42), walaupun karena berbuat sedemikian itu mereka dibunuh bagaikan belalang-belalang. Betapa mencolok bedanya di antara para pelayanpelayan Kristus yang penuh kasih itu dengan orang-orang Kristen yang mengaku setia zaman sekarang!
Wahyu 9 : 9, bagian kedua, “Dan bu-nyi sayap-sayap mereka itu adalah bagai-kan bunyi kereta-kereta dari banyak ku-da yang berlari-lari hendak berperang.”
Sebagaimana yang dilihat sedemikian 126 jauh, maka simbol-simbol dari trompet yang kelima itu menunjukkan bahwa walaupun murid-murid yang mula-mula itu telah dianiaya dan dibunuh dengan kejamnya, namun mereka secara terbuka dan tanpa gentar sedikitpun telah menyerbu ke dalam garis pertempuran untuk memberitakan Injil Kristus. Maka dalam memberikan suatu contoh pribadi dari hal usaha-usaha mereka yang berani Paulus mengatakan : “Dari segala perkara yang berfaedah bagimu tiada satupun yang ku sembunyikan, melainkan telah ku tun-jukkan kepadamu, dan telah ku ajarkan kepadamu secara terbuka, dan dari rumah ke rumah, sambil membuktikan kepada orang-orang Yahudi dan juga kepada orang-orang Gerika ..... tanpa mengetahui apa saja yang akan kelak menimpa di-riku.” Kisah Rasul-Rasul 20 : 20 - 22.
Berapa banyakkah murid-murid Kristus zaman ini yang secara sadar mau mengambil resiko hidupnya bagi pemberitaan Injil? Bahkan dalam masa damai pun kebanyakan orang-orang Kristen lebih suka mengutus pengabar Injil untuk me- 127 laksanakan tugas yang dipanggil Tuhan daripada mereka sendiri pergi melaksanakannya. Cara melayani sedemikian ini, baik oleh memberi kuasa kepada orang lain, ataupun karena diganti orang lain untuk melaksanakannya, membuktikan bahwa mereka itu adalah bagaikan burung elang malam yang bertelur di sarang kepunyaan burung lain lalu membiarkan telur-telurnya itu dierami sampai menetas dan dipelihara oleh burung lain. Bahkan sebagian orang, karena kebodohan mereka terhadap kebesaran Kristus dan terhadap kuasa-Nya untuk melindungi, dan karena kebutaan mereka akan tugas kewajibannya dan terhadap “upah penghargaan”, maka mereka bahkan secara terang-terangan merasa malu untuk mengakui Dia dalam kata-kata dan dalam perbuatan.
(Wahyu 9 : 10 akan dijelaskan sesudah ayat yang ke-11).
Wahyu 9 : 11 berbunyi : “Dan mereka memiliki seorang raja yang berkuasa atas mereka, yaitu malaikat dari lubang yang tak terduga dalamnya, namanya 128 dalam bahasa Ibrani adalah Abaddon, tetapi dalam bahasa Gerika namanya Apollyon.”
Orang-orang Kristen yang sejati, sebagai rakyat dari kerajaan Kristus, memiliki atas diri mereka Kristus, Rajanya. Karena 69 ia memerintah atas mereka itu baik dalam sejarah Wasiat Lama (1 Korintus 10 : 1 - 4) maupun dalam sejarah Wasiat Baru, oleh sebab itu, Ia adalah Raja atas mereka dalam kedua periode sejarah. Dengan sendirinya, Alkitab Wasiat Lama, dalam bahasa aslinya Ibrani, memberikan kepada-Nya nama Abaddon, sebaliknya Alkitab Wasiat Baru, dalam bahasa aslinya Gerika, memberikan kepada-Nya nama Apollyon.
Dalam terang dari simbol ini, yang memperluas penerangan dari keseluruhan rangkaian simbol-simbol itu, yang mana simbol ini sendiri merupakan sebagiannya, dan yang tidak satupun pikiran manusia dapat merencanakan atau pun mengartikannya dengan benar sedemikian itu, maka Kristus jelas telihat merupakan Raja dari umat-Nya baik dalam sejarah 129 Wasiat Lama maupun sejarah Wasiat Baru, dan Ia juga adalah Pencipta dari Injil baik dalam bahasa Ibrani maupun dalam bahasa Gerika. Maka dari kenyataan ini dapatlah diikuti bahwa karena Ia itulah “Firman” (Alkitab dalam bentuk manusia), maka nama Ibrani-Nya, Abaddon, juga adalah nama dari Alkitab Wasiat Lama, dan nama Gerika-Nya, Apollyon, juga adalah nama dari Alkitab Wasiat baru.
Menunjukkan bahwa ia mengenal kekuasaan Kristus atas sidang-Nya bukan hanya dalam sejarah Wasiat Baru melainkan juga dalam sejarah Wasiat Lama, maka Paulus di dalam suratnya kepada orangorang Korintus menyatakan : “Maka, bukannya aku suka agar kamu tidak tahu, hai Saudara-Saudaraku, bagaimana semua nenek moyang kita itu ..... telah dibaptis di dalam awan dan di dalam laut bagi Musa : ..... dan mereka sekaliannya telah minum minuman rohani yang sama : karena mereka telah minum dari Batu Karang rohani yang mengikuti mereka, dan Batu Karang itu ialah Kristus. 1
130Celakalah dia yang menerima Wasiat yang satu tetapi mengesampingkan Wasiat yang lainnya, satupun tiada yang diperhatikannya, melainkan ia menjunjung tinggi adat kebiasaan di atas keduaduanya!
Abaddon, nama Kristus dalam bahasa Ibrani, yang mengartikan Ia sebagai seorang “pembinasa”, menunjukkan bahwa dalam sejarah Wasiat Lama Ia hanya membinasakan banyak dari musuh-musuh-Nya; tetapi Apollyon, nama-Nya dalam bahasa Gerika, yang mengartikan Dia sebagai seorang “pembasmi”, menunjukkan bahwa dalam sejarah Wasiat Baru Ia akan membasmi semua orang jahat. (Betapa indahnya ketepatan dari arti tambahan dalam gelar-gelar simbolis ini!). Maka pekerjaan pembasmian ini secara jelas tergambar dalam puncak pemandangan berikut ini :
“Dan dari dalam mulut-Nya keluar sebuah pedang yang tajam, agar dengan pedang itu Ia boleh memalu segala bang-sa : maka Ia akan memerintah mereka 131 itu dengan sebuah tongkat besi : dan Ia mengirik-irikkan anggur kekejaman dan murka Allah Yang Maha Tinggi. Maka adalah pada jubah-Nya dan pada paha-nya tertulis suatu nama, yaitu Raja Atas Segala Raja dan Tuhan Atas Segala Tuan. Maka aku tampak seorang malaikat ber-diri di dalam matahari; maka berserulah ia dengan suara besar, katanya kepada se-mua unggas yang beterbangan di tengah langit, Marilah dan berhimpunlah kamu kepada perjamuan Allah yang besar; agar dapat kamu makan daging segala raja, dan daging panglima-panglima, dan daging dari orang-orang perkasa, dan daging segala kuda, dan daging mereka yang menungganginya, dan daging sega-la manusia baik yang merdeka maupun
71 yang tertawan, baik kecil maupun besar.”
Oleh karena itu, bagi mereka, yang menyambut Kristus sebagai Rajanya, Ia adalah seorang Juruselamat, sebaliknya bagi mereka yang menolak Dia memerintah atas mereka itu (Lukas 19 : 14), Ia adalah seorang Pembinasa. Jadi, sesuai dengan 132 itu, segala kutuk, atau hukuman-hukuman (seperti yang diungkapkan oleh trompet-trompet itu) akan menimpa semua orang yang menolak ajaran-ajaran dan kekuasaan Alkitab, dan yang karenanya tidak memperoleh meterai.
Bukti-bukti yang nyata ini dengan serius menasihatkan kepada kita supaya jangan sekali melalaikan amaran Alkitab, karena tindakan kita terhadap Alkitab itu akan mengakibatkan salah satu dari dua hal berikut ini -- yaitu kematian atau kehidupan.
Wahyu 9 : 10, bagian pertama : “Dan mereka memiliki ekor seperti kalajeng-king, dan ekor-ekornya itu bersengat.”
Sudah kita lihat bahwa “belalangbelalang” itu adalah melambangkan prajurit-prajurit salib; kita mengetahui bahwa ekor dari sesuatu binatang adalah bagian yang terbelakang dari tubuhnya; dengan kata lain, itu adalah pengawal belakangnya. Dengan demikian tak ada pilihan lain terkecuali menyimpulkan bahwa ekor 133 belalang-belalang itu melambangkan pengawal-pengawal belakang sidang -- yaitu para pengikutnya. Selanjutnya, ekor merupakan bagian yang berkaitan dengan tubuh menunjukkan bahwa baik pihak kependetaan maupun pihak keanggotaan dari sidang Kristen yang mula-mula itu terikat erat dalam Kristus (Roma 12 : 5), masing-masing saling membantu. Demikianlah yang terbaca dari Firman : “Karena seberapa banyak orang yang memiliki tanah atau rumah-rumah yang dijualnya, lalu harga barang-barang yang terjual itu dibawa dan diletakkan di kaki para Rasul : kemudian telah dibagi-bagikan
72 kepada setiap orang sesuai dengan ke-butuhannya.” Kisah Rasul-Rasul 4 : 34, 35.
Wahyu 9 : 10, bagian kedua : “Dan ekor-ekornya itu bersengat.”
Karena ekor belalang-belalang itu melambangkan orang-orang yang ditobatkannya, dan pada waktu yang sama juga memiliki sengat, maka jelaslah, segera setelah murid-murid itu dimahkotai dengan agama Kristus, terdapat suatu sengat, suatu 134 penyiksaan, terhadap orang-orang jahat. “Apa yang hendak kita lakukan terhadap orang-orang ini?”, dalam putus asa mereka berseru, “karena benar-benar suatu tanda ajaib yang nyata telah diperbuat mereka telah disebarluaskan kepada semua orang yang diam di Yerusalem; sehingga kita tak dapat menyangkalnya. Tetapi supaya ia itu tidak tersebar lebih jauh lagi di antara orang banyak itu, maka marilah kita mengancam mereka dengan tegas, supaya mulai sekarang mereka tidak lagi berbicara kepada siapapun dengan nama ini. Mereka lalu memanggil keduanya, dan memerintahkan kepada mereka agar sama sekali tidak lagi membicarakan atau mengajar dalam nama Yesus”, karena “se-isi dunia sudah pergi mengikuti Dia.” Kisah Rasul-Rasul 4 : 16 - 18; Yohanes 12 : 19.
Wahyu 9 : 5, 6 : “Maka telah dipesan-kan kepada mereka supaya jangan mere-ka membunuh akan mereka itu, melain-kan agar mereka itu disiksa lima bulan lamanya; ..... dan pada masa itu orang kelak akan mencari mati, tetapi tidak 135 menemukannya; dan ingin untuk mati, tetapi kematian akan lari dari mereka.”
Melihat bahwa “belalang-belalang” itu melambangkan pengikut-pengikut Kristus sesudah penyaliban-Nya, dan karena mereka diperintahkan untuk tidak melawan musuh-musuhnya, maka karena itulah “lima bulan” itu dimulai sejak itu. Dan selanjutnya, kenyataannya, karena kematian ternyata belum lari dari setiap orang, melainkan masih menguasai semua orang, maka tentunya “lima bulan” itu adalah waktu simbolis, dan ia itu dimulai sejak dari penyaliban Kristus sampai
73 kepada sesuatu saat bilamana “kematian akan lari” dari sebagian manusia; yaitu, sampai kepada masanya apabila sebagian orang akan menjadi kebal terhadap kematian.
Wahyu 9 : 10, bagian ketiga : “Dan ke-kuasaan mereka ialah untuk menyakiti manusia lima bulan lamanya.”
Juga, karena kenyataan, bahwa trompet-trompet itu bersifat lambang, maka 136 inipun merupakan bukti yang lain bahwa lima bulan inipun adalah waktu simbolis. Tetapi mengapakah masa periode ini dalam mana belalang-belalang itu, atau orang-orang Kristen, memiliki kuasa untuk menyiksa manusia harus dibatasi pada hanya ”lima bulan?” Dapatlah dicatat bahwa mereka yang 144.000 itu disebut “buah-buah pertama”, menunjukkan bahwa mereka itu dimeteraikan pada permulaan dari “masa penuaian” — yaitu masa dimulainya pemisahan “lalang-lalang” dari “gandum”. Jadi, kepada perumpamaan mengenai “penuaian” itulah kita harus pergi mencarikan penjelasan dari hal masa periode “lima bulan” itu.
Di dalam Traktat No. 3, “Penuaian”, semenjak dari saat Kristus dibaptis sampai kepada berakhirnya masa kasihan terlihat dilukiskan oleh dua belas bulan simbolis -- enam bulan terhitung semenjak dari baptisan Kristus sampai kepada penyaliban-Nya, lima bulan semenjak dari penyaliban-Nya sampai kepada pengumpulan buah-buah pertama (mereka yang 144.000 -- Wahyu 14 : 4), sisanya satu bulan 137 bagi pengumpulan buah-buah kedua (rombongan besar orang-orang -- Wahyu 7 : 9).
Selama lima bulan simbolis, “belalangbelalang” itu diperintahkan menyiksa orang-orang yang tidak memiliki meterai Allah, tetapi tidak boleh membunuhnya. Dari perintah ini diketahui bahwa sesudah masa periode ini berakhir, larangan membunuh itupun akan berakhir, maka
74 semenjak dari saat itu dan seterusnya orang-orang jahat akan dibunuh dan bukan hanya disiksa. Pada masa itu “empat malaikat” dari Wahyu 9 : 15 sudah akan siap “untuk membantai sepertiga bagian dari umat manusia.”
Sekian banyak fakta-fakta yang berkaitan ini menyajikan suatu rantai kenyataan yang kokoh bahwa dalam sejarah Kristen, selama masa periode lima bulan simbolis, Allah telah menangguhkan pembalasan- Nya diganti dengan kemurahan. Dan karena itulah tak dapat dipungkiri bahwa orang-orang Kristen yang sedemikian karena mereka melaksanakan hukuman mati 138 terhadap orang-orang yang tidak sepaham dengannya, gantinya mereka itu bekerja bagi Kristus, mereka malahan bekerja menentang-Nya. Karena, sebagai orangorang Kristen (belalang-belalang), mereka diperintahkan untuk tidak membunuh, melainkan memberkati bahkan kepada orang-orang yang “menista” mereka. Sesungguhnya, bagi dia yang menampar mereka itu pada “pipi yang satu”, mereka harus memberi pula “pipi yang lainnya”. Dan jika ia menarik “jubah” mereka, mereka harus membiarkan “baju”nya juga
Setelah lima bulan simbolis yang penuh larangan itu lewat selama mana mereka telah dilarang membunuh, maka kemudian sebagian mereka akan dibuat menjadi kebal terhadap kematian bagi penyelesaian pekerjaan Injil, dan kemudian, demi melaksanakan tanggung jawab mereka, jika perlu mereka lebih
139Senang Mati, Tetapi Tidak
Mungkin.
Wahyu 9 : 6 : “Maka pada masa itu orang-orang akan kelak mencari mati, te-tapi tidak menemukannya; dan mereka lebih menyukai mati, tetapi kematian akan lari dari mereka.”
Pengalaman dari murid-murid Kristus yang pertama akan menjelaskan mengapa setelah “lima bulan” itu lewat orang-orang
75 akan menyukai mati, tetapi tidak mungkin. Walaupun aniaya besar menentang orang-orang setia dari gereja Kristen yang sederhana itu, namun pandangan mereka akan kebutuhan dunia yang besar terus mendorong mereka untuk memberitakan Injil Kristus walaupun dengan resiko nyawanya. Dan walaupun kematian yang terkejam sekalipun menunggui mereka, mereka dalam iman dan keberanian dalam Allah tetap menjunjung terang Injil itu ke hadapan orang banyak bagaikan matahari yang tetap mempertahankan sinarsinarnya atas bumi.
140Rasul yang menuju kematian itu memberikan kesaksiannya : “Aku datang ke Asia setelah bagaimana aku telah berada bersama kamu pada segala masa, sambil melayani Tuhan dengan segala keren-dahan hati, dan dengan banyak air mata, dan dengan banyak cobaan, yang me-nimpa aku oleh orang-orang Yahudi yang merencanakan jahat kepadaku : .....
“Maka sekarang, lihatlah, aku tahu bahwa kamu sekalian, di antara siapa aku telah memberitakan kerajaan Allah, kamu tidak akan melihat lagi wajahku. Oleh sebab itu pada hari ini aku menyata-kan kepadamu, bahwa aku adalah bersih dari darah sekalian orang. Karena tiada ku sembunyikan apa-apa, melainkan ku beritakan kepadamu semua kehendak
“Maka setelah kami mendengar sega-la perkara ini, maka baik kami, maupun mereka dari tempat itu, memohon dia jangan pergi ke Yerusalem. Lalu jawab Paulus : Apakah gunanya kamu mena-ngis dan menghancurkan hatiku? Karena 141 aku ini rela bukan hanya untuk diikat, melainkan juga untuk mati di Yerusalem demi nama Tuhan Yesus.” Kisah Rasul-
Oleh berkhotbah dalam nama Kristus, maka orang-orang Kristen di zaman Paulus benar-benar telah berusaha mencari ke-
76 matian. Karena menganggapnya sebagai kesempatan istimewa yang terbesar dan hormat untuk mati bagi-Nya, mereka ingin berbuat begitu jika sekiranya oleh kematian mereka orang lain dapat memperoleh hidup kekal.
Walaupun umat Allah zaman ini akan maju melewati suatu “masa kesusahan besar yang sedemikian itu belum pernah ada” (Daniel 12 : 1), apabila pengadilanpengadilan di bumi akan kelak memerintahkan “bahwa seberapa banyak orang yang tidak mau menyembah patung bina-tang itu akan dibunuh” (Wahyu 13 : 15), namun Firman menyatakan : “..... pada masa itu umatmu akan dilepaskan, yaitu setiap orang yang kelak didapati nama-nya tertulis di dalam kitab.” Daniel 12 : 1.
142Oh betapa indahnya janji dan jaminan itu! Siapakah yang dapat mengerti kuasa Allah yang hebat, dan kemuliaan kelepasan yang telah lama dinanti-nantikan ini? Mereka yang sepenuhnya berbuat, dan yang sepenuhnya menaruh harap kepada Tuhan, demi kebaikan umat-Nya, “maju terus kepada-Nya di luar tempat perke-mahan, sambil menanggung kecelaan.”
Dalam menempuh jalan yang sedemikian ini melawan semua penghargaan bumi (oleh memberitakan pekabaran dari hal “jam”), mereka akan maju “pergi bagaikan domba-domba di antara serigalaserigala” (Matius 10 : 16) – “sambil mencari kematian”. Dan walaupun senang untuk “mati” demi Kristus, atau, sebagaimana yang diucapkan oleh Pewahyu, walaupun mereka “kelak akan lebih menyukai mati”, janji itu adalah bahwa “kematian akan lari dari mereka”, sehingga mereka tidak mungkin mati. Bahkan pedang orangorang jahat sekalipun diacungkan untuk membunuh mereka, ia itu akan patah dan jatuh “tak berdaya bagaikan jerami” (Early 143 Writings, p. 34), sehingga membuat mereka itu tak terkalahkan.
“Pada hari itu”, demikian firman Tuhan, “barangsiapa yang kelak berusaha menyelamatkan nyawanya akan kehila-ngan nyawanya; tetapi barangsiapa yang hendak kehilangan nyawanya akan mempertahankannya.” Lukas 17 : 31, 33. Tegasnya, hanya mereka yang “ingin mati” demi Kristus akan memperoleh hidup yang kekal.
“Satu celaka (trompet yang kelima) sudah berlalu; dan, tengoklah, datang la-gi kemudian dua celaka” (Wahyu 9 : 12), yang selanjutnya terdapat di dalam
TROMPET YANG KEENAM.
Wahyu 9 : 13 sampai pasal 11 : 14
Wahyu 9 : 13, 14 : “Maka malaikat yang keenam itu meniupkan trompetnya, lalu aku dengar suatu suara keluar dari empat tanduk dari medzbah keemasan yang berada di hadapan hadirat Allah, 144 yang mengatakan kepada malaikat yang keenam yang memegang trompet itu, Lepaskanlah empat malaikat yang terikat di sungai Efrat yang besar itu.”
Karena keluar dari “medzbah keemasan”, maka perintah : “Lepaskanlah empat malaikat itu”, menunjukkan bahwa trompet yang keenam itu berbunyi kira-kira menjelang tirai yang menuju ke ruangan tempat Yang Maha Suci dari kaabah sorga itu diangkat. Sebab jika tidak, suara itu tidak mungkin datang dari tahta — tempat Yang Maha Suci. (Bagi penjelasan yang lebih terinci dari hal dibukanya tirai itu, lihatlah Traktat No. 3, “Penuaian”). Tetapi sebagaimana yang telah ditunjukkan, kita masih berada dalam periode trompet yang kelima, suatu kenyataan yang mendorong orang bertanya : “Lalu, bagaimanakah trompet yang keenam itu dapat berbunyi sebelum peristiwa-peristiwa dari trompet yang kelima berakhir?”
78
Dapatlah dilihat bahwa walaupun setiap trompet itu mulai pada waktu-waktunya yang pasti, namun trompet-trompet 145 itu yang satu meliputi yang lainnya, dan semua ketujuh trompet itu diperluas sampai kedatangan Kristus yang kedua kali. Ini terlihat oleh adanya kebenarankebenaran dari ketujuh trompet itu saling berdampingan. Air bah (trompet yang pertama), pergerakan eksodus (trompet yang kedua), turunnya Alkitab Wasiat Lama (trompet yang ketiga), sidang memasuki masa tawanannya (trompet yang keempat), kedatangan Kristus yang pertama dan peristiwa-peristiwa susulannya (trompet yang kelima), sekaliannya ini sedang berbunyi dengan makin lebih keras di waktu ini daripada sebelumnya. Dan karena kebenaran-kebenaran inilah yang membentuk Injil bagi masa kini, maka terbukti bahwa walaupun trompettrompet itu datang secara berurutan, masing-masingnya mulai pada masa yang berbeda-beda, namun sekaliannya itu dengan penuh kekuatan berlangsung sampai kepada akhir dunia, berakhir bersama-sama. Dengan demikian penolakan terhadap yang satu akan sama saja halnya dengan penolakan terhadap tujuh kese- 146 luruhannya, secara tegas ditarik pelajaran bahwa menolak kebenaran yang satu adalah sama dengan menolak seluruh kebenaran.
Dari Wahyu 9 ayat 14 dimulai gambaran dari hal trompet yang keenam, dan ia itu berakhir dengan Wahyu 11 ayat 14 yang mengumumkan: “Celaka yang kedua (trompet yang keenam) sudah berlalu; maka, tengoklah, celaka yang ketiga datang dengan segeranya”. Sesuai dengan itu, maka setiap peristiwa nubuatan yang terdapat di antara Wahyu 9 : 14 dan Wahyu 11 : 14 harus menemukan kegenapannya dalam masa periode trompet yang keenam — di antara celaka yang pertama dan yang kedua.
Oleh terang kenyataan ini, dapatlah kita lihat bahwa masa di mana “kedua saksi” dari Wahyu 11 : 3 harus “bernubuat 79 seribu dua ratus enam puluh hari, dengan berpakaian karung”, harus jadi pada masa peniupan trompet yang keenam. Dan karena terdapat dalam future tense (masa yang akan datang), maka sebutan, “akan 147 bernubuat seribu dua ratus enam puluh hari” (Wahyu 11 : 3), menunjukkan bahwa pada waktu trompet itu mulai berbunyi, periode 1260 hari ini masih di depan.
Suara yang datang dari medzbah keemasan, mengatakan “Kepada malaikat yang keenam yang memegang trompet itu, Lepaskanlah empat malaikat yang terikat di sungai Efrat yang besar itu”. Untuk mengenali “empat malaikat itu”, maka kita harus pertama sekali memahami arti yang sebenarnya dari sungai Efrat itu.
Ibu kota dari Babilon kuno telah dibangun pada kedua sisi dari sungai Efrat, dengan demikian sungai itu telah membagi kota itu menjadi dua bagian. Sungai itu juga merupakan sumber air yang mengairi kolam pertahanan sekeliling kota itu. Demikianlah, karena orang-orang Babilon kuno adalah yang pertama sekali membangun pada kedua tepi sungai Efrat, dan karena aplikasi yang murni harus di kaitkan kepada para penduduk yang mula-mula tinggal di sana, maka “sungai Efrat yang besar” itu muncul sebagai se- 148 buah contoh dari “segala air.... dimana perempuan sundal besar itu duduk” (Wahyu 17 : 15) — yaitu Babilon modern. Dan kebenaran yang penting ini diperluas oleh kenyataan bahwa kota kuno, yaitu Babilon, pada waktu ini tidak terdapat di manapun juga, sedangkan nubuatan menyebutkan untuk sebuah Babilon yang ada sekarang.
Kini supaya terdapat sebuah Babilon modern, maka harus perlu terulang kembali pada waktu ini keadaan-keadaan dan 80 peristiwa-peristiwa yang terutama menggambarkan sifat Babilon kuno yang dahulu dalam kaitannya dengan umat Allah. Dengan sendirinya, perhambaan mereka di Babilon contoh (Yeremia 29 : 10), harus menemukan kesamaannya yang sejajar pada Babilon contoh saingannya. Oleh karena itu, sangat jelas, bahwa adanya malaikat “yang terikat di sungai Efrat yang besar itu” harus melambangkan Gereja Kristen selama masa periode perhambaannya di dalam Babilon contoh saingannya — “negeri yang besar itu” yang bangkit sesudah zamannya Yohanes.
149Selanjutnya, pernyataan yang dibuat oleh suara yang datang dari medzbah keemasan, “Lepaskanlah empat malaikat yang terikat itu”, secara ringkas menunjukkan bahwa pada waktu “suara” itu berbicara, sidang (malaikat-malaikat) sudah berada dalam tawanan dan akan dilepaskan.
Wahyu 9 : 15, bagian pertama : “Dan lepaslah keempat malaikat itu.”
Pelaksanaan perintah, “Lepaskanlah empat malaikat”, berarti membebaskan sidang dari tawanannya di Babilon, yang berakhir dengan dibebaskannya dari perhambaannya yang sekian lama di bawah kekejaman dari pemerintahan gabungan gereja-negara, dan dengan dikembalikannya Alkitab kepada umat Allah, sehingga mereka dapat mempelajarinya dan berbakti dalam takut dan bukan dalam persetujuan manusia, melainkan dalam tanggung jawab kepada hanya hati nurani dan kepada Allah mereka. Setelah bubarnya gabungan gereja-negara itu, maka “empat malaikat” itupun bebaslah.
150Wahyu 9 : 15, bagian akhir : “.... yang sudah bersedia untuk sejam, dan sehari, dan sebulan, dan setahun untuk mem-bunuh sepertiga dari manusia.”
81
Kegenapan dari ramalannya Josiah Litch (yang mengkalkulasikan “satu jam, dan satu hari, dan satu bulan, dan satu tahun” dari Wahyu 9 : 15 itu menjadi jumlah 391 tahun dan 15 hari, dengan menghitung sehari untuk setahun seperti yang terdapat di dalam Yehezkiel 4 : 6) adalah kesamaan kebenaran yang kuat yang akan ditemukan dalam hasil interpretasi dari Uriah Smith terhadap trompet-trompet itu. Maka sedikit mengherankan, bahwa anjuran-anjuran dari kata-kata itu sedang menguntungkan mereka untuk membuat orang banyak percaya dengan cara mempertahankan dengan gigih bahwa buku The Great Controversy menunjang pendirian yang ditegakkan oleh ramalan Litch.
“Dalam tahun 1840”, demikian bunyi catatan yang disebut di atas, “suatu ke- genapan nubuatan yang lain yang menak- jubkan telah menarik perhatian luas di 151 mana-mana. Dua tahun sebelumnya, Joseph Litch, salah seorang pendeta yang terkemuka yang mengkhotbahkan keda- tangan Yesus Kristus yang kedua kali, telah menerbitkan suatu hasil penyelidi- kan terhadap Wahyu pasal 9, meramal- kan keruntuhan kerajaan Ottoman. Se- suai dengan perhitungannya penguasa ini akan diruntuhkan ‘dalam tahun 1840 tarik masehi, yaitu kira-kira dalam bulan Agustus’ .....
“Tepat pada masa yang ditentukan itu, maka Turki, melalui para duta besarnya, telah menerima perlindungan dari perse- rikatan penguasa-penguasa di Eropa, dan dengan demikian ia telah menempatkan dirinya di bawah pengawasan bangsa- bangsa Kristen. Peristiwa itu secara tepat telah menggenapi ramalan itu.” The Great Controversy, pp. 334, 335.
Untuk mengatakan apa yang dikatakan oleh The Great Controversy, sepenuhnya diperbolehkan, tetapi untuk mengatakan bahwa itu menunjang pendapat bahwa hasil interpretasi Josiah Litch terhadap 82 “jam”, “hari”, “bulan”, dan “tahun”, itu berlandaskan Alkitab menunjuk kepada suatu periode “391 tahun, 15 hari”, yang berakhir pada tahun 1840 Tarik Masehi, sama sekali tidak dapat dibenarkan. Apalagi, peristiwa yang terjadi dalam tahun 1840 itu tidak menggenapi ramalan Alkitab, karena mudah saja alasannya bahwa pada akhir dari “jam, dan ..... hari dan ..... bulan, dan ..... tahun itu”, empat malaikat itu akan “membunuh sepertiga bagian dari segala manusia.” Walaupun demikian, pada kenyataannya, pada tanggal sewaktu ramalan Litch digenapi, sama sekali tidak terjadi pembunuhan apapun, dan gantinya Turki di taklukkan, ia ternyata telah ditempatkan di bawah perlindungan bangsa-bangsa Eropa tanpa pertumpahan darah! Selanjutnya, “keempat malaikat” itu, dan bukan sesuatu bangsa (karena sesuatu bangsa tidak pernah dilambangkan oleh malaikat-malaikat), yang akan dibebaskan, lalu kemudian mereka akan membunuh “sepertiga bagian dari segala manusia”, sedangkan sebaliknya orang-orang Turki itu tidak membunuh seorangpun, 83 melainkan gantinya mereka itu dibebaskan, mereka benar-benar telah ditempatkan di bawah pengawasan. Kemudian selanjutnya, Yohanes mendengar bahwa jumlah mereka itu yang akan melaksanakan pembunuhan itu adalah benar-benar 200.000.000 orang pasukan kuda (“orangorang berkuda”), tetapi Turki belum pernah memiliki pasukan berkuda sebanyak itu selama sejarahnya!
Karena telah terlihat bahwa “api”, “asap”, dan “belerang” itu adalah simbolis bukan yang sebenarnya, dan karena sekaliannya itu bukan keluar sebagai suatu berondongan yang keluar dari senjata yang terdapat di tangan prajurit Turki, maka dengan sendirinya kita dibawa untuk menyelidiki lebih jauh lagi terhadap arti dari sekaliannya itu. Dengan berbuat demikian kita akan menemukan, bahwa ayat 20 mengungkapkan, bahwa api, asap, dan belerang simbolis itu akan menghasilkan “bela-bela”. Oleh sebab itu, bukan senjatasenjata api, melainkan bela-bela yang akan merupakan alat dengan mana para tentara berkuda itu akan membunuh “sepertiga 83 154 dari segala manusia”.
Oleh karena “manusia-manusia yang lainnya yang tidak terbunuh oleh belabela ini, berpalingpun tidak daripada segala perbuatan tangannya, melainkan senantiasa menyembah segala Setan dan segala berhala emas, perak, tembaga, batu, atau kayu, yang tidak dapat melihat atau mendengar ataupun berjalan” (Wahyu 9 : 20), maka tujuan dalam membantai sepertiga dari segala manusia jelas bukan untuk menyelesaikan sesuatu keinginan akhir pribadi, melainkan sebaliknya untuk membantu manusia bertobat.
Kembali kepada ramalan dari Litch, dapatlah jelas terlihat bahwa The Great Controversy itu bukan mencoba dalam apa yang dikatakannya dari hal ramalan itu, untuk menjelaskan masalah trompettrompet itu. Ia itu hanya sedang mencatat suatu peristiwa sejarah. Oleh sebab itu pernyataannya, “dalam tahun 1840, suatu kegenapan nubuatan yang lain yang menakjubkan telah menarik perhatian luas di mana–mana”, tidak semestinya diartikan 155 sebagai menunjang hasil interpretasinya Josiah Litch terhadap nubuatan dari Pewahyu itu, melainkan itu hanya mencatat kegenapan dari ramalannya yang didasarkan pada buku Wahyu. Dengan demikian, maka itu adalah pendirian dari Litch, bukan pendirian Alkitab ataupun The Great Controversy yang “benar-benar telah menggenapi ramalan itu”.
Tetapi orang mungkin bertanya : “Jika sekiranya Wahyu 9 : 15, pada mana ramalan Josiah Litch tentang tanggal yang di permasalahkan itu telah dibangun, tidak menemui kegenapannya pada masa yang ditunjukkannya, lalu apakah yang membuat orang-orang Turki itu pada tanggal yang ditetapkan sehingga mereka menyambut bangsa-bangsa Kristen sebagai pelindungnya? Apakah Setan secara licik menghantarkan orang-orang Turki itu kepada syarat-syarat mengenai waktu
84 yang diramalkan oleh Litch, supaya mencegah dan menghilangkan kepercayaan terhadap kebenaran yang indah dari hal trompet-trompet ini sehingga dengan begitu melindungi semua penipuannya di 156 dalam sidang dengan sekuat-kuatnya?
Mengenai hal itu, kita tidak tahu, tetapi inilah yang kita ketahui : bahwa walaupun kenyataannya Litch secara tidak sengaja telah menyalah-gunakan kata-kata Firman, namun tepat pada hari yang diramalkannya bagi “runtuhnya kerajaan Ottoman itu”, sesuatu kekuatan telah menaruh kerajaan itu ke bawah “perlindungan persekutuan penguasa-penguasa Eropa”.
Dengan demikian walaupun memang bahwa pada tanggal yang ditentukan itu sesuatu telah jadi terhadap Turki, namun bahkan lebih jelas lagi bahwa kejadian ini sama sekali tidak menggenapi nubuatan Alkitab. Namun demikian cukuplah, bahwa Tuhan telah membalikkan ramalan Litch menjadi suatu berkat :
“Setelah ia itu diketahui umum, maka banyak orang menjadi sadar akan ke- tepatan dari prinsip-prinsip interpretasi nubuatan (mengenai 2300 hari) yang di- pegang oleh Miller dan kawan-kawannya, dan suatu daya dorong yang ajaib telah 157 dikaruniakan kepada pergerakan Advent. Orang-orang yang berkedudukan dan terpelajar menggabungkan diri dengan Miller, baik dalam mengkhotbahkan mau- pun dalam menerbitkan pandangan-pan- dangannya, sehingga semenjak dari tahun 1840 sampai 1844 pekerjaan itu meluas dengan cepatnya.” The Great Controversy, p. 335.
Pernah orang menyerang hasil-hasil penemuan astronomi dari Galileo. Mereka bahkan memaksanya untuk meninggalkan pendiriannya bahwa bumi adalah bulat. Namun penyerangan mereka melawan kebenaran itu tidak akan membuat bumi menjadi rata. Sama saja halnya setiap orang yang menyerang bukti-bukti kenyataan yang jelas bahwa Wahyu 9 : 15 ti-
85 dak menemui kegenapannya dalam tahun 1840, atau, secara terus terang mencoba menggelapkan terang atas setiap kebenaran Alkitab lainnya, ia sedikitpun tidak dapat menggelapkan atau menggagalkannya, melainkan hanya akan menggelapkan dan menggagalkan dirinya sendiri.
158Tetapi setelah mengikuti semua kepentingan pendapat-pendapat kesenangan mereka, mereka telah mengacaukan pikiran para anggota dengan salah mengartikan ajaran dari Tongkat Gembala, sehingga musuh-musuh Kebenaran Sekarang itu di waktu ini tidak akan ragu-ragu berbuat yang sama terhadap buku ini dan terhadap pernyataan dari buku The Great Controversy mengenai ramalan Litch. Oleh sebab itu, maka hendaklah mereka yang telah terbiasa membiarkan orang lain berpikir bagi dirinya, tetapi masih memikirkan akan kebahagiaannya yang kekal itu, supaya dinasehati keluar dari bahaya yang mematikan dari jalan yang sedemikian itu, dan supaya berhati-hatilah menolak kebenaran. Karena Roh Kebenaran mengatakan: “Bahaya besar berada de- ngan umat kita ialah karena mereka ber- gantung pada manusia, dan menjadikan daging sebagai pegangannya. Orang-orang yang tidak terbiasa menyelidiki sendiri Alkitab bagi dirinya, atau menimbang- nimbang akan kenyataan, menaruh harap kepada para pemimpin, lalu menerima saja 159 semua keputusan yang dibuat oleh mereka; sehingga demikianlah banyak orang akan menolak pekabaran-pekabaran Allah yang penting yang dikirim kepada umat-Nya, jika sekiranya saudara-saudara pemimpin ini tidak mau menerimanya.” Testimonies to Ministers, p. 106.
Kini selanjutnya, kita mengarahkan perhatian kita kepada kebenaran mengenai empat malaikat itu, “yang telah siap untuk satu jam, dan satu hari, dan satu bulan, dan satu tahun, untuk membunuh seper-tiga dari segala manusia.” (Wahyu 9 : 15,
86 bagian terakhir).
Terjemahan secara terbatas memberikan kata depan “pada” menggantikan “untuk”, membuat ayat itu terbaca : “pada satu jam, dan satu hari, dan satu bulan, dan satu tahun”. Lebih tepat lagi diterjemahkan, maka ia itu akan terbaca : “Pada suatu jam, pada suatu hari, pada suatu bulan, dan pada suatu tahun”. Dengan demikian telah ditunjukkan empat hal pada waktunya “pada” mana empat malaikat itu harus bersedia “untuk membunuh sepertiga dari 160 segala manusia”. Dan sebagaimana telah kita lihat, “sepertiga bagian” dalam trompet-trompet itu melambangkan orangorang yang menolak himbauan Allah kepada mereka untuk bertobat supaya diselamatkan, maka sesuai dengan itulah, malaikat-malaikat itu mempersiapkan diri mereka pada empat kesempatan yang berturut-turut bagi pelaksanaan hukuman mati yang terakhir terhadap “sepertiga dari segala manusia”, menunjukkan bahwa orang-orang itu akan menolak suatu pekabaran empat langkah (empat ajaran), yang masing-masing langkahnya diungkapkan secara berturut-turut sebagai berikut :
(1) Satu-satunya ungkapan kebenaran
yang berkenan dengan dan sampai
“pada suatu jam” ialah pemberitaan
tentang pengumuman malaikat yang
berbunyi : “Takutlah akan Allah, dan
muliakanlah Dia; karena jam pehu-
kuman-Nya ada datang”. Wahyu 14 : 7.
(2) Satu-satunya ungkapan kebenaran
yang berkenan dengan dan sampai 161 “pada suatu hari” ialah amaran mengenai “hari pembalasan” (Yesaya 63 : 4), yaitu “hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu”, yang akan diberitakan oleh “nabi Eliyah” yang dijanjikan itu. Maleakhi 4 : 5; Testimonies to Ministers, p. 475.
(3) Satu-satunya ungkapan yang berkenan dengan dan sampai “pada suatu bulan” ialah “hujan akhir pada bulan yang
87 pertama” (Yoel 2 : 23) — yaitu terang dari malaikat yang akan menerangi bumi dengan kemuliaannya (Wahyu
Lalu “kemudian”, demikian firman Tuhan, “Aku akan mencurahkan Roh- Ku ke atas segala manusia.” Yoel 2 : 28. Janji nubuatan yang mulia, ini memberikan kuasa bahwa Allah akan menganugerahkan atas segala utusan- Nya yang akan memberitakan pekabaran yang diungkapkan pada waktunya “mengenai hujan akhir”. “Pada waktu yang tepat”, demikian kata Roh Nubuat, “Ia mengutus hamba-hamba- Nya yang setia untuk melaksanakan 162 suatu tugas yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Eliyah.” Testimo-nies, vol. 5, p. 254. (Untuk penyelidikan selanjutnya mengenai hujan akhir, agar bacalah buku Tongkat Gembala jilid 2).
(4) Dan, akhirnya, satu-satunya ungkapan yang berkenaan dengan dan sampai “pada suatu tahun”, lalu mempersiapkan empat malaikat itu “untuk membunuh sepertiga dari segala manusia” ialah, “tahun penebusan-Ku”, demikian firman Tuhan. Yesaya 63 : 4. Maka “tahun” ini pada mana umat-Nya akan ditebus, tentunya, ialah masa pemeteraian itu dan masa kelepasan mereka yang 144.000 itu — mereka yang ditebus, mereka yang luput dari pembantaian yang dinyatakan di dalam Ye- hezkiel pasal 9. Dari hal mereka ini, Tuhan berfirman : “Aku akan menem-patkan suatu tanda di antara mereka, dan Aku akan mengutus mereka yang luput dari sekalian mereka itu kepada segala bangsa,.. kepada segala pulau yang jauh-jauh, yang belum mende-ngar nama-Ku, dan yang belum me-
163lihat kemuliaan-Ku; maka mereka
akan memberitakan kemuliaan-Ku
di antara segala bangsa Kapir. Dan
mereka akan menghantarkan kepada
Tuhan semua saudaramu bagi suatu
persembahan dari segala bangsa .....
ke bukit kesucian-Ku Yerusalem,...
88
di dalam suatu bejana yang bersih ke
dalam rumah Tuhan.” Yesaya 66 : 19,
20.
Empat pekabaran ini mempersiapkan empat malaikat itu “untuk membunuh sepertiga dari segala manusia” — yaitu semua orang yang gagal menerima ke dalam hidupnya kebenaran Injil yang menyelamatkan seperti yang diungkapkan dalam empat pekabaran itu. Kesimpulannya, mereka adalah, (1) orang-orang yang menutup telinganya dari pekabaran dari hal pehukuman yang diungkapkan “pada satu jam”; (2) orang-orang yang tidak mau menaruh perhatian kepada amaran serius mengenai hari pembalasan Allah itu, yang diungkapkan “pada suatu hari”; (3) orang-orang yang tidak memperoleh hujan akhir, yang datang “pada suatu 164 bulan”; dan (4) orang-orang yang tidak mau menggabungkan diri dengan “umat tebusan-Nya” (mereka yang 144.000 itu), yang dimeteraikan “pada suatu tahun”. Semua mereka ini yang gagal membuat persiapan yang diperlukan bagi tanah yang permai setelah kebenaran itu diberitakan kepada mereka, mereka akan binasa di bawah perintah para malaikat penunggang kuda itu yang bala tentaranya berjumlah “dua ratus juta orang”.
Wahyu 9 : 16 - 19 : “Adapun banyaknya segala tentara berkuda itu dua ratus juta orang : dan aku dengar jumlah mereka. Dan demikianlah aku melihat kuda-kuda itu dalam khayal, berikut mereka yang menungganginya, yang memakai baju be-si yang dari api, dan dari warna biru tua, dan dari belerang. Dan kepala dari kuda-kuda itu adalah seperti kepala-kepala singa, dan dari mulut mereka itu keluar api, asap dan belerang. Oleh ketiganya ini sepertiga dari segala manusia dibunuh, yaitu oleh api, dan oleh asap, dan oleh belerang, yang keluar dari mulut mereka itu. Karena kuasa dari segala kuda itu 165 terdapat di dalam mulutnya dan di dalam ekornya : karena ekor-ekor mereka itu adalah seperti ular, dan berkepala, dan dengan kepala-kepala itulah mereka menyakiti”.
Ayat-ayat ini segera menimbulkan pertanyaan : Siapakah “pasukan kuda” dan “kuda-kuda”, yang masing-masingnya berjumlah 200.000.000, yaitu “bala tentara” yang akan “membunuh sepertiga dari segala manusia?”
Dalam menjawab pertanyaan ini hendaklah diingat bahwa sebagaimana “empat malaikat” itu akan “ membunuh sepertiga dari segala manusia”, juga bahwa mereka itu melambangkan pekabaran empat rangkap yang dikemukakan dalam paragraf-paragraf yang terdahulu. Oleh sebab itu, maka tidak salah lagi, bahwa “pasukan” “ berkuda” itu melambangkan para pengerja yang memberitakan pekabaran yang terakhir.
Bahwa lambang kuda-kuda, adalah tepat diinterpretasikan menunjuk kepada 166 pengerja-pengerja Injil adalah selanjutnya dikemukakan oleh Zakharia 14 : 20. Di sana, kuda digunakan untuk melambangkan para pengkhotbah, yaitu mereka yang membunyikan “lonceng” -- tanda bahaya, pekabaran keselamatan. Oleh sebab itu seperti halnya “belalang-belalang” mereka juga melambangkan utusan-utusan Allah, tetapi dalam keadaan yang berbeda. (Bagi penjelasan yang lebih luas mengenai arti simbolis tentang kuda, bacalah Traktat No. 2 yang berjudul, Paradoks dari Zakharia Pasal 6).
Dengan demikian karena kuda-kuda melambangkan para pengabar Injil, dan karena mereka itu diawasi dan dikendalikan oleh para penunggangnya (mahlukmahluk samawi), maka “pasukan kuda” itu, dengan sendirinya ikut, melambangkan rombongan besar malaikat-malaikat yang memimpin dan mengarahkan orangorang suci dalam tugasnya memberitakan pekabaran dan, sebagai akibatnya, membunuh sepertiga dari segala manusia yang menolak pekabaran itu. Tetapi karena adalah para penunggang, dan bukan kuda- 167 kuda, yang membunuh apabila terlibat dalam peperangan, maka mahluk-mahluk samawi ini, yaitu pasukan malaikat berkuda, adalah orang-orang yang benar-benar melakukan pembunuhan itu. Karena sebab itulah, mereka memiliki “baju besi yang dari api (pelindung dari Roh), dan dari warna biru tua, dan dari belerang.”
Jadi, kita mungkin bertanya, apakah “kekuatan” dari kuda-kuda itu? Sudah kita pelajari, bahwa 200.000.000 kuda ini melambangkan suatu bala tentara besar para pengabar Injil, yang dari bibir mereka keluar suatu pekabaran yang mempunyai arti hidup atau mati. Oleh sebab itu, maka, itulah kuasa yang di dalam mulut mereka itu. Dengan sendirinya, maka “api”, “asap”, dan “belerang”, yang keluar “dari mulut mereka itu”, melambangkan pekabaran yang mereka beritakan : yaitu kuasa Roh Suci (“api”), pengorbanan Kristus (“asap”), dan pehukuman-pehukuman Allah yang membinasakan (“belerang”). Oleh pekabaran tiga rangkap ini “sepertiga dari manusia mati dibunuh.” Wahyu 9 : 18.
168“Bangsa dan kerajaan yang tidak mau berbakti kepada-Mu akan binasa; sesungguhnya, bangsa-bangsa itu akan kelak dihapuskan sama sekali.” Yesaya 60 : 12.
Firman Tuhan : “Angkatlah olehmu sebuah panji-panji, di atas gunung yang tinggi (sidang Allah yang suci), nyaring-kanlah suaramu (pemberitaan Injil) ke-pada mereka, isyaratkanlah dengan ta-nganmu, supaya mereka dapat masuk ke dalam pintu-pintu gerbang orang-orang yang mulia. Aku sudah memerintahkan kepada segala orang yang telah Ku sucikan (pihak kependetaan -- “dua ratus juta” “kuda”), Aku juga sudah memang-gil segala pahlawan-Ku (rombongan besar 91 malaikat — “dua ratus juta penunggang kuda”) karena murka-Ku, yaitu mereka yang bersuka cita dalam kebesaran-Ku. Bunyi gemuruh (bala tentara dari Wahyu 9 : 16) di atas gunung-gunung, seperti bu-nyi orang banyak; suatu bunyi gemuruh kerajaan-kerajaan segala bangsa yang berhimpun : Tuhan serwa sekalian alam memeriksa bala tentara peperangan itu. 169 Mereka datang dari sebuah negeri yang jauh, dari hujung langit, bahkan juga Tuhan, dan semua senjata murka-Nya, untuk membinasakan seluruh negeri.”
“Menangislah kamu; karena hari Tu-han itu sudah dekat; ia itu akan datang bagaikan suatu kebinasaan dari Yang Maha Kuasa. Sebab itu lemahlah kelak segala tangan, dan hati setiap orang akan mencair; dan mereka akan menjadi takut: dukacita dan kepedihan akan menghing-gapi mereka; mereka akan menggeliat kesakitan bagaikan wanita yang hendak beranak : mereka akan memandang de-ngan tercengang satu terhadap lainnya; wajah mereka akan merah bagaikan nya-la api. Tengoklah, hari Tuhan itu datang, dengan bengis dan geram dengan murka yang sangat, hendak menjadikan negeri itu sunyi : maka Ia akan menumpas sega-la orang berdosa dari dalamnya. Karena segala bintang di langit dan segala gugu-sannya tidak akan memberikan cahaya-nya : matahari akan digelapkan sejak dari terbitnya, dan bulan pun tidak akan me-170 nyinarkan cahayanya. Maka Aku akan menghukum dunia karena kejahatannya, dan segala orang jahat karena segala perbuatan mereka itu; dan Aku akan menghentikan segala kecongkakan orang sombong dan merendahkan keangkuhan orang lalim. Aku akan membuat seorang laki-laki lebih berharga daripada emas murni; bahkan seorang manusia lebih mahal daripada emas tua dari Ofir. Oleh 92 sebab itu, Aku akan mengguncangkan segala langit, dan bumi akan berpindah dari tempatnya, dalam murka Tuhan serwa sekalian alam, dan pada hari kehangatan murka-Nya itu.” Yesaya 13 : 2 - 13.
“Maka Elisha berdoa, sembahnya, Ya Tuhan, celekkanlah kiranya matanya, su-paya ia dapat melihat. Maka dicelekkan Tuhan kedua mata orang muda itu, lalu ia melihat : dan heran, gunung itu penuh dengan kuda dan kereta-kereta berapi mengelilingi Elisha.” 2 Raja-Raja 6 : 17.
Kalau saja mata kita terbuka seperti halnya mata “orang muda itu”, maka kita 171 juga akan melihat suatu bala tentara besar malaikat yang mengelilingi “Elisha-Elisha” zaman ini.
Dan sekarang mengenai apa yang mengembangkan jumlah pengkhotbah-pengkhotbah itu dari 144.000 sampai mencapai 200.000.000, Tuhan mengatakan : “Aku juga akan mengambil dari antara mereka itu (dari antara mereka yang akan dibawa keluar oleh rombongan 144.000 itu dari “segala bangsa”, sesudah kegenapan Yesaya 66 : 16 -- pembersihan sidang) untuk menjadi imam-imam dan orang-orang Lewi.” (Yesaya 66 : 21). Kenyataan dari rombongan besar pengerja yang sedemikian ini dengan sendiri membuktikan, bahwa mereka akan terlibat dalam tugas penuaian dunia.
Di sini dalam jaminan kata-kata-Nya, Allah meramalkan dalam tujuan yang jelas, bahwa banyak dari antara mereka itu yang akan dibawa-Nya ke dalam sidang setelah pembersihan yang akan datang, mereka akan menggabungkan diri dengan rombongan 144.000 itu dalam memberitakan pekabaran kepada seluruh dunia, apa- 93 bila bumi akan diterangi dengan kemuliaan dari malaikat itu (Wahyu 18 : 1).
Kemudian kelak “orang-orang asing akan membangun segala pagar tembok-mu”, demikianlah firman Tuhan, “dan se-gala raja mereka akan melayani engkau : karena oleh kehangatan murka-Ku sudah Ku palu engkau .... Juga anak-anak mereka yang sudah menganiaya engkau akan datang kepadamu dengan menunduk-nunduk; dan semua mereka yang telah meremehkan dikau akan menyembah sujud di kakimu; maka mereka akan memanggilmu, negeri Tuhan, Sion dari Yang Maha Suci Israel... Kekerasan tidak akan lagi terdengar di dalam negerimu, kebinasaan ataupun keruntuhan di dalam segala perbatasanmu; melainkan engkau akan menyebut segala pagar tembokmu Keselamatan, dan segala pintu gerbang-mu Pujian. Bagimu matahari tidak akan lagi menjadi terang pada siang hari; begitu juga cahaya bulan tidak akan me-nyinari kamu : tetapi Tuhan akan men-jadi penerang yang kekal bagimu, dan 94 Allahmu akan menjadi kemuliaanmu.”
“Maka akan jadi kelak, bahwa di-seluruh tanah itu, demikianlah firman Tuhan, dua bagian daripadanya akan ditumpas dan mati; tetapi sepertiga ba-giannya akan tertinggal di dalamnya. Maka Aku akan menghantarkan seperti-ga bagiannya itu melewati api, dan Aku akan membersihkan mereka itu bagaikan perak yang dibersihkan, dan Aku akan menguji mereka itu bagaikan emas yang teruji : mereka akan memanggil nama-Ku, dan Aku akan mendengarkan mereka : Aku akan mengatakan, Inilah umat-Ku : dan mereka akan mengatakan, Tuhanlah Allahku.” Zakharia 13 : 8, 9.
Dua bagian binasa dan satu bagian selamat membuat keseluruhannya menjadi tiga bagian. “Sepertiga bagian” itu (Wahyu 9 : 15) akan dibunuh oleh api, asap, dan belerang (ayat 18), sebelum pintu kasihan ditutup. Orang-orang jahat yang sisanya yang akan dibunuh oleh tujuh bela yang terakhir itu (Wahyu 16) dan oleh kebesaran 174 cahaya kedatangan-Nya (2 Tesalonika 2 : 8), setelah pintu kasihan ditutup, merupakan sepertiga bagian yang lainnya. Orangorang yang selamat, sepertiga bagian yang terakhir, adalah “sepertiga bagian.... tertinggal di dalamnya.” Zakharia 13 : 8.
Wahyu 9 : 17 berbunyi : “Dan kepala dari kuda-kuda itu adalah seperti kepala-kepala singa.”
Singa, raja dari segala binatang, adalah kuat dan tidak mengenal takut. Sesuai dengan itu, maka pelayanan Injil yang terakhir, yang dilambangkan dengan kepala-kepala singa, adalah tidak mengenal takut dalam segala usahanya menyebarkan Injil kebenaran, dan akan menang atas segala bangsa.
Menyaksikan secara nubuatan kuasa kemenangannya, nabi Yoel menyatakannya : “Suatu bangsa yang besar dan kuat; yang seperti itu belum pernah ada semen-jak dari awal zaman, dan juga tidak akan ada lagi sesudah itu..... Di depan mereka terdapat suatu api yang memakan habis; dan di belakang mereka terdapat suatu 175 api yang bernyala-nyala : tanah itu adalah seperti taman Eden di hadapan mereka, dan di belakang mereka adalah suatu gurun yang sunyi; sehingga satupun tidak akan luput dari mereka.”
“Rupa mereka adalah seperti rupa kuda; dan seperti orang-orang berkuda, demikianlah mereka itu berlari. Seperti bunyi kereta-kereta di atas puncak gu-nung-gunung demikianlah bunyi lom-patan mereka, seperti bunyi suatu nyala api yang membakar jerami, seperti suatu bangsa yang kuat yang lengkap hendak berperang. Di depan wajah mereka orang akan menderita kesakitan : wajah semua orang akan menjadi pucat.
“Mereka akan berlari seperti orang-orang yang kuat perkasa; mereka akan memanjat pagar tembok seperti orang-orang perang; dan mereka akan berbaris masing-masing pada jalannya, dan tiada mereka itu merusak barisannya : mereka juga tidak akan mendesak satu terhadap yang lainnya; mereka akan berjalan ma-sing-masing pada jalannya : dan apabila 176 mereka jatuh dimakan pedang, maka mereka tidak akan terluka. Mereka akan berlari-larian ke sana kemari di dalam negeri; mereka akan berlarian di atas tembok, mereka akan memanjat rumah-rumah; mereka akan memasuki jendela-jendela seperti pencuri. Bumi akan ber-gempa di hadapan mereka itu; segala langit akan bergetar : matahari dan bulan akan menjadi gelap, dan segala bintang akan menyembunyikan cahayanya.” Yoel
“Maka orang-orang yang lagi tinggal dari Yakub”, demikian kata Mikha, “akan berada di tengah-tengah banyak bangsa bagaikan sebutir embun dari Tuhan, bagaikan hujan di atas rerumputan, yang tiada menantikan orang, atau berharap akan anak-anak manusia. Dan yang lagi tinggal dari Yakub akan berada di antara segala bangsa Kapir di tengah-tengah banyak bangsa seperti seekor singa di antara binatang-binatang di hutan, seperti seekor singa muda di antara kawanan domba : yang jika ia pergi, ia akan me-nginjak-injak dan dicabik-cabiknya ber-177 keping-keping, sehingga tiada seorang-pun dapat melepaskannya. Tanganmu akan ditinggikan atas semua musuh-mu-suhmu, maka semua musuhmu akan di-
“Maka pada hari itu”, Tuhan menambahkan, “Aku akan membuat Yerusalem menjadi sebuah batu tanggungan bagi segala bangsa : semua mereka yang membebani dirinya dengan batu itu akan ditumpas habis, sekalipun berhim-pun segala bangsa di bumi melawannya ..... Pada hari itu Tuhan kelak memper-tahankan semua penduduk Yerusalem; maka yang lemah di antara mereka pada hari itu akan jadi seperti Daud; dan ru-mah Daud akan jadi seperti Allah, seperti malaikat Tuhan di hadapan mereka itu.”
96
Wahyu 9 : 19, berbunyi : “Karena ke-kuatan mereka terdapat di dalam mulut mereka, dan di dalam ekor-ekor mereka.”
Seperti yang sudah kita saksikan, satusatunya kekuatan di dalam mulut umat 178 Allah ialah Firman yang mereka beritakan : ”Karena Firman Allah itu hidup, dan penuh kuasa, dan lebih tajam daripada setiap pedang yang bermata dua, yang memotong dalam sehingga memisahkan jiwa daripada roh, dan sendi daripada sum-sum, dan ia itu adalah penyelidik terhadap segala pikiran dan niat hati.”
“Kekuatan” “di dalam ekor-ekor mereka” --- di dalam apa yang mengikuti mereka itu --- ialah kekuatan yang ada pada pengikut-pengikut mereka yang mereka tobatkan. Ini terbukti oleh pengertian yang sama dari ekor belalang-belalang, yang (seperti dijelaskan terdahulu) melambangkan orang-orang bertobat yang ditobatkan oleh pelayanan orang-orang Kristen yang mula-mula. Jadi, sedemikian itu pula, ekor kuda-kuda itu melambangkan orangorang bertobat yang akan ditobatkan oleh pelayanan orang-orang Kristen akhir zaman. Karena memiliki “ekor-ekor ..... seperti ular-ular, dan ..... kepala-kepala, ..... dengan (mana) mereka menyakiti”, maka mereka adalah “suatu bangsa besar dan 179 kuat; belum pernah ada yang seperti itu, dan juga tidak akan ada lagi sesudah mereka itu”. (Yoel 2 : 2). Mereka adalah bala tentara Allah yang tak terkalahkan!
Demikianlah, umat Allah dalam pekerjaan penghabisan bagi dunia akan unggul dalam kemampuan bahkan melebihi murid-murid Kristen yang mula-mula. Iman, kebijaksanaan, tekad, dan semangat, yang sedemikian belum pernah dipunyai oleh bangsa lain, akan mengisi setiap umat percaya dengan suatu kekuatan yang setaraf, yang belum pernah sedemikian ini dipunyai oleh orang lain. Dengan sendirinya, maka di hadapan mereka itu “semua wajah orang akan menjadi pucat”, dan tak satupun yang kelak berhasil melawan mereka itu -- tak satupun, bahkan “pintu-pintu nerakapun” tidak.
97
Sebagaimana cepatnya orang-orang bertobat (“ekor-ekor”) menggabungkan diri dengan sidang di masa lalu telah menimbulkan kebencian musuh-musuh Kristus, yang ingin mempertahankan orang banyak itu di bawah pengawasan mereka, 180 demikian pula pertobatan rombongan besar orang banyak kepada sidang di waktu ini akan kelak “menyakiti” orangorang yang ingin tetap mempertahankan orang banyak di bawah pengawasan mereka. Dari kenyataan bahwa ekor-ekor yang menyerupai ular itu memiliki kepala dengan mana “mereka menyakiti”, menunjukkan bahwa orang-orang yang bertobat kepada sidang akan mengambil bagian secara aktif dalam pelayanan memberitakan Injil.
Setiap kuda memiliki sebuah kepala yang menyerupai singa dan “ekor-ekor” yang menyerupai ular, yang satu memandang ke depan dan yang lainnya mengawasi di belakang. Oleh sebab itu, mereka melambangkan hanya suatu barisan orang-orang yang tak terpisahkan, “sebagai sebuah bala tentara dengan pan- ji-panji”, yang pergi “maju terus ke selu- ruh dunia dengan kemenangan dan untuk memenangkan.” Prophets and Kings, p.
Susunan lambang itu -- yaitu penung- 181 gang, kepala singa, badan kuda, dan “ekor-ekor” yang menyerupai ular -- diperbandingkan dengan apa yang dimiliki “belalang-belalang” itu, menunjukkan bahwa jika orang-orang Kristen yang mula-mula telah dibunuh oleh musuh-musuh mereka bagaikan belalang-belalang yang tak berdaya, maka umat Allah di waktu ini kelak bagaikan kuda-kuda yang tak terkalahkan, akan tidak mengalami luka apapun juga pada tangan mereka. Malaikat-malaikat yang “menunggangi” mereka itu, adalah orang-orang yang walaupun tidak kelihatan oleh mata manusia, akan mengendalikan “setiap orang pada jalannya” (Yoel 2 : 8), dan merekalah, yang
98 “karena memiliki baju besi pelindung dari api, dan dari bahan yang berwarna ungu, dan dari belerang”, maka mereka akan mematahkan setiap pedang yang diparangkan terhadap orang-orang suci, sehingga pedang-pedang itu akan jatuh “tak berdaya bagaikan jerami”. (Bacalah buku Early Writings, p. 34, 285; The Great Controversy, p. 631; Life Sketches, p. 102).
Wahyu 9 : 20, 21 berbunyi : “Dan segala 182 manusia yang lainnya yang tidak dibu-nuh oleh segala bela ini berpalingpun tidak dari segala perbuatan tangannya, melainkan senantiasa berbakti kepada segala Setan dan segala berhala emas, perak, tembaga, batu, atau kayu : yang tiada dapat melihat, atau mendengar, ataupun berjalan : tidak juga mereka itu bertobat daripada membunuh orang, atau daripada hobatannya, atau zinahnya, atau daripada curinya.”
Kenyataan bahwa “segala manusia yang lainnya yang tidak dibunuh oleh” “api”, “asap”, dan “belerang” itu, berpaling pun tidak adalah jelas terbukti, bahwa pada penutupan peristiwa-peristiwa dari trompet yang keenam, dan pada permulaan peristiwa-peristiwa trompet yang ketujuh pekerjaan Injil akan diselesaikan, dan masa kasihan akan berakhir : “pada hari-hari suara trompet malaikat yang ketujuh, apabila ia kelak mulai meniupkannya, maka rahasia Allah akan diselesaikan, seperti yang dinyatakan-Nya kepada hamba-hamba-Nya para nabi”. Wahyu 10 : 7.
183Kemudian akan dikatakan : “Orang yang jahat, biarlah terus ia melakukan kejahatan, dan orang yang najis biarlah terus ia menjadi najis, dan orang benar, biarlah ia terus melakukan kebenaran, dan orang suci, biarlah ia terus menjadi
Kini untuk meneruskan urutan dari trompet yang keenam, maka kita sampai pada
99
Peristiwa-Peristiwa Yang Akan
Jadi Menjelang Trompet Yang
Ketujuh Berbunyi.
Wahyu Pasal 10.
tampak seorang malaikat perkasa lain-nya turun dari langit, berjubahkan awan : dan suatu pelangi terdapat di atas kepa-lanya, dan mukanya seperti matahari, dan kaki-kakinya seperti tiang-tiang api : dan di dalam tangannya ia memiliki sebuah kitab kecil yang terbuka : dan 184 kaki kanannya berpijak di laut, dan kaki kirinya berpijak di darat, dan ia berteriak dengan suara besar, seperti apabila singa berteriak :”
“Adapun suara yang sudah kudengar dari langit itu berbicara lagi kepadaku, dan katanya, Pergilah dan ambillah ki-tab kecil yang terbuka di dalam tangan malaikat yang berpijak di laut dan di da-rat itu. Lalu pergilah aku kepada malai-kat itu sambil berkata kepadanya, Berilah kiranya aku kitab kecil itu. Maka katanya kepadaku, Ambillah dia, dan makanlah semuanya, maka ia itu akan memahitkan perutmu, tetapi di dalam mulutmu ia akan terasa manis seperti madu. Maka ku ambil kitab kecil itu di tangan malaikat itu, lalu ku makan semuanya; maka di mulutku manisnya seperti madu : tetapi segera setelah ku makan, perutku terasa pahit.”
(Kami telah mengabaikan ayat 4, karena ayat itu membicarakan tujuh guntur, dari hal suatu masalah yang telah diperintahkan kepada Yohanes supaya tidak ditulis, 185 dan yang tetap tak terungkapkan sampai hari ini).
“Malaikat perkasa” ini, yaitu dia yang “memijakkan kaki kanannya di laut dan kaki kirinya di darat”, dan yang memerintahkan kepada Yohanes supaya memakan kitab itu, sudah lama dipahami melambangkan pekabaran yang diberitakan baik di darat maupun di laut, di seluruh dunia, oleh William Miller dan pembantu-pembantunya, yang dimulai dalam tahun 1831 Tarik Masehi, (The Great Controversy, p. 331), dan yang mencapai puncaknya pada kekecewaan besar tahun 1844. (Masalah ini diuraikan selengkapnya di dalam buku
100 Traktat No. 6, Mengapa Binasa?).
Kegembiraan yang tak ada bandingannya dengan mana memikat seluruh pikiran bahwa Kristus akan datang dalam musim gugur tahun 1844, yang telah menguasai orang-orang percaya pada waktu itu, benar-benar adalah “manis seperti madu” bagi mereka. Tetapi setelah jam yang dirindukan yang dinanti-nantikan itu tiba, dan gagal memenuhi harapan mereka 186 yang meluap-luap itu, maka harapan yang manis itu telah berbalik menjadi kekecewaan yang “pahit”. Demikian hal itu terjadi bukan hanya karena mereka harus lebih lama lagi tinggal di bumi yang terkutuk dan tak beruntung ini, yaitu bumi yang penuh dosa dan kesengsaraan kematian, gantinya memasuki suatu tanah dimana “tidak ada lagi kematian, atau kesukaran, atau tangisan ..... ataupun sesuatu keluhan” (Wahyu 21 : 4), melainkan juga karena mereka telah diolok-olok oleh rombongan besar orang jahat yang membenci akan pendapat bahwa dunia pada waktunya akan sampai kepada ajalnya.
Dalam harapan kegembiraan yang besar dan kekecewaan yang pahit ini genaplah ramalan : “Ia itu di dalam mulutku manis seperti madu : tetapi segera setelah ku makan dia, maka perutku terasa pahit.”
Wahyu pasal 10, ayat 10, sebagaimana kita saksikan, telah membawa kita kembali kepada kekecewaan besar dalam tahun 1844. Juga kita saksikan bahwa ayat 187 10 dan ayat 11 adalah berangkai. Oleh sebab itu jelaslah, bahwa ayat 11 itu akan membawa kita terus ke peristiwa besar yang berikutnya yang akan jadi, dan yang akan membawakan terang, harapan, dan kebesaran hati kepada sidang Allah yang kecewa di waktu itu. Yohanes mengatakan, dari hal ramalan malaikat itu mengenai apa yang akan menyusul :
101
Wahyu 10 : 11 berbunyi : “Lalu katanya kepadaku, Engkau harus bernubuat lagi di hadapan banyak kaum, dan bangsa-bangsa, dan bahasa-bahasa, dan raja-raja.”
Untuk membetulkan kekeliruan mereka terhadap Daniel 8 : 14 nubuatan firman Allah menyatakan : “Engkau harus bernubuat lagi”; artinya, mengulangi lagi khotbah dari hal kedatangan Kristus ke bumi. Tetapi karena umat-Nya pada waktu itu sudah sangat kacau dan tidak mampu untuk menserasikan kata-kata Firman, maka Allah telah mengutus ke tengahtengah mereka itu, seseorang, yaitu Ellen G. Harmon, yang berusia tujuh belas tahun, 188 untuk menjadi juru bicaranya kepada mereka. Kepadanya telah dikaruniakan sebuah khayal yang berkenan dengan kekecewaan besar itu dan pengumpulan buah-buah pertama, yaitu 144.000 itu. (Lihat buku Early Writings, pp. 13 - 20).
Pada waktu itulah dipahami bahwa pernyataan, “tempat kesucian itu akan dibersihkan”, bukan dimaksudkan bahwa Kristus akan membersihkan bumi dalam tahun 1844, melainkan bahwa untuk menggenapi Daniel 7 : 9, 10, Ia sudah akan membersihkan tempat kesucian surga. Peristiwa inilah yang membuka meteraimeterai itu dan membunyikan trompettrompet, dan yang sebagaimana telah kita saksikan, Yohanes telah di beritahukan bahwa ia itu akan jadi “kemudian”. (Lihat Wahyu, pasal 4 dan pasal 5). Oleh memiliki pengertian ini, maka suatu kelompok kecil orang-orang percaya, yang kemudian telah menamakan diri mereka “Seventhday Adventist” telah mengorganisasikan diri dalam sebuah badan, lalu bergerak maju dengan penuh semangat dengan harapan untuk menghimpun “hamba-hamba 189 Allah kita” (144.000 itu). Pekerjaan ini tampaknya bagi mereka merupakan suatu tugas yang sangat besar, dan tugas mereka ini telah menghadapi penghinaan dari semua pihak.
102
Pada waktu jumlah anggota-anggota sidang yang hidup yang sejak lama dicaricari itu (144.000) pada akhirnya dicapai dalam tahun 1917, tetapi dunia baru sedikit saja yang dijamah oleh pekabaran, maka para pemimpin organisasi gereja menjadi bingung, namun hanya karena mereka gagal melihat akan kebenaran bahwa ada terdapat di dalam “pukat” (sidang Injil) ikan yang baik maupun ikan yang jelek, sesuai yang diramalkan oleh Kristus :
“Kerajaan surga itu adalah seumpa-ma sebuah pukat, yang dilabuhkan orang di laut, lalu mengumpulkan berjenis-jenis ikan : yang setelah penuh (setelah jumlah yang diharapkan dicapai), lalu di-tarik orang naik ke pantai, lalu mereka itu duduk, lalu dihimpunkannya yang baik ke dalam keranjang-keranjang, tetapi 190 yang jelek itu dibuangkannya.” Matius 13
Akibatnya mereka mulai ragu-ragu dan mempermasalahkannya lalu dengan berbagai cara mereka menghilangkan semua pendirian mereka yang semula, baik mengenai jumlah angka orang-orang yang harus dihimpun itu maupun mengenai generasi yang akan menyaksikan akhir sejarah, sehingga sampai pada hari ini pokok masalah 144.000 itu bagi mereka telah menjadi salah satu dari pokok-pokok masalah Alkitab yang banyak diperdebatkan dan sangat membingungkan.
Tetapi kini pekabaran yang terdapat di dalam buku Tongkat Gembala mengungkapkan bahwa 144.000 itu (mereka yang akan didapati tanpa tipu di mulutnya), yaitu jumlah hamba-hamba buah-buah pertama yang telah ditentukan untuk dimeteraikan di dalam sidang, mereka itu akan dipisahkan dari antara orang-orang yang tidak bertobat. Sehingga jumlah yang akan dimeteraikan akan jauh lebih kecil daripada jumlah keanggotaan gereja, ini 191 secara menyedihkan mengingatkan kita bahwa di dalamnya terdapat banyak sekali “lalang”.
Karena maksud dan harapan yang tertinggi organisasi Masehi Advent Hari Ketujuh sejak mulanya ialah menghimpun
103 mereka yang 144.000 itu, maka hendaknya masalah ini lebih dikenal mereka daripada setiap pokok masalah yang lain, supaya mereka “siap selalu untuk memberikan suatu jawaban kepada setiap orang yang menanyakan” “alasan” dari “pengharapan” yang ada pada mereka. 1 Petrus 3 : 15. Namun demikian, dengan menyesal, tidaklah demikian itu halnya; sebaliknya, mereka bahkan lebih tidak mengetahui apa dan siapa mereka yang 144.000 itu daripada mungkin terhadap setiap kebenaran Alkitab yang terkenal lainnya. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, banyak dari guru-gurunya yang sedang menolak menyambut “ungkapan yang sangat mengejutkan” ini (Testimonies to Ministers, p. 445), mereka kini sedang terus menekankan bahwa mengetahui akan pokok 192 masalah itu adalah tidak penting bagi keselamatan jiwa mereka. Dan karena itulah mereka sedang mengatakan bahwa mereka adalah “kaya, dan telah meningkat kekayaannya, sehingga tidak memerlukan apa-apa lagi”, dengan demikian berarti bahwa Allah telah menempatkan suatu pokok masalah yang tidak penting di dalam Alkitab! Dengan demikian mereka sendiri menetapkan nasibnya untuk tetap tidak terkasihan (tidak bahagia), dan sengsara (susah), dan miskin (kekurangan kebenaran), dan buta (digelapkan), dan telanjang (tanpa kebenaran Kristus), sehingga dengan sendirinya menolak kata-kata yang berbunyi : “Aku menasihatkan kepadamu supaya membeli kepada-Ku emas yang teruji di dalam api, supaya engkau kaya; ...... dan supaya menggosok matamu dengan salep mata, supaya engkau boleh
Dan lebih menyedihkan lagi, walaupun sesudah ditunjukkan dengan jelas kepada saudara-saudara kita bahwa mereka yang 144.000 itu adalah hanya “buah-buah 193 pertama”, dan bahwa buah-buah kedua masih harus dihimpun lagi, mereka tetap menolak untuk menyadari, mereka tetap bersikeras berjalan mengikuti langkahlangkah berbahaya yang sejak semula telah membawa setiap pemimpin ke dalam
104 lubang pada setiap pengungkapan suatu pekabaran baru.
Akibat kegagalan, dengan sendirinya sebagai urutan berikutnya, untuk memahami kenyataan, bahwa ”malaikat itu” mengatakan, “engkau harus bernubuat lagi ke hadapan banyak umat, dan bangsabangsa, dan bahasa-bahasa, dan raja-raja” (Wahyu 10 : 11), tetapi bukan ke hadapan semua, maka mereka dengan buta terus menekankan, bahwa mereka bertugas dan bersedia untuk “bernubuat” ke hadapan semua; artinya, untuk menyelesaikan pekerjaan di seluruh dunia. Dan ini dilakukan walaupun dengan kondisi Laodikea mereka yang menyedihkan itu!
Lambang trompet itu kini telah menghantarkan kita kepada masa pengumpulan “buah-buah pertama” itu (144.000 itu). 194 Buah-buah pertama menunjukkan akan adanya buah-buah kedua, karena dengan sendirinya tidak mungkin ada buah-buah pertama jika tidak ada yang kedua. Oleh sebab itu sebagaimana adanya suatu penugasan nubuatan bagi pengumpulan buah-buah pertama dari antara “banyak bangsa”, maka demikian itu pula harus terdapat suatu penugasan nubuatan bagi pengumpulan buah-buah kedua dari antara “semua bangsa”. Lagi pula, karena terdapat suatu peristiwa dan suatu pekabaran penting pada permulaan pengumpulan “buah-buah pertama” itu dari antara banyak bangsa, semenjak tahun 1844, maka demikian harus ada suatu peristiwa penting dan sebuah pekabaran yang menandai permulaan pengumpulan buahbuah kedua, yaitu rombongan besar orang banyak itu, dari antara segala bangsa. Keterangan yang masuk akal ini membawa kita kepada nubuatan Yesaya yang berbunyi :
“Karena oleh api dan oleh pedang-Nya Tuhan akan menghukum semua manu-sia : maka besarlah kelak pembunuhan 195 Tuhan itu.... Dan Aku akan mengutus orang-orang yang luput dari mereka itu kepada segala bangsa,.... yang belum pernah mendengar kemasyhuran nama-Ku, yang juga belum pernah melihat kemuliaan-Ku; maka mereka akan mem-beritakan kemuliaan-Ku di antara bang-sa-bangsa Kapir.” Yesaya 66 : 16, 19.
Tindakan yang terdapat di dalam ayat 20 menunjukkan, bahwa pembunuhan di dalam ayat 16 itu menimbulkan pemisahan buah-buah pertama di dalam sidang. Memang benar, sekiranya bukan sidang yang mengalami pembantaian itu, maka orang-orang yang luput dari antaranya tidak akan diutus Allah kepada segala bangsa (orang-orang Kapir), karena mereka sendiripun adalah orang-orang Kapir, bukan orang-orang Kristen, dan Tuhan tidak mungkin mengutus orang Kapir kepada orang Kapir! Dan karena mereka yang luput itu harus pergi kepada bangsa-bangsa Kapir untuk memberitakan kemasyuran nama-Nya kepada mereka, maka jelaslah pembantaian itu akan jadi sebelum masa kasihan berakhir, dan pem- 196 bantaian itu tidak akan melukai orangorang yang pada waktu itu belum mengenal kemasyuran nama-Nya.
Yesaya 66 : 20 juga mengungkapkan, bahwa orang-orang yang luput dari pembantaian Tuhan itu akan diutus, bukan kepada “banyak” melainkan kepada “se- mua bangsa”. Dan juga diungkapkannya bahwa bukan hanya 144.000 jiwa yang dibawanya, melainkan mereka yang luput itu akan menghantarkan “semua” “sauda- ra-saudara mereka bagi suatu persem-bahan kepada Tuhan keluar dari segala bangsa dengan menunggang kuda, dan di dalam kereta-kereta, dan di dalam on-ta yang berpelana, dan di atas bagal dan kuda sembrani, ke bukit kesucian-Ku Yerusalem, demikianlah firman Tuhan, seperti bani Israel membawakan suatu persembahan di dalam bejana yang suci ke dalam rumah Tuhan.” Yesaya 66 : 20.
Wahyu 11 : 1 : “Maka diberikan ke-padaku sebuah buluh yang seperti tong-kat : maka bangkit berdirilah malaikat itu mengatakan, Bangkitlah, dan ukurlah 106 bait Allah itu, dan medzbah itu, dan me-reka yang berbakti di dalamnya.”
Walaupun ayat yang terakhir (ayat 11) dari pasal 10 itu membawa kita kepada berdirinya organisasi Masehi Advent Hari Ketujuh, dan kepada penugasan untuk pergi kepada “banyak bangsa”, namun ia itu tidak mengungkapkan pekabaran yang harus diberitakan oleh organisasi gereja. Dengan demikian, maka pasal kesebelas adalah kelanjutan dari pasal yang kesepu- luh harus akan mengungkapkannya.
Selama masa periode trompet yang keenam tidak terdapat satupun kaabah yang nyata. Dengan demikian pengukuran (Wahyu 11 : 1) itu hanya dapat menunjuk kepada sebuah kaabah rohaniah yang tersusun dari batu-batu yang hidup (orangorang suci), seperti yang dilukiskan di dalam Efesus 2 : 20 - 22, atau kepada sebuah lambang dari kaabah samawi. Dalam setiap hal, maka kalimat, “Ukurlah ..... mereka yang berbakti di dalamnya”, tentu secara simbolis berarti menghitung jumlah mereka, karena orang-orang yang berbakti 107 bukanlah diukur melainkan dihitung jumlahnya. Melihat akan kenyataan ini, maka kita terpaksa menyimpulkan, jika tidak ditunjukkan sebaliknya bahwa kaabah, medzbah, dan orang-orang yang berbakti itu, tentu masing-masingnya melambangkan suatu kelas orang-orang percaya. Dan ketiga-tiganya harus dapat diukur (dihitung jumlahnya) sesudah kekecewaan besar dalam tahun 1844, dan selama masa pergerakan dari Masehi Advent Hari Ketujuh.
Mengingat bahwa di dalam terdapat anggota-anggota yang “baik” dan anggotaanggota “jelek”, sangat jelaslah pengukuran, atau penghitungan, orang-orang yang berbakti ini adalah tak lain dari suatu pekerjaan pemeriksaan dan penilaian kesetiaan mereka terhadap kebenaran. Sebab itulah suatu pekerjaan untuk mempertahankan di dalam buku-buku hanya namanama mereka yang bertahan sampai akhir dan yang terukur sesuai dengan standar 107 ukuran penilaian -- yaitu tabiat Kristus. Oleh sebab itu, maka tak dapat dibantah, bahwa pengukuran, atau penghitungan 199 itu menggambarkan pekerjaan dari suatu pemeriksaan hukum.
Dengan demikian ajaran mengenai pemeriksaan hukum, bersama-sama dengan ajaran mengenai pengumpulan dan penghitungan mereka yang 144.000 itu, merupakan kebenaran sekarang yang diperuntukkan kepada gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dalam tahun 1844. Dan kedua kebenaran besar ini sampai kepada tambahan pekabaran bagi zaman ini (Early Writings, p. 277), sudah diberitakan oleh gereja Masehi Advent Hari Ketujuh “ke hadapan banyak umat, dan bangsa-bangsa, dan bahasa-bahasa, dan raja-raja.”
“Pemeriksaan hukum” memutuskan perkara-perkara dari mereka yang mengaku beriman kepada Allah, dan yang sebagai akibatnya nama-nama mereka telah tercatat di dalam buku-buku (Daniel 7 : 10), tetapi sebagian dari mereka tidak bertahan sampai kepada akhirnya. Pemeriksaan hukum itu menentukan nama-nama mana yang akan dipertahankan dan mana yang harus dihapus. Dengan demikian bukan 200 sampai pemeriksaan itu selesai, tempat kesucian dibersihkan dari para anggota yang tidak patut, buku-buku akan menunjukkan jumlah yang tepat nama-nama yang akan dipertahankan dan dianggap pantas bagi hidup yang kekal.
Tetapi, bagian yang terpenting dari pekerjaan ini, bukannya penghitungan melainkan pemisahan -- yaitu duduknya sidang pengadilan untuk mengumpulkan, secara kiasan”, yang baik ke dalam keranjang, tetapi yang jelek dibuang dari “pukat” (Matius 13 : 48), yang berisikan 108 orang-orang mati semenjak dari zaman Adam sampai kepada tahun 1844, apabila pukat itu kembali dicampakkan untuk menangkap 144.000 orang-orang suci yang hidup itu.
Pemeriksaan hukum terhadap orangorang mati dengan sendirinya terjadi di dalam kaabah surga saja, tetapi sebaliknya pemeriksaan hukum terhadap orangorang hidup akan jadi baik di dalam kaabah surga maupun di dalam kaabah di bumi. Sementara catatan-catatan disusun 201 bagi buku-buku di dalam kaabah surga, maka orang-orang harus diperiksa bagi pemisahan di dalam kaabah di bumi (Matius 22 : 11 - 13). (Lihat Maleakhi 3 : 1 - 3). Dan karena pengukuran itu melambangkan pekerjaan yang sama, maka ia itu membawa kepada kesimpulan bahwa “kaabah”, “medzbah”, dan “mereka yang berbakti di dalamnya itu” secara simbolis harus melambangkan tiga kelas orangorang yang akan diadili.
Kaabah dan medzbah, yaitu bendabenda mati, harus menunjukkan sifat dari dua kelas orang-orang suci yang tak bernyawa -- yaitu dua kelas orang-orang suci yang sudah mati. Dan lagi, sebuah medzbah, jelas tidak mungkin dapat didirikan di dalam kaabah sebelum kaabah itu dibangun. Dan selanjutnya, dalam bentuk ia itu adalah jauh lebih kecil daripada sebuah kaabah. Jadi, dengan sendirinya, ia itu harus melambangkan sebuah kelas orang-orang suci yang bukan saja datang sesudah mereka yang disifatkan oleh kaabah itu melainkan juga yang jauh lebih kecil bandingannya.
202Dengan demikian kaabah itu, sebagai benda yang pertama dan yang terbesar, harus melambangkan badan organisasi orang-orang benar yang sudah mati yang pertama dan terbesar, yaitu mereka semenjak dari zaman Adam sampai kepada permulaan pehukuman dalam tahun 109 1844. Sebaliknya medzbah, sebagai sebuah benda yang khusus dan lebih kecil, harus melambangkan suatu yang khusus dan badan organisasi yang lebih kecil dari orang-orang benar yang sudah mati, yaitu orang-orang benar yang mati semenjak dari tahun 1844 dan seterusnya, dan yang akan bangkit dalam kebangkitan istimewa dari Daniel 12 : 2 (Early Writings, p. 285).
Mereka yang “berbakti di dalamnya” itu merupakan orang-orang suci yang hidup yang harus “diukur”, maka mereka itu hanya 144.000 itu saja -- yaitu mereka yang harus dikumpulkan oleh organisasi gereja untuk diobahkan semenjak dari tahun 1844.
Wahyu 11 : 2 : ”Tetapi pekarangan yang di luar kaabah supaya dibiarkan, 203 dan janganlah mengukur dia; karena ia itu diberikan kepada orang-orang Kapir : dan kota suci itu akan dipijak-pijak me-reka empat puluh dua bulan lamanya.”
Tetapi mengapakah membiarkan pekarangan yang di luar itu? Mengapa tidak mengukurnya juga? Karena pekarangan itu adalah bagian dari bangunan gedung, maka ia itupun harus melambangkan orang-orang suci itu. Sebab itu jelaslah ia itu melambangkan “perhimpunan besar orang-orang, yang tak seorangpun dapat menghitung (mengukur), yang berasal dari segala bangsa, dan segala suku, dan semua kaum, dan segala bahasa” (Wahyu 7 : 9) -- yang terakhir yang datang dari antara bangsa-bangsa Kapir. 'Pekarangan' itu, dengan lain perkataan, adalah melambangkan penuaian buah-buah kedua yang tak terukur (tak terhitung jumlahnya) yang dibawa masuk sesudah penuaian buahbuah pertama yang terukur (terhitung jumlahnya) itu -- yaitu mereka yang 144.000 itu. Ia itu tidak diukur (diperiksa), karena ia itu melambangkan orang-orang 204 yang di antaranya tidak terdapat “yang jelek” untuk dibuang; karena mereka itu dihimpun sesudah penyucian kaabah yang di surga (Daniel 8 : 14) -- yaitu sesudah pehukuman terhadap orang-orang mati 110 -- sesudah pemisahan “yang jelek” dari antara “yang baik” di dalam sidang, sebagaimana yang dilukiskan oleh perumpamaan mengenai pukat (Matius 13 : 47, 48). Mereka adalah orang-orang yang di sebut, “umat-Ku” (Wahyu 18 : 4) yang akan dipanggil keluar dari Babel, dan yang tidak terdapat seorang najispun di antara mereka (Yesaya 52 : 1), yang datang masuk ke dalam sidang Allah yang hidup dan yang sudah disucikan. (Bagi penjelasan yang lebih mendalam terhadap masalah pemeriksaan hukum ini, bacalah buku kami Traktat No. 3, Penuaian).
“Empat puluh dua bulan” (dengan mengambil 30 hari untuk sebulan, dan memperhitungkan 1 hari untuk 1 tahun -- Yehezkiel 4 : 6), melambangkan 1260 tahun masa periode nubuatan yaitu tahun 538 TM sampai tahun 1798 TM. (Bacalah Tongkat Gembala jilid 2, p. 142, 205 261, edisi bahasa Inggris). “Orang-orang Kapir” yang disebut di sini ialah mereka yang menginjak-injak “di bawah telapak kakinya” “kota suci itu” (sidang), -- suatu tindakan yang mengundang perhatian kita kepada ramalan Tuhan yang berkenaan dengan nasib orang-orang suci selama masa periode empat puluh dua bulan ini :
“Maka mereka itu (sidang) akan jatuh oleh sebab mata pedang, dan mereka akan dibawa pergi (dari tanah perjanjian itu) dengan tertawan ke dalam segala bangsa : dan Yerusalem akan dipijak-pijak oleh orang-orang Kapir, sampai genaplah segala masa orang-orang Kapir itu” (Lukas 21 : 24), yaitu saat apabila orang-orang Kapir itu akan keluar dari Yerusalem dan orang-orang Israel akan masuk ke dalamnya.
Pendudukan atas Tanah Perjanjian itu oleh orang-orang Kapir pada waktu ini telah di contoh oleh pendudukan orangorang Kapir dahulu atas tanah itu. Dan sewaktu orang-orang Israel kuno kembali dari Mesir menuju ke tanah perjanjian, 206 maka genaplah segala masa orang-orang Kapir pada waktu itu. Demikian pula halnya di waktu ini apabila Israel contoh saingan, yaitu mereka yang 144.000 hambahamba Allah yang tidak bercacad cela itu akan dimeteraikan lalu dibawa ke Gunung Sion, untuk berdiri di sana bersama-sama dengan Anak Domba itu, maka “segala masa dari orang-orang Kapir” di zaman ini akan kelak genaplah sudah.
(Kami lewati Wahyu 11 : 3 - 12 dari pembicaraan ini, karena ayat-ayat ini dibicarakan di dalam buku Tongkat Gembala,
Traktat No. 2 yang berjudul Paradoks, pp. 47-48 edisi revisi (bahasa Inggris); dan di dalam buku The Great Controversy, pp.
Wahyu 11 : 13 : “Pada jam yang sama itu juga terjadilah suatu gempa bumi yang besar, maka sepersepuluh bagian kota itu rubuhlah, dan dalam gempa bu-mi itu terbunuh tujuh ribu orang : dan yang sisanya itu ketakutanlah, lalu me-muliakan Allah yang di surga.”
207“Jam”, “gempa bumi”, “sepersepuluh bagian”, “kota itu”, “tujuh ribu” yang terbunuh, dan “yang sisa itu” harus mempertahankan kesempurnaan dari keseluruhan simbol trompet, sekaliannya itu sendiripun adalah simbolis.
Setelah mencapai puncak peristiwa yang dilambangkan, maka mereka “yang sisa itu ketakutanlah, lalu memuliakan Allah yang di surga”. Tak ada yang lain terkecuali mereka yang “memeliharakan hukum-hukum Allah, dan berpegang pada kesaksian Yesus Kristus” benar-benar dapat takut dan memuliakan Dia. Sesuai dengan itu dalam kaitannya sekarang ini mereka yang sisa itu tentu melambangkan orang-orang benar, yaitu “gandum”, yang berada di dalam bagian kota yang jatuh itu. Inilah yang membuat “tujuh ribu”
112 yang terbunuh itu melambangkan orangorang yang tidak benar, yaitu “lalanglalang” yang terdapat di dalamnya. Oleh sebab itu, maka sepersepuluh bagian itu melambangkan Sidang yang pertama sekali disucikan -- di dalam mana yang jelek, yaitu lalang dipisahkan dari yang baik, 208 yaitu gandum. Jadi, jelaslah, bahwa bagian kota itu yang sisanya dalam hal ini adalah melambangkan dunia Kristen yang sisanya -- dunia Kristen secara keseluruhan.
Dengan demikian “gempa bumi” itu terjadi bukan di seluruh dunia Kristen, melainkan di seluruh sidang dari mana dipisahkan buah-buah pertama itu -- mereka yang 144.000 itu. Dan karena gempa bumi adalah suatu kegoncangan, maka gempa yang satu ini melambangkan suatu kegoncangan yang terjadi di dalam sidang.
Jauh di masa lalu oleh perantaraan Roh Nubuat (Early Writings, p. 270) gereja Masehi Advent Hari Ketujuh telah diberi amaran akan hal kegoncangan ini. Dan kini dalam grafik nubuatan yang diungkapkan dapatlah dilihat akibat bahayanya -- yaitu kebinasaan semua orang yang tidak takut dan tidak memuliakan Allah. Dengan menghitung secara simbolis angka tujuh ribu, maka “pembunuhan” di dalam sidang ini meliputi unsur yang tidak berkeluh kesah dan menangis karena segala kekejian (Yehezkiel 9 : 4), dan yang 209 sebagai akibatnya gagal memperoleh tanda (Yehezkiel 9 : 4), atau meterai (Wahyu 7 : 3 - 8) penyambutan Allah. Semua yang membentuk kelas orang-orang ini akan di tumpas, meninggalkan mereka yang sisa, yang “ketakutan” -- orang-orang yang sudah berkeluh kesah dan menangis karena segala kekejian, dan yang sebagai akibatnya sudah memperoleh tanda atau meterai, dan lolos dari pembantaian itu. Inilah mereka yang “akan menyanyi bagi kebesaran Tuhan” (Yesaya 24 : 14) -- “me-
113 muliakan Allah di surga.”
Pasal 10 dan 11 dari buku Wahyu meliputi suatu rangkaian peristiwa-peristiwa yang berbeda daripada peristiwaperistiwa yang terdapat di dalam pasal 9. Ayat 13 dari pasal 11 itu menghantarkan kita hanya sampai kepada masa kegenapan dari pembubuhan tanda dan pembantaian (Yehezkiel 9) di dalam sidang, atau sampai kepada permulaan Seruan Keras dari Pekabaran Malaikat Yang Ketiga. Pasal 9, ayat 20 dan 21, membawa kita selanjutnya kepada selesainya pekerjaan Injil dan pengumpulan orang-orang suci, 210 “celaka yang kedua (trompet yang keenam) sudah berlalu; maka tengoklah, celaka yang ketiga itu datang dengan segeranya”
Trompet Yang Ketujuh.
Wahyu 11 : 15 : “Maka malaikat yang ketujuh itu meniupkan trompetnya; lalu kedengaranlah suara-suara besar di surga, mengatakan, Semua kerajaan di dunia ini akan menjadi kerajaan-kerajaan Tuhan kita, dan dari Kristus-Nya; maka Ia akan memerintah untuk selama-lamanya.”
Peniupan trompet yang ketujuh mengumumkan bahwa “kerajaan-kerajaan dunia ini menjadi kerajaan-kerajaan Tuhan kita”, sama seperti yang dijelaskan malaikat itu : “Pada masa suara malaikat yang ketujuh, apabila ia itu kelak mulai meniupkan trompetnya, maka rahasia Allah sudah akan selesai, seperti yang sudah dinyata-kan-Nya kepada hamba-hamba-Nya para 211 nabi.” Wahyu 10 : 7. Demikianlah kembali terlihat bahwa sementara peristiwaperistiwa dari trompet yang keenam mencapai akhirnya dan peristiwa-peristiwa dari trompet yang ketujuh dimulai,
114 maka pekerjaan Injil (rahasia Allah) akan diselesaikan.
Wahyu 11 : 16 - 18 : “Lalu dua puluh empat tua-tua yang duduk di kursi-kursi mereka di hadapan Allah itu, me-nundukkan wajah mereka, bersujud menyembah Allah, sambil mengatakan, Kami mengucapkan syukur kepada-Mu, ya Tuhan Allah Yang Maha Kuasa, yang ada sekarang, dan yang dahulu ada, dan yang akan datang; karena Engkau telah mengambil bagi-Mu kuasa-Mu yang be-sar, dan Engkau telah memerintah. Dan bangsa-bangsa sudah naik amarahnya, tetapi murka-Mu sekarang datang, dan saat bagi orang mati itu supaya mereka diadili, dan supaya Engkau memberi-kan pahala kepada hamba-hamba-Mu para nabi, dan kepada orang-orang suci, dan kepada mereka yang takut akan nama-Mu, baik kecil maupun besar; dan 212 akan membinasakan mereka yang mem-binasakan bumi.”
Sebagaimana dilukiskan pada halaman depan dari buku Traktat ini, “dua puluh empat tua-tua” itu adalah bagian dari sidang pengadilan pemeriksaan hukum yang di dalam tempat kesucian surga (bagi penjelasan yang lebih lengkap mengenai “tua-tua” itu, bacalah Tongkat Gembala Jilid 2, pp. 187-221, edisi bahasa Inggris). Sesuai dengan itu, maka kata-kata yang mereka ucapkan pada saat malaikat yang ketujuh mulai meniupkan trompetnya, mengungkapkan bahwa pekerjaan pengadilan dari “Dia yang tak berkesudahan hari- Nya” (Daniel 7 : 9; Wahyu 4 : 3), dari Anak Domba itu (Wahyu 5 : 6), dari malaikatmalaikat yang banyaknya “sepuluh ribu kali sepuluh ribu, dan beribu-ribu” (Wahyu 5 : 11), dan dari “para tua-tua” dan “binatang-binatang itu”, sedang akan berakhir. Kata-kata mereka itu mengungkapkan juga bahwa saat bagi kebangkitan -- saat bagi orang-orang suci menerima pahala kehidupan kekal mereka, dan bagi Kristus 213 untuk membinasakan orang-orang yang membinasakan bumi -- telah tiba. Oleh se-bab itu, jelaslah, bahwa “saat bagi orang-orang mati, agar mereka itu diadili” (Wahyu 11 : 18), ialah selama seribu tahun
115 millenium dan itulah pengadilan yang terakhir terhadap orang-orang jahat.
Wahyu 11 : 19, bagian pertama : “Maka terbukalah kaabah Allah yang di surga, lalu kelihatanlah tabut perjanjian-Nya itu di dalam kaabah-Nya.”
Kaabah yang di bumi yang ditiru dari kaabah yang di surga menunjukkan bahwa kaabah surga itu terbagi dalam dua ruangan yaitu Tempat Suci dan Tempat Yang Maha Suci. Pada hari pengampunan (pehukuman) di dalam kaabah di bumi, pintu yang menuju ke Tempat Yang Maha Suci terbuka dan pintu yang menuju ke tempat suci tertutup. Upacara ini merupakan contoh permulaan dari pengampunan (pehukuman) contoh saingan, apabila pintu yang menuju ke Tempat Yang Maha Suci di dalam kaabah surga terbuka dan jalan masuk ke Tempat Suci tertutup. Dengan 214 kata lain apabila pintu yang di dalam terbuka, maka pintu sebelah luar tertutup, dengan demikian membuat kedua ruangan itu menjadi satu ruangan saja (baca-
Early Writings, p. 42). Demikianlah karena tertutupnya kaabah itu selama sidang berlangsung, maka tidaklah mungkin bagi seseorang yang di luar untuk melihat “tabut perjanjian-Nya itu”, sampai setelah pehukuman itu selengkapnya selesai, yaitu apabila pintu yang tertutup itu akan kembali dibuka, seperti yang tertulis di
Dengan sendirinya, kegenapan katakata nubuatan yang berbunyi, “terbuka- lah kaabah Allah yang di surga, lalu kelihatanlah tabut perjanjian-Nya itu di dalam kaabah-Nya” (Wahyu 11 : 19), kemudian, seperti halnya ia itu pada waktu permulaan sidang Pehukuman, menjadi kenyataan sesudah pehukuman itu berakhir; artinya, sesudah masa kasihan berakhir, apabila 116 pintu kaabah itu terbuka. Dan sesudah sidang pengadilan itu meninggalkan kaabah, maka “salah satu dari binatang-bina- 215 tang itu” akan memberikan “kepada tujuh malaikat itu tujuh buah cawan keemasan yang penuh dengan murka Allah” (Wahyu 15 : 7), maka kaabah itu akan “dipenuhi dengan asap dari kemuliaan Allah, dan dari kuasa-Nya; dan tak seorangpun” akan dapat 'mampu masuk ke dalam kaabah itu, sampai tujuh celaka dari ketujuh malaikat itu' kelak 'digenapi'. Wahyu 15 : 8. (Untuk penjelasan selanjutnya mengenai Wahyu 15 bacalah buku Tongkat Gembala jilid 2, pp. 170-173, edisi bahasa Inggris).
Dan akhirnya, kenyataan bahwa trompet yang ketujuh tidak akan dibunyikan sampai setelah penginjilan selesai, adalah bukti kenyataan yang mengikat bahwa masalah trompet-trompet ini membicarakan kebinasaan orang-orang jahat, yaitu mereka yang masa kasihannya berakhir karena penolakan mereka melawan sesuatu pekabaran yang dikirim Allah kepada mereka.
Mungkin terdapat seseorang yang telah menaiki segala ketinggian wahyu Ilahi yang ada sekarang, yang memahami 216 sepenuhnya gambaran mengenai pertikaian dari segala zaman sebagaimana ia itu muncul terlihat di hadapan tahta pengadilan itu, tetapipun ia tidak menyadari bahwa pada penyambutan hatinya akan pekabaran dari hal jam itulah bergantung nasib kekalnya. Jikalaupun ada seseorang yang sedemikian ini, yang tetap tidak dapat dibujuk oleh amaran yang terakhir ini, maka “tiada juga dapat (ia) diyakini, jikalau seseorang bangkit dari antara orang-orang mati sekalipun”. Lukas 16 : 31. Ia akan kelak menjalani pengalaman tragis yang tak tergambarkan : Namanya akan dihapuskan dari dalam semua kitab. Hidupnya akan hilang ke tangan para 117 pembinasa. Jiwanya akan kelak layu karena “tangisan dan keretak gigi”. Matius 8 : 12. Ia akan hancur dari bumi ini -- hilang untuk selama-lamanya.
Namun demikian, barangsiapa yang yakin, dan berjalan dalam terang, ia akan mendapatkan pengalaman kegembiraan yang tak terucapkan : ia akan memperoleh bubuhan “tanda” itu (Yehezkiel 9 : 4), yaitu “meterai” (Wahyu 7 : 2, 3) persetujuan 217 Allah. Dosa-dosanya akan dihapuskan. Namanya akan ditulis secara tak terhapuskan di dalam kitab kehidupan Anak Domba. Ia akan menyaksikan bangkit berdirinya Mikhael dan melepaskan dia dari “masa kesukaran besar yang sedemikian itu belum pernah jadi”. Daniel 12 : 1. Ia akan kembali di tengah-tengah umat tebusan Tuhan, lalu datang ke Sion dengan “Nyanyian-nyanyian dan kegembiraan yang kekal di atas” kepalanya. Ia “akan memperoleh sukacita dan kesenangan, maka kesusahan dan keluh kesah akan berlalu” Yesaya 35 : 10. Ia akan mewarisi bumi -selamat untuk selama-lamanya!
* * *
“Jikalau Tuhan itu Allah, ikutilah Dia, tetapi jikalau kiranya Baal, maka ikutilah
(Semua huruf miring dan tebal dari kami)
218INDEKS ALKITAB
KEJADIAN :
KELUARAN :
IMAMAT :
ULANGAN :
1 RAJA-RAJA :
2 RAJA-RAJA :
2 TAWARIKH :
AYUB :
118
MAZMUR :
YESAYA :
YEREMIA :
YEHEZKEL :
DANIEL : 219 YOEL :
MIKHA :
ZAKHARIA :
MALEAKHI :
204
MARKUS :
LUKAS :
YOHANES : 220 KISAH :
ROMA :
1 KORINTUS :
EFESUS :
1 TESALONIKA :119
2 TESALONIKA :
IBRANI :
1 PETRUS :
2 PETRUS :
WAHYU :
221135 222 120
223Surat dialamatkan kepada:
Universal Publishing Association
(Kantor Pusat)
Waco, Texas 76714
U S A
Universal Publishing Association
(Divisi Indonesia)
P. O. Box 6965/JAT-PK
Jakarta 13710
e-mail:
gadsdaid@yahoo.com
224